Sekolah Perlu Rangkul Pelaku Tawuran

In Metropolis
Psikolog dan Pendiri Lentera Insan Shild Development, Fitriani F. Syahrul.
Psikolog dan Pendiri Lentera Insan Shild Development, Fitriani F. Syahrul.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Aksi tawuran antarpelajar di Kota Depok di awal tahun ini kembali marak. Kejadian ini cukup mengkhawatirkan pihak sekolah dan orang tua.

Psikolog dan Pendiri Lentera Insan Shild Development, Fitriani F. Syahrul menilai, banyak faktor yang menjadi pemicu tawuran antar pelajar.

Di antaranya, faktor klasik dari dulu hingga sekarang, yaitu rata-rata umumnya anak-anak yang terlibat tawuran kegiatannya tidak terlalu padat.


“Banyak waktu luang, orang tuanya juga kurang memberikan atensi terhadap hal-hal yang positif atau emosional,” ungkap Fitriani yang juga Dosen Fakultas Psikologi dan Pendidikan Universitas Al-Azhar Jakarta ini.

Fitriani menilai, anak-anak remaja itu perlu berdialog dengan orang tua, atau mungkin adanya kegalauan yang ingin didiskusikan. Sementara, kedua orang tuanya sibuk, tidak punya waktu yang cukup untuk berdialog, atau mungkin sering marah-marah dan menuntut prestasi, sehingga mereka merasa tidak nyaman berada di dalam keluarga.

“Faktor utamanya, bagi anak-anak yang dalam hal akademis kurang. Misalnya sering dimarahi di sekolah, rankingnya di bawah. Faktor lainnya perkembangan teknologi, dan saat ini mungkin lagi marak game online berkonten kekerasan,” ungkapnya.

Hal itu juga, jadi memicu adrenalin mereka untuk menerapkan apa yang mereka mainkan dalam game tersebut. Jadi, yang seharusnya itu hanya game,namun ketika mereka ada sedikit masalah maka mereka langsung teringat pada kekerasan ini ada, dan menjadi salah satu jalan untuk menyelesaikan konflik itu.

“Dampak yang terjadi juga tergantung dari lingkungan yang ada, apabila lingkungannya itu cukup proporsional menghadapi persoalan ini, maksudnya sama-sama saling menyadari kesalahannya. Misalnya sekolah terlalu ketat aturan dan pelajarannya, kurang ada ekskul untuk emngembangkan minat dan bakat siswa, sehingga waktu anak-anak banyak yang tidak terisi,” tuturnya.

Dirinya juga mengungkapkan, orang tua perlu menyadari kekurangannya, dalam hal meluangkan waktu bagi anak-anaknya yang membuat mereka tidak nyaman dirumah. Jika itu semua sudah bisa ditangani, maka dampak psikologis itu akan menemukan jalan keluarnya. Tetapi kalau tidak, justru akan semakin parah.

“Misal pelajar ikut tawuran dan dikeluarkan dari sekolah, ini justru mereka akan merasa dikucilkan, dirumah juga pasti dimarahi,” ucap Fitriani kepada Radar Depok.

Akibatnya lanjut Fitriani, anak-anak seperti ini bisa tambah garang dan mencari teman-teman yang dapat menerima dia apa adanya atau bahkan yang dapat mengeluh-eluhkan dia jika dia jago. Atau justru dia bisa menjauh dari lingkungan jadi bisa depresi, karena semua orang menyalahkan dia.

Ia pun berharap, agar jika kejadian tawuran ini terjadi maka masing-masing pihak diharapkan dapat saling introspeksi baik dari pihak orang tua maupun pihak sekolah sebagai pendidik.

“Tetapi sebaiknya, jika ada siswa yang ikut terlibat tawuran tidak perlu dikelurkan dari sekolah, cukup dirangkul dan diberikan pembinaan agar mereka menyadari kesalahannya, dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta tidak mengulangi kesalahannya yang sama,” katanya. (rd)

 

Jurnalis : Lutviatul Fauziah (IG : @lutviatulfauziah)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)

You may also read!

pemberian cairan disinfektan

490 Liter Cairan Konsentrat Disebar di Sawangan Baru

BERIKAN : Lurah Sawangan Baru, Cucu Suardi menyerahkan cairan konsentrat untuk pengurus RW di STAISKA

Read More...
artikel ketua RT

  Oleh : Adhy Winawan Ketua RT 9, RW1, Kelurahan Depokjaya, Kecamatan Pancoranmas Kota Depok Assalamualaikum wr.wb MELALUI rubik Surat Pembaca ini perkenakan saya

Read More...
belanja online di pasar tugu

Pasar Tugu Terapkan Sistem Belanja Online

INOVASI : Pasar Tugu di Jalan Raya Menpor No. 9 Palsigunung, Kelurahan Tugu, Cimanggis terapkan

Read More...

Mobile Sliding Menu