Membangkitkan Kesadaran Kolektif Guru di Pilkada Depok

In Ruang Publik

erik SMPN 17 Depok

 

Oleh : Erik Kurniawan, S.Sos., M.Pd

Guru ASN di SMPN 17 Depok

 

SEBAGAI guru yang mengampu mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) pada kelas 7 disemester genap ini, salah satu bab yang harus diselesaikan adalah bab III dengan judul “Aktivitas Manuasia dalam Memenuhi Kebutuhan”. Dalam konteks bermasyarakat, guru pada hakekatnya juga merupakan manusia yang berusaha untuk memenuhi segala macam kebutuhan hidup. Cara memenuhi kebutuhan hidup yaitu dengan melakukaan tindakan ekonomis. Jadi tindakan ekonomis adalah segala aktivitas manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya.


Tindakan ekonomis merupakan wujud dari motif yang ada pada masing-masing manusia. Motif adalah dorongan atau kekuatan yang ada dalam diri manusia untuk memelakukan tindakan atau kegiatan ekonimis. Ada beberapa macam motif yaitu : 1) motif untuk memenuhi kebutuhan, 2) motif untuk berbuat sosial, 3) motif untuk mendapatkan penghargaan, dan 4) motif untuk mendapatkan kekuasaan.

Dari beberapa motif yang telah disebutkan di atas, motif untuk memenuhi kebutuhan merupakan hal yang mendasar bagi seorang guru. Seperti pada umumnya manusia, guru juga ingin berusaha memenuhi kebutuhan guna mencapai kemakmuran. Salah satu moment yang tepat dalam rangka meningkatkan penghasilan guru adalah berperan aktif mensukseskan Pilkada (pemilihan kepala daerah) kota Depok. Maksud dari berperan aktif dan mensukseskan pilkada kota Depok yaitu guru perlu selektif dan kritis terhadap calon wali kota Depok. Menjatuhkan pilihan pada pasangan calon wali kota haruslah dengan pertimbangan bahwa calon wali kota tersebut peduli terhadap nasib guru.

Sadar akan memilih pasangan calon wali kota secara tepat dapat meningkatkan penghasilan seorang guru. Jikalau pasangan calon wali kota yang menang tersebut peduli dan perhatian terhadap nasib guru lalu kemudian menaikkan tambahan penghasilan (kesra)  guru, maka itulah yang di harapkan oleh rekan-rekan guru selama ini.  Memilih pasangan wali kota yang peduli terhadap nasib guru perlu didengungkan ke seluruh rekan-rekan guru se-kota Depok. Guru perlu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk lebih sensitif terhadap calon wali kota Depok yang akan maju bertarung di pilkada kota Depok tahun ini. Kesadaran kolektif adalah pemicu dasar bagi solusi terhadap masalah yang dihadapi.

Guru bukanlah sekedar kumpulan penjumlahan individu, tapi sebuah sistem yang terbentuk atas relasi antarindividu berdasarkan karakteristik. Karakter guru merupakan manusia-manusia terdidik yang dibekali ilmu dan pengetahuan. Selain ilmu dan pengetahuan, guru juga di tuntut memiliki kecerdasan sosial. Maka sesuai udang-undang, guru memiliki 4 kopetensi yaitu : 1) kopetensi pedagogik, 2) kopetensi kepribadian, 3) kopetensi profesional dan, 4) kopetensi sosial.

Pilkada kota Depok perlu menjadi tempat mengaplikasina apa yang dimiliki seorang guru. Banyak hal yang ada didiri seorang guru lalu diaplikasikan di ruang-ruang kelas tempat belajar mengajar, namun lupa menerapkannnya di lingkungan masyarakat. Contohnya seperti kemampuan guru membuat dan menganalis soal HOTS (hots merupakan singkatan dari Higher Order Thinking Skills. Jika diterjemahkan maka berarti “Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi”) layaknya di praktekkan dalam menganalisis calon-calon wali kota yang akan maju di pilkada kota Depok.

Selain itu, guru sering mendorong siswanya agar memiliki ketrampilan berpikir kritis. Dalam menjawab soal, guru memberi stimulus/rangsangan kepada siswa agar mampu memenyelesaikannya soal tersebut dengan cara berpikir kritis. Ketrampilan berpikir kritis yang sering diterapkan pada siswa baiknya dipakai guru untuk menganalisis calon wali kota yang akan maju di pilkada kota Depok. Penerapan mengasah ketrampilan berpikir kritis pada calon wali kota adalah dengan cara melihat track record-nya (rekam jejak). Track record adalah sebuah daftar catatan yang berisi kumpulan dari capaian nyata yang menggambarkan prestasi calon wali kota yang akan maju di pilkada kota Depok. Selain track record, baiknya guru menelisik lebih jauh bagaimana visi dan misi masing-masing pasangan calon wali kota Depok. Adakah visi misi tersebut berupaya meningkatkan kesejahteraan guru atau meningkatkan tambahan penghasilan (kesra) bagi guru.

Urain dan pembahasan di atas merupakan upaya saling mengingatkan untuk guru bangkit dan bersatu di pilkada kota Depok. Bersatunya guru merupakan salah satu kekuatan sosial politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh siapapun yang akan menjadi calon wali kota Depok. Maka keputusan bersama memilih calon wali kota depok yang peduli terhadap nasib guru merupakan sebuah keharusan. Kepada rekan-rekan seluruh guru se-kota Depok “Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”. Kepada calon walikota yang akan maju di pilkada kota Depok : “jangan anggap guru itu pekerjaan yang mudah sehingga engkau memandang kami rendah lalu enggan untuk memberi tambahan upah (baca : kesra guru). (*)

 

 

You may also read!

bersih-bersih masjid

3 Tempat Ibadah Sukmajaya di Semprot Disinfektan

MEDIA PEDULI : Petugas saat menyemprotkan disinfektan di rumah ibadah Masjid Al Awami RT 05/01

Read More...
ilustrasi virus korona size kecil

Ini Sebaran 2.738 Pasien Positif Korona di Indonesia

ILUSTRASI   RADARDEPOK, JAKARTA - Hingga Selasa (7/4) pukul 12.00 WIB, total ada 2.738 kasus virus Korona

Read More...
beras untuk warga tidak mampu

RW 29, Sukamaju Sebar 150 Paket Beras

SUPLAI BERAS : Ketua RW 29 Kelurahan Sukamaju, Heni Kuncorowati di dampingi Lurah Sukamaju Nurhadi

Read More...

Mobile Sliding Menu