Pilkada Depok : PKS-Idris Faktor Kunci

In Politika
Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) Aditya Perdana.
Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) Aditya Perdana.

 

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Wacana politik yang dimunculkan Mohammad Idris yang akan membentuk poros baru menjelang Pilkada 2020 bersama Golkar, Demokrat, dan PAN menuai sorotan dari sejumlah pengamat politik.

Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) Aditya Perdana menilai, kontestasi Pilkada Depok seperti juga daerah lain masih dalam penjajakan hingga Maret mendatang. Menurutnya apapun bisa terjadi.

Atau mungkin ada juga kuda hitam yang tidak diprediksi banyak orang. Jadi, masih banyak peluang karena partai politik pasti masih terus penjajakan hingga detik-detik terakhir.

“Apapun bisa terjadi. Ada yang sudah yakin sebagai calon, malah bisa gak jadi,” tutur Aditya kepada Radar Depok, Selasa (10/12).

Kalaupun ada poros baru lanjut Aditya, siapapun dapat melakukan itu termasuk Mohammad Idris sebagai incumbent. Idris ingin menggagas hal tersebut dimungkinkan karena belum ada kepastian dari partai pendukung awalnya.

Namun, kalau ada kepastian pasti dibatalkan atau diurungkan, karena tentu ia sedang menyiapkan diri apakah dengan jalur koalisi parpol, atau dengan calon independen.

“Pak walikota sebagai incumbent tentu punya posisi baik dan menguntungkan. Tapi seberapa besar dia bisa memanfaatkan ini, ya tentu harus dibaca dari hasil survei,” tegas Aditya.

Pada Pilkada Depok mendatang apakah bakal ada satu, dua, atau tiga pasangan calon menurut Aditya tergantung dengan PKS, pasti atau tidak mencalonkan Idris. Pasalnya, PKS menjadi salah satu faktor kunci, ditambah dengan Idris sendiri.

“Kalau mereka satu paket, tentu kompetitornya harus berpikir keras untuk dapat memenangkan Pilkada. Kalau tidak, tentu bakal menjadi menarik. Karena peluangnya makin terbuka luas bagi siapapun yang mendorong calonnya,” tutur Aditya.

Terpisah, Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Yusfitriadi mengaku, sudah menduga bahwa kontestasi Pilkada Depok akan sangat menarik. Selain walikota dan wakil walikota memilih masing-masing dalam mengikuti kontestasi, juga kondisi PKS saat ini yang tidak solid. Karena terbelah dengan munculnya partai baru besutan Anis Matta, yaitu Gelora. Sudah bisa dipastikan, struktur PKS dan konstituennya dari mulai elite sampai grass root akan terbelah.

“Sehingga sudah bisa ditebak kemunculan Gelora menjelang Pilkada merupakan strategi untuk menggembosi PKS, dan mengusung loyalis Anis Matta pada Pilkada 2020, termasuk di Kota Depok,” ungkap Yusfitriadi kepada Radar Depok.

Ia menilai, Gelora belum bisa mengikuti Pilkada 2020. Maka mereka akan maju menggunakan jalur perseorangan. Sama halnya dengan kasus Kota Depok, Mohammad Idris yang merupakan incumbent saat ini kemungkinan akan memilih jalur independen. Sehingga antisipasi itu sudah terlihat jauh-jauh hari dengan membentuk gerakan relawan yang tidak berbasis partai politiknya.

Adapun PKS lanjut Yusfitriadi, kemungkinan akan merekomendasikan calon lain selain Idris. Tinggal Nasdem dan PKB yang saat ini masih belum menentukan pilihan, apakah akan mengusung sendiri, bergabung dengan PKA, atau dengan koalisi gemuk yang diinisiasi Gerindra.

“Kemungkinannya Nasdem akan bergabung dengan PKS, melihat dinamika politik di tingkat elite dan PKS akrab bergabung dengan koalisi besar,” ujar Yusfitriadi.

Sehingga kemungkinannya, kontestasi Pilkada Kota Depok akan diikuti tiga pasangan calon. Dua pasangan diusung oleh parpol, dan satu pasangan maju melalui jalur perseorangan. Ketika melihat peluang sudah banyak empiris, bahwa koalisi partai gemuk bukan jaminan memenangkan Pilkada. Karena Pilkada lebih kepada memilih figur, bukan parpol, parpol hanyalah pintu masuk untuk pencalonan.

“Begitupun ketika Idris akan maju melalui jalur perseorangan, akan memiliki kans kuat meraih suara cukup signifikan. Karena Depok merupakan basis konstituen PKS,” ucapnya.

Selanjutnya, yang akan dirugikan adalah PKS secara kepartaian, walaupun jumlah kursi cukup untuk mencalonkan sendiri. Terlebih jika Nasdem bergabung, namun konstituen PKS sudah benar-benar terbelah. Sehingga PKS harus benar-benar mengkalkulasi kembali peta basis.

“Karena kursi yang ada di parlemen Depok saat ini, belum tentu juga semuanya loyalis PKS. Mungkin saja terdapat loyalis Anis Matta dan kawan-kawannya,” ujarnya.

Saat ditanya figur seperti apa yang pantas mendampingi Mohammad Idris dan Pradi Supriatna jika nantinya saling berhadapan di Pilkada mendatang? Yusfitriadi menilai, Kota Depok adalah sebuah kota kecil namun mempunyai posisi strategis dalam berbagai aspek.

“Berada di tengah-tengah antara Jakarta yang merupakan kota metropolitan dan kota transisi, Bogor-Bekasi. Sehingga membutuhkan walikota yang sangat progresif, inovatif, dan kreatif. Bukan hanya sekedar melaksanakan rutinitas saja,” tutupnya. (rd)

 

Jurnalis : Agung HR (IG : @agungimpresi)

Editor : Pebri Mulya (IG : @pebrimulya)

You may also read!

Waspada Bahaya Bahan Tambahan Makanan

  Oleh: Fauzan Solihin Mahasiswa STIKIM Jakarta   HAMPIR semua makanan atau minuman yang ada dijual di pasaran kini banyak mengandung Bahan Tambahan

Read More...
dahlan iskan

Arwana 6 T

  Oleh: Dahlan Iskan   ORANG pun mencibir: beli ikan arwana kok sampai Rp6 triliun.  Saya tidak akan menyalahkan arwana. Juga tidak

Read More...
Ketua LSM Kapok, Kasno

Elektabilitas Masih Tinggi

Ketua LSM Kapok, Kasno   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Rilis DPD PKS Kota Depok yang mengerucutkan tiga kader

Read More...

Mobile Sliding Menu