Senekat Apa Rama Pratama?

In Politika
Rama Pratama
BERI PEMAPARAN : Rama Pratama memberikan pemaparan terkait visi dan misinya dalam pencalonan dirinya menjadi Walikota Depok periode 2020-2025 di Kedai Kopi Verbena, Grand Depok City, Rabu (15/1). Foto: AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kemunculan baliho berukuran besar di jantung kota Depok, Margonda dengan tampilan fresh bertulisan 2020 Segarkan Depok yang memuat sosok anak muda bernama Rama Pratama membuat saya sempat berpikir, senekat apa sosok ini?

Semua sudah mahfum di tahun 2020 ini memang ada pilkada serentak dan Kota Depok salah satunya yang menggelar suksesi kepemimpinan lima tahunan ini. Konfigurasi politik di Depok memang masih memunculkan petahana sebagai sosok kuat sehingga langkah anak muda ini tergolong nekat.

Kenekatan ini tentu bukan sekedar nekat tanpa alasan, sebab sudah jadi rahasia umum, sejak kota Depok meningkat statusnya menjadi Kota Administratif mulai tahun 1999, kekuatan politik baru hasil reformasi telah menggurita dan menjelma menjadi kekuasaan puritan dan sektarian. Depok yang kini berjuluk Kota Sejuta Maulid, mungkin tidak memberi ruang bagi sosok Rama yang dikenal agak liberal ini seperti kandidat-kandidat lain yang telah berguguran di pilkada-pilkada sebelumnya.

Meski beredar kabar hubungan Walikota dan Wakilnya selama ini seperti menyimpan api dalam sekam, dus menjelang akhir kepemimpinan sang kyai suasana harmonis tidak lagi hadir dengan partai pengusung, baik dengan PKS ataupun Gerindra, aksi Rama mengajukan diri sebagai bakal calon walikota tetap dianggap sebuah kenekatan. Apalagi Rama bukan maju sebagai calon independen dan belum tahu menggunakan kendaraan politik dari partai apa.

Rama Pratama memang bukan sosok baru di dunia politik, mantan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia 1997-1998 ini menegaskan, “Perubahan selalu lahir dari tangan anak-anak muda. Mereka adalah generasi baru dengan gagasan dan cara kerja yang segar. Kami, generasi muda sudah terbiasa bekerja di luar kebiasaan dan bertindak mendobrak kebuntuan,” Itulah alasannya, mengapa Rama Pratama nekat meninggalkan meja kuliah dan berhari-hari di jalanan untuk memimpin perlawanan sehingga menjadi salah satu motor penggerak reformasi 98.

Seperti banyak tokoh mahasiswa yang masuk panggung politik praktis, Rama Pratama sempat menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009 dan membidangi masalah-masalah ekonomi seperti juga seniornya Fahri Hamzah. Selepas tidak lagi menjabat legislator, karirnya masih berkutat di persoalan ekonomi dengan menjadi anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (2010-2013), dan Tenaga Ahli BPK (2014-2019).

Nekat mungkin memang menjadi salah satu tabiat kandidat doktor ekonomi UI ini. Di antara lingkaran pertemanannya yang tempo hari ada di barisan Prabowo Sandi, Ayah 3 anak ini malah nekat menjadi juru bicara bidang ekonomi TKN Jokowi Ma’ruf. Habislah ia dibully telah jadi cebong gegara mengusung konsep ekonomi Ma’rufnomic untuk melawan hegemoni Sandinomic.

Tapi, bukan Rama Pratama jika tidak bisa keluar dari situasi nekat seperti ini. Dan terbukti kali ini, kenekatannya bukan sekedar nekat halusinasi tapi berlandaskan argumentasi yang presisi sesuai kalkulasi. Maklum saja namanya juga anak ekonomi, pasti selalu berdasarkan kalkulasi yang dalam. Dan harus diakui, untuk persoalan ini Rama Pratama sudah teruji.

Tepat 15 Januari 2020, di Verbena Cafe Grand Depok City, Rama Pratama resmi mendeklarasikan diri untuk maju sebagai bakal calon walikota Depok 2020. Bisa dibilang ini malah menunjukkan aksi yang lebih nekat lagi. Lha wong kemarin saja pasang baliho hanya beberapa biji sudah dianggap nekat, tentu dengan menabuh genderang perang menjadi penentang petahana bukan sekedar nekat lagi tapi bisa berujung aksi bunuh diri.

Entahlah, hanya waktu yang akan membuktikannya apakah langkahnya kali ini setepat langkahnya tempo hari dalam mendukung Jokowi. Publik tentu menanti, tapi sebagai mantan ketua BEM Fakultas di FIP UNJ yang pada masa itu juga nekat mengajukan diri tentu saya tidak sekedar menanti tapi juga siap atur posisi di barisan kaum nekat ini. (*)

Suharta Ristian D, (Tata Gibrig)
Mantan anak BEM, tinggal di Depok

You may also read!

YPI Al Muhtadin gelar kompetisi olahraga

Jelang Milad, YPI Al Muhtadin Gelar Kompetisi Olahraga

SIMBOLIS : Ketua YPI Al Muhtadin, Saefudin Zuhri secara simbolis menendang bola sebagai tanda dimulainya

Read More...
Lazfest 2020 selesai 1

Lazfest 2020 Ditutup dengan “Mengepak Sayap”

PENAMPILAN : Siswa kelas XI menampilkan musikalisasi puisi dalam acara penutupan Lazfest 2020, Sabtu (22/02).

Read More...
posyandu pondok petir terbanyak

Pondok Petir Jadi yang Terbanyak Memiliki Posyandu

RESMIKAN : Prosesi pengguntingan pita yang dilakukan Walikota Kota Depok, Mohammad Idris pada presmian Posyandu

Read More...

Mobile Sliding Menu