Ketua Fokla Depok Retno Wijayanti : Dukung Pemkot, Bijak Gunakan Gawai

In Politika
Ketua Fokla Depok Retno Wijayanti
Ketua Fokla Depok Retno Wijayanti.

 

Benarkah para pelaku seksual sesama jenis ini tidak merugikan orang lain sehingga merasa terintimidasi dengan adanya surat edaran Walikota Depok nomor 460/90 tentang Pelaksanaan Penguatan Ketahanan Keluarga terhadap Perilaku Penyimpangan Seksual beserta Dampaknya, Radar Depok pun menemui Ketua Forum Kota Layak Anak (Fokla) Depok, Retno Wijayanti untuk membahas lebih jauh mengenai hal tersebut.

Laporan : Ricky Juliansyah

RADARDEPOK.COM – Menanggapi pernyataan Walikota Depok yang berniat melindungi keluarga di Depok dari LGBT dengan memberikan surat edaran pada tempat-tempat perbelanjaan untuk tidak membiarkan kelompok-kelompok LGBT berkumpul dan membuat crisis center para korban LGBT, karena pada dasarnya LGBT bisa disembuhkan, maka Forum Kota Layak Anak (Fokla) Depok mendukung dan siap bersinergi dengan pemerintah kota untuk upaya tersebut.

Indonesia mempunyai dasar negara Pancasila dengan sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, dan tidak ada agama apapun yang melegalkan tindakan seksual sesama jenis. Pertama, dari sisi fisik, perilaku penyimpangan seksual dapat menimbulkan tubuh rentan terhadap penyakit seperti HIV/Aids dan penyakit menular seksual yang dapat menyebabkan rusaknya organ tubuh.

Kedua, perilaku seksual sesama jenis berdampak pada tidak berfungsinya fungsi reproduksi untuk menghasilkan keturunan. Dapat dibayangkan jika hal ini terus-menerus terjadi dan semakin banyak pelakunya, maka lama kelamaan akan berdampak pada punahnya generasi.

Ketiga, perilaku seksual sesama jenis lebih sulit dideteksi karena pelakunya dapat saja berpenampilan seperti layaknya, namun pada kenyataannya ia berperilaku menyimpang dengan menyukai sesama jenisnya.

Hal ini tentu lebih berbahaya mengingat seks bebas yang makin marak dan tidak di ketahui akan semakin banyak terjadi, moral pun akan semakin rusak. Jika anak-anak dan generasi muda semakin banyak yang rusak moralnya dan lemah fisiknya karena rentan imunitasnya akibat penyakit yang ditimbulkan oleh virus HIV/Aids, maka akan seperti apakah nasib bangsa kita kedepannya.

“Berkaca dari beberapa alasan di atas, maka dengan ini Fokla Depok menyatakan bahwa tidak ada satu alasan apapun yang memberi argumen untuk melindungi pelaku LGBT,” tutur Retno.

Dapat disaksikan di masyarakat, ketakutan dan kekhawatiran keluarga di Depok akan gerakan LGBT ini sudah sangat tinggi. Mereka sangat khawatir akan anak-anak mereka bahkan pasangan mereka (suami) menjadi korban pemuas nafsu para pelaku LGBT.

Tidak sedikit kasus perceraian suami istri terjadi yang diakibatkan oleh perilaku seksual suami yang ketahuan menyimpang setelah bertahun-tahun berumah tangga memiliki anak dan istri. Hal tersebut berdampak bukan hanya pada kesehatan dirinya (sang suami) tetapi juga berdampak pada kesehatan istri dan anak-anaknya. Jika sudah begini, maka keharmonisan keluarga juga terancam, perceraian menjadi solusi dan jika perceraian terjadi maka anak-anak kembali menjadi korban.

“Lalu bagaimana keluarga di Depok melindungi keluarganya dari LGBT? Pertama, ajarkan adab pada anak, misalnya memperkenalkan aurat dan menjaganya dari pandangan dan sentuhan,” paparnya.

Kedua, kuatkan identitas diri dan karakter anak. Mengenakan pakaian sesuai jenis kelamin, juga segala atributnya termasuk mainan adalah salah satu cara menguatkan identitas dan karakter anak.

Ketiga, keluarga harus waspada terhadap pelecehan dan kekerasan seksual. Sering terjadi bahwa pelaku kejahatan seksual adalah keluarga terdekat. Maka, biasakan bicara secara terbuka dengan anak, sehingga anak akan berani bicara, dan mengungkapkan apa yg dirasakannya pada orang tuanya, sehingga jika ia korban pelecehan dan kekerasan seksual maka akan mempermudah upaya dini rehabilitasi. Keempat, jalin komunikasi dan hubungan yang harmonis antara suami dan istri, serta orangtua dan anak.

Di era digital saat ini informasi tentang perilaku penyimpangan seksual terbuka bebas, siapapun dengan mudah dapat mengaksesnya, tidak terkecuali anak-anak dan orangtua. Karena itu, edukasi terhadap penggunaan gawai pada anak secara sehat wajib dilakukan orang tua untuk melindungi keluarga dari keterpaparan dan pengaruh situs-situs LGBT dan perilaku penyimpangan seksual.

“Pasangan suami dan istri pun harus bijak menggunakan gawai, karena mereka akan menjadi role model bagi anak-anaknya. Dengan demikian upaya maksimal orangtua dalam mengedukasi keluarganya dikuatkan dengan kebijakan yang dibuat pemerintah kota Depok menjadi upaya sinergi yang ideal dalam melindungi keluarga dari perilaku penyimpangan seksual,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)

You may also read!

ILUSTRASI Cuaca BMKG

BMKG: Waspada Hujan Lebat pada Dini Hari di Jakarta

ILUSTRASI     RADARDEPOK.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini hujan pada Selasa

Read More...
jambret ketangkep di sawangan

Ini Cara Masyarakat Sawangan Hukum Penjambret

AMANKAN : Babinsa Kelurahan Bedahan, Serka Nurhidayat mengamankan pelaku jambret di Jalan H Sulaiman, Kelurahan

Read More...
longsor di kecamatan sawangan

Jalan Kutilang BSI Pengasinan Longsor

WASPADA : Titik longsor di Jalan Kutilang RT2/12, Kelurahan Penagsinan, Kecamatan Sawangan, Selasa (25/2). FOTO

Read More...

Mobile Sliding Menu