Guru, Nasibmu Kini

In Ruang Publik

 

Oleh: Dian Salindri

Anggota Tim Komunitas Muslimah Menulis, Depok

Tinggal di Jalan Masjid Al-Mujahidin RT02/RW06, Kel Meruyung, Kec Limo, Depok 16515


 

TUBUH rentanya tidak menghalanginya tetap mengayuhkan sepedahnya berkilo-kilo meter jauhnya untuk menuju ke satu-satunya sekolah dasar di desanya. Lututnya yang terasa nyeri di setiap malam, tak menyurutkan rasa tanggung jawabnya sebagai guru. Di hatinya hanya ada keikhlasan untuk mendidik dan berkontrubusi terhadap desa dan tanah kelahirannya. Semua ia lakukan dengan maksimal walaupun negaranya seakan tak menghargai. Upahnya sebagai guru honorer sungguh jauh dari kata pantas jika disandingkan dengan pengorbanannya.

Gajinya yang jauh dari kata cukup, yang hanya sekitar Rp300.000,- sebulan membuatnya harus mengais rezeki  selepas ia mengajar. Hidupnya jauh dari kata sejahtera, sering ia harus berutang yang kadang ia pun tak mampu membayarnya. Tak ada perhatian dari pemerintah desa apalagi pemerintah pusat. Dia pun lelah untuk menggaungkan tuntutan kepada pemerintah karena tak pernah ada tanggapan. Sungguh miris jika ia merenungi nasibnya sehingga cukup baginya Allah yang akan membalas dengan pahala.

Kisah di atas adalah sedikit potret dari nasib guru di tanah air tercinta. Di desa terpencil yang seakan tak dilirik oleh sang pemangku kekuasaan. Masih banyak lagi kisah guru honorer yang harus berjuang untuk bisa hadir ke sekolah tempat ia mengajar. Hidupnya jauh dari fasilitas yang sering dituntut oleh anggota dewan. Keluhannya sering tak dihiraukan, suaranya seolah tenggelam di antara berita-berita yang hanya berupa pencitraan.

Rendahnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru sangat berbanding terbalik dengan masa kejayaan Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau memberikan gaji pada masing-masing guru sebesar 15 Dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Jika dikalkulasikan ke dalam rupiah nilainya mencapai Rp30.000.000,- dan tanpa memandang status guru tersebut PNS atau honorer. Tidak hanya nasib guru, di masa itu perhatiaan khalifah terhadap pendidikan sangat besar. Semua fasilitas pendukung pendidikan yang terbaik bisa dinikmati tanpa ada beban biaya. Maka tidak heran banyak dijumpai generasi yang cerdas luar biasa dan juga shaleh.

Sistem ini terus berlangsung selama berabad-abad dan terbukti selama 13 abad ketika Islam diterapkan secara kaffah, banyak lahir para cendikiawan yang kiprahnya sangat berpengaruh terhadap kemajuan peradaban dunia. Sampai-sampai majunya peradaban di negara Barat merupakan kontribusi para cendikiawan Muslim.

Mungkin di era ini banyak yang mempertanyakan, mengapa pada masa khalifah, guru bisa mendapat gaji sebesar itu? Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT. Dari seorang gurulah tercipta generasi-generasi penerus yang akan membentuk sebuah peradaban yang gemilang.

Sungguh jika saja pemerintah pada hari ini paham betapa pentingnya peran guru dalam menghasilkan generasi yang luar biasa, maka tidak akan ada lagi guru yang memiliki profesi ganda demi untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga tugasnya hanya fokus sebagai pendidik.  Tidak lagi ada guru yang harus menahan lapar karena tidak tercukupi kesejahteraannya. Suasana hatinya selalu bahagia ketika mengajar dan akan menularkan juga kebahagiaan itu kepada muridnya.  Tak ada lagi guru yang harus bersusah payah menuju tempatnya mengajar sampai ia kelelahan ketika sampai di tempatnya mengajar.

Akibat yang ditimbulkan dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru sangat berdampak pada dunia pendidikan yang akhirnya melahirkan generasi yang kacau balau. Yakni generasi yang mengalami krisis multi dimensi: Pertama, krisis ideologis. Lahir  dari generasi  yang sekuler, matrealistis dan hedonis, menjadi generasi yang individualis dan jauh dari ideologi Islam.

Kedua, krisis moral. Generasi yang tak lagi mengedepankan adab dan tak lagi peduli dengan norma-norma agama dan masyarakat.

Ketiga, krisis intelektual. Kini generasi muda hanya mengejar ilmu dunia dan abai dengan menuntut ilmu yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bahkan bisa sampai pada titik krisis jati diri, dengan banyaknya penyimpangan seksual dan gender yang melenceng dari fitrahnya.

Terlihat seperti lingkaran setan yang sangat mengerikan dan akan terus menerus menggerus generasi selanjutnya dan membawa kepada bobroknya sebuah peradaban.

Jika ditelaah akar dari masalah ini karena negara ini mengadopsi sistem kapitalisme sekularisme, yakni dipisahkannya pemerintahan dan agama yang berdampak negatif pada pola pikir dan pola perilaku rakyatnya dan pastinya akan menghasilkan suatu peradaban yang rapuh dan sangat jauh dari fitrahnya. Maka sudah saatnya kita kembali kepada sistem pemerintahan Islam, yang pastinya akan membawa kesejahteraan tidak hanya pada guru tapi juga kepada semua rakyat di negeri ini. (*)

You may also read!

akar rumput disinfektan

Akar Rumput Berbagi Lawan Covid-19

SEMPROTKAN DISINFEKTAN : Tim Akar Rumput Gerakan Berbagi Kebaikan melakukan penyemprotan cairan disifektan di sejumlah

Read More...
ilustrasi virus korona size kecil

Data Minggu (5/4) Korona di Indonesia : 2.273 Positif, 198 Meninggal, dan 164 Sembuh

ILUSTRASI   RADARDEPOK.COM, JAKARTA - Pemerintah mengungkapkan hingga Minggu (5/4) pukul 12.00 WIB, total ada 198 pasien

Read More...
kadin jakarta bantu depok

Ketua Kadin DKI Bantu Pemkot Depok Tanggulangi Korona

PERSIAPAN : Sejunlah persiapan dilakukan untuk menyambut kedatangan Ketua Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi untuk

Read More...

Mobile Sliding Menu