Poros Baru Idris, KDB Cuek

In Politika
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Ikravany Hilman.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Ikravany Hilman.

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK Langkah Walikota Depok, Mohammad Idris menggaungkan poros baru di Pilkada Depok, nyatanya tidak membuat panik gabungan partai di Koalisi Depok Bangkit (KDB). Mereka justru memilih cuek.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Ikravany Hilman mengaku tidak mau memikirkan langkah yang mau dibuat Idris. Menurutnya, itu memang menjadi haknya. Dirinya hanya akan memikirkan langkah KDB ke depannya, supaya lebih solid lagi.

“Tentu saja dengan memperkuat komunikasi bersama rekan-rekan di KDB,” ungkap Ikravany kepada Radar Depok, tadi malam (10/12).

Untuk diketahui, KDB sendiri diisi sejumlah partai beken. Antara lain, Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Golkar, PPP, PAN, dan Demokrat.

Nah, Idris mengaku secara lisan, dirinya sudah berkomunikasi dengan beberapa personel KDB, seperti Golkar, Demokrat, dan PAN.

Menyoal ini, Ikravany tak mau ambil pusing. Menurutnya, apa yang dikatakan Idris masih bentuk komunikasi politik saja. Bahkan, bila Idris ingin komunikasi dengan PDI Perjuangan, tentu akan diterima. Muaranya menunggu rekomendasi dari pusat.

“Kalau tetap solid, bisa saja KDB akan menjadi bahan pertimbangan pusat (DPP) tiap-tiap partai. Kalau kami (PDI Perjuangan) jauh lebih solid untuk berada di seberang dia (Idris, red)” jelas Ikra, sapaannya.

Dirinya menilai, selama 15 tahun Kota Depok dipegang PKS belum menunjukan perubahan signifikan. “Tentu kami menawarkan perubahan,” tegasnya.

Langkah politik yang dimunculkan Mohammad Idris dengan membentuk poros baru menjelang Pilkada 2020 menuai sorotan dari sejumlah pengamat politik.

Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) Aditya Perdana menilai, kontestasi Pilkada Depok seperti juga daerah lain masih dalam penjajakan hingga Maret mendatang. Menurutnya apapun bisa terjadi.

Atau mungkin ada juga kuda hitam yang tidak diprediksi banyak orang. Jadi, masih banyak peluang karena partai politik pasti masih terus penjajakan hingga detik-detik terakhir.

“Apapun bisa terjadi. Ada yang sudah yakin sebagai calon, malah bisa gak jadi,” tutur Aditya kepada Radar Depok, Selasa (10/12).

Kalaupun ada poros baru lanjut Aditya, siapapun dapat melakukan itu termasuk Mohammad Idris sebagai incumbent. Idris ingin menggagas hal tersebut dimungkinkan karena belum ada kepastian dari partai pendukung awalnya.

Namun, kalau ada kepastian pasti dibatalkan atau diurungkan, karena tentu ia sedang menyiapkan diri apakah dengan jalur koalisi parpol, atau dengan calon independen.

“Pak walikota sebagai incumbent tentu punya posisi baik dan menguntungkan. Tapi seberapa besar dia bisa memanfaatkan ini, ya tentu harus dibaca dari hasil survei,” tegas Aditya.

Pada Pilkada Depok mendatang apakah bakal ada satu, dua, atau tiga pasangan calon menurut Aditya tergantung dengan PKS, pasti atau tidak mencalonkan Idris. Pasalnya, PKS menjadi salah satu faktor kunci, ditambah dengan Idris sendiri.

“Kalau mereka satu paket, tentu kompetitornya harus berpikir keras untuk dapat memenangkan Pilkada. Kalau tidak, tentu bakal menjadi menarik. Karena peluangnya makin terbuka luas bagi siapapun yang mendorong calonnya,” tutur Aditya.

Terpisah, Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi mengaku, sudah menduga bahwa kontestasi Pilkada Depok akan sangat menarik. Apalagi walikota dan wakil walikota memilih masing-masing dalam mengikuti kontestasi. Meski demikian, dinamika politik masih bisa saja berubah.

“Kita melihat peluang empiris, bahwa koalisi partai gemuk bukan jaminan memenangkan Pilkada. Karena Pilkada lebih kepada memilih figur, bukan parpol. Parpol hanyalah pintu masuk untuk pencalonan,” tutur Yusfitriadi.

Saat ditanya siapakah figur yang dinilai pantas mendampingi Idris dan Pradi, jika nantinya mereka saling berhadapan di Pilkada mendatang? Yusfitriadi menegaskan, Kota Depok adalah sebuah kota kecil namun mempunyai posisi strategis dalam berbagai aspek.

“Berada di tengah-tengah antara Jakarta yang merupakan kota metropolitan dan kota transisi, Bogor-Bekasi. Sehingga membutuhkan walikota yang sangat progresif, inovatif, dan kreatif. Bukan hanya sekedar melaksanakan rutinitas saja,” tutupnya. (rd)

 

Jurnalis : Agung HR (IG : @agungimpresi), Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)

You may also read!

Waspada Bahaya Bahan Tambahan Makanan

  Oleh: Fauzan Solihin Mahasiswa STIKIM Jakarta   HAMPIR semua makanan atau minuman yang ada dijual di pasaran kini banyak mengandung Bahan Tambahan

Read More...
dahlan iskan

Arwana 6 T

  Oleh: Dahlan Iskan   ORANG pun mencibir: beli ikan arwana kok sampai Rp6 triliun.  Saya tidak akan menyalahkan arwana. Juga tidak

Read More...
Ketua LSM Kapok, Kasno

Elektabilitas Masih Tinggi

Ketua LSM Kapok, Kasno   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Rilis DPD PKS Kota Depok yang mengerucutkan tiga kader

Read More...

Mobile Sliding Menu