Buku Ulama dan Tokoh Nasional, KH. Achmad Sjaichu : Dari NU, Ketua DPR hingga Sekjen KIAA

In Utama
menelisik buku ulama dan tokoh nasional
BERSEJARAH : Ketua Yayasan Islam Al-Hamidiyah Depok, H. Imam Susanto Sjaichu secara simbolis memberikan kenangan kepada tim penulis dalam peluncuran buku KH. Achmad Sjaichu, Kembali ke Pesantren Menebar Manfaat dan Maslahat di Pesantren Al-Hamidiyah, Pancoranmas, beberapa waktu lalu. FOTO : DOKUMEN RADAR DEPOK

 

KH Achmad Sjaichu merupakan seorang tokoh yang penajang hayatnya mengabdikan dirinya untuk perjuangan agama, bangsa dan negara. Ia pernah menjadi tokoh di Nahdlatul Ulama (NU), Ketua DPR RI, Sekjen Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA), Pendiri Ittihadul Mubalighin hingga mendirikan Pesantren Al-Hamidiyah di Kota Depok.

Laporan: M. Agung HR – Depok

RADARDEPOK.COIM – Ribuan jamaah dan warga siang itu memadati area Pondok Pesantren Al-Hamidiyah di Jalan Raya Sawangan, Kecamatan Pancoranmas. Tak lupa Salawat kepada Nabi Muhammad SAW terus dilantunkan para santri.


Diketahui, hari itu merupakan Haul Akbar Ke-25 seorang ulama besar dan tokoh nasional KH. Achmad Sjaichu. Yang menjadi perhatian penulis pada acara tersebut, yaitu peluncuran sebuah buku berjudul KH Achmad Sjaichu Kembali ke Pesantren Menebar Manfaat dan Maslahat.

Buku dengan tebal 212 halaman itu disusun oleh enam penulis yang merupakan tenaga pendidik di Al-Hamidiyah. Mereka di antaranya, KH. A. Mahfudz Anwar, Suma Wijaya, Ahmad Ridwan, Bakat Syafaat, Dwi Alfiani Rusmawati, dan Akmal Eki yang menangani dokumentasi foto.

Menariknya, buku tersebut juga diisi dengan testimoni oleh sejumlah tokoh. Yaitu Rais’Am PBNU 1991-1992 Prof KH Ali Yafie, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, Prof Kh Syukron Makmun, Rais’Am PBNU 2014-2015, KH A. Mustofa Bisri atau Gus Mus, Menteri Agama RI 2014-2019 H. Lukman Saifudin, dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, H. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah (alm).

Ditemui di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, salah satu penulis buku, Dwi Alfianti Rusmawati menceritakan sekilas perjalanan dalam penulisan buku itu. Ia mengaku, bangga bisa dilibatkan dalam penulisan buku Kyai Sjaichu.

Pertama kali bertemu dengan penulis lainnya, menurut Dwi mereka membagi tugas terlebih dahulu, siapa saja tokoh yang akan diwawancarai. Kemudian di luar itu ada testimoni dari para tokoh.

“Saya bekerja di Al-Hamidiyah sejak 2006, sebelum dilibatkan sebagai penulis saya mengenal almarhum hanya sekilas. Tetapi begitu diikutsertakan, saya bisa mengetahui lebih lengkap tentang sosok Kyai Sjaichu. Dan manfaatnya luar biasa,” ungkap guru Matematika ini.

Kyai Sjaichu lahir dari keluarga kyai, kemudian dibesarkan di lingkungan pesantren, dan sangat aktif di berbagai organisasi sehingga ia berhasil dalam organisasi terutama di bidang dakwah dan politik. Sampai menjabat sejumlah jabatan.

Tetapi di akhir usianya menjelang meninggal, KH Sjaichu akhirnya berpindah dari politik dan organisasi dengan mendirikan pondok pesantren. Jadi lahir di lingkungan pesantren, kemudian bergerak di bidang politik, tetapi akhirnya kembali lagi ke pesantren.

“Sampai dengan wafatnya, 25 tahun setelah meninggalnya banyak sekali orang-orang yang merasakan manfaat dari apa yang sudah beliau dirikan. Dari pesantren berkembang menjadi banyak sekali unit pendidikan di Al-Hamidiyah,” terang Dwi kepada Radar Depok.

Selain diisi oleh testimoni para tokoh, tak ketinggalan cerita dari anggota keluarga. Mulai dari putra dan ketiga cucunya. Alhasil setiap pembaca bisa melihat keseharian Kyai Sjaichu sebagai sebuah pribadi, ayah, dan seorang kakek.

Senada disampaikan Koordinator Tim Penulis, KH A. Mahfudz Anwar. Ia mengaku, data yang dikumpulkan dan berhasil menjadi buku berasal dari narasumber aslinya ketika Kyai Sjaichu masih hidup.

“Saya termasuk salah satu pewawancara ketika beliau masih ada. Kemudian yang didukung dengan teman-temannya orang-orang yang kenal dengan Kyai Sjaichu. Waktu itu nyari dan wawancara ke para kyai, DPR, dan beberapa orang yang dianggap teman dan kenal. Baik teman sejajar maupun yang generasi berikutnya,” ungkap Kyai Mahfudz.

Kyai Sjaichu dikenal sebagai tokoh nasional, tokoh muslim di Indonesia. Berlatar belakang berangkat dari Nahdlatul Ulama (NU). waktu itu bersamaan dengan Kyai Idham Kholid (Ketua Umum PBNU) sedangkan Kyai Sjaichu sebagai Ketua I.

Sjaichu konsen di NU sejak muda. Menurut Kyai Mahfudz, ayah tirinya merupakan tokoh pendiri NU, yaitu Kyai Wahab Hasbullah bersama KH Hasyim Asyari. Kemudian banyak dipengaruhi baik pikiran maupun sepak terjangnya oleh Kyai Wahab. Sampai mulai dari Surabaya tingkat yang paling bawah hingga tingkat provinsi dan pusat di PBNU.

“Dari situ Kyai Sjaichu aktif, karena zaman dulu itu NU merupakan partai politik, jadi ormas sekaligus partai politik. Ketika beliau menjadi Anggota DPR itu ya melalui jalur NU, sampai akhirnya terpilih menjadi Ketua DPRGR (Gotong Royong). Sezaman dengan Jendral A. H. Nasution sebagai Ketua MPRS, kalau itu di level nasionalnya,” terangnya.

Kyai Mahfudz mengatakan, ia menyaksikan langsung kehidupan Kyai Achmad Sjaichu selama di pesantren hingga wafat pada tahun 1995. Di pesantren ini begitu tampak ketawadhuan KH Sjaichu, kekhusyuannya, dan sosok yang disiplin. Ia menilai, selain ibadahnya rajin, baca Alqurannya juga rajin yang diamalkan, dan tentunya itu harapannya ditiru oleh generasi-generasi berikutnya.

“Beliau itu dari pesantren, bergerak dan berhiruk-pikuk di dunia politik, setelah pensiun dari dunia politik beliau mendirikan pesantren ini. Jadi kembali ke pesantren. Orang pesantren, dan memang santri di Lasem muridnya Mbah Mahsum di Jawa Tengah,” tuturnya.

Diketahui, Ponpes Al-Hamidiyah dibangun pada tahun 1988. Menurutnya, pesan moral dari buku tersebut yaitu untuk diteladani keulamaannya, kearifannya.

“Kyai Sjaichu walau pun sebagai tokoh politik tetapi tidak ‘meledak-ledak’, gaya bicaranya yang saya dengar waktu dulu memang orator. Tetapi ada sisi humanis selalu beliau sampaikan yang kadang-kadang orang tidak sadar,” papar Kyai Mahfudz.

Ia mencontohkan, kalau ceramah selalu diawali dengan kalimat Saya Bangga dan Saya Senang Atas Kehadiran Saudara-Saudara sekalian di Tempat Ini.

“Selalu ada dengan komunikan itu menyatakan kesenangannya atas kehadiran audien. Dan itu biasanya yang tidak terekspose di penceramah-penceramah lain. Itu ciri khas beliau,” ucapnya.

Hal itu menurutnya dapat mengetuk hati, dan orang tidak sadar bila dilibatkan dalam ceramah tersebut. Ia berharap dengan adanya buku ini seluruh civitas Al-Hamidiyah yang tadinya belum kenal baik, menjadi lebih mengenal Kyai Sjaichu. Mengambil pelajaran dari figurnya, dan harus selalu konsisten dalam bersikap, serta mempertahankan prinsip bahwa yang benar itu harus dipertahankan. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)

You may also read!

pemberian cairan disinfektan

490 Liter Cairan Konsentrat Disebar di Sawangan Baru

BERIKAN : Lurah Sawangan Baru, Cucu Suardi menyerahkan cairan konsentrat untuk pengurus RW di STAISKA

Read More...
artikel ketua RT

  Oleh : Adhy Winawan Ketua RT 9, RW1, Kelurahan Depokjaya, Kecamatan Pancoranmas Kota Depok Assalamualaikum wr.wb MELALUI rubik Surat Pembaca ini perkenakan saya

Read More...
belanja online di pasar tugu

Pasar Tugu Terapkan Sistem Belanja Online

INOVASI : Pasar Tugu di Jalan Raya Menpor No. 9 Palsigunung, Kelurahan Tugu, Cimanggis terapkan

Read More...

Mobile Sliding Menu