Karena Kita Berhak untuk Bahagia

In Ruang Publik

 

Oleh : Anggraini

Humas SMA Lazuardi Depok

 

TAK pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di awal-awal masa kuliah saya, mendadak bapak saya di PHK. Yang membuat bertambah miris adalah surat tersebut kami terima saat bapak masih berada di Mekkah, sedang menjalankan ibadah haji yang juga merupakan hadiah dari kantornya. Anehkan? Diberi hadiah haji, tapi tidak lama setelahnya beliau malah sekaligus di PHK.

Sekembalinya dari ibadah haji, bapak syok mendengar berita PHK tersebut. Pasalnya bapak juga ternyata harus berhutang sana sini untuk menambah biaya operasional hajinya. Kemudian yang membuat tambah syok, loyalitas bapak di kantornya selama 32 tahun dianggap sebagai karyawan kontrak karena bapak hanya berijazah SD dan dana Jaminan HariTua Bapak yang dipotong dari gajinya selama puluhan tahun baru disetorkan ke jamsostek 2 tahun terakhir sebelum bapak di PHK. Subhanallah, ujian bapak begitu bertubi-tubinya semenjak pergi haji.

Namun, hidup harus tetap berjalan.Dengan kondisi yang terpuruk, uang pesangon yang sangat tidak sesuai dengan loyalitas bapak, apalagi setelah dipotong hutang, membuat bapak hanya bias memulai bisnis kecil-kecilan untuk bertahan hidup. Bapak berbisnis membuat kacang sangrai yang didrop di warung-warung kecil sekitar rumah.Dengan merekrut karyawan yang juga tetangga rumah, kami percayakan urusan pengiriman kacang sangria tersebut kepada dia.

Dari bisnis kecil tersebut, tentunya untung yang diperoleh hanya bias untuk makan sehari-hari. Bulan demi bulan usaha bapak berjalan lancer sampai akhirnya setoran kacang dari warung ke warung mendadak tersendat. Kami pun heran dan akhirnya melakukan pengecekan ke warung-warung tersebut.Setelah kami konfirmasi ke warung-warung, ternyata ditemukan fakta bahwa karyawan bapak sudah mengambil lebih dulu uang setoran kacang tersebut tanpa menyetornya kepada Bapak. Subhanallah, berat sekali ujian kami saat itu. Bapak sudah sangat marah dan kecewa dengan perlakuan kantor bapak, ditambah perbuatan karyawan kepercayaannya yang menambah kepedihannya. Karyawan itu kabur dan kami mengejarnya, namun setelah tertangkap, karyawan itu mengatakan bahwa uang setorannya sudah habis dipakainya. Ya Allah, speechless rasanya mendengar hal itu.

Selanjutnya bias dibayangkan, kuliahku yang baru saja memasuki semester 2 terancam putus. Bapak menyampaikan ketidaksanggupannya untukmembiayai kuliahku lagi.  Ya Allah, akhirnya berita pahit ini kuterima juga.Namun, aku tidak mau berhenti kuliah. Akupun berusaha untuk mencari pekerjaan agar kuliahku bias berlanjut demi masa depanku dan keluarga. Akhirnya aku diterima bekerja sebagai pelayan restoran part time setelah pulang kuliah.

Walaupun dengan kondisi yang sangat terpuruk, jatuh bangun karena harus mengejar waktu antara kuliah dan bekerja, membuang rasa malu untuk mengajukan keringanan biaya kuliah ke kampus, mengajukan beasiswa ke beberapa perusahaan, belum lagi cemoohan dari tetangga yang menyangsikan aku bias menyelesaikan kuliahku, akhirnya aku pun bisa lulus dari kampus dan Alhamdulillah menjadi 10 wisudawan terbaik di jurusanku. Bapak dan ibu menjadi orang tua yang menyaksikan saat tali togaku dipindahkan sebagai tanda aku telah diwisuda dan telah sah menjadi sarjana.

Sejak melewati fase kehidupan yang cukup berat itu, dimana ibuku hamper gila dibuatnya, dan adik-adikku yang masih belia harus juga turut mengalami kepahitan hidup ini, kami sangat bersyukur karena saat ini akhirnya kami bisa melewati masa kelam tersebut karena kami yakin bahwa doa orang-orang yang terdzalimi langsung menembus langit dan dikabulkan oleh Allah.

Kami berusaha melupakan dan sudah memaafkan orang-orang dan pihak-pihak yang telah menipu dan menyakiti hati bapak. Kami percaya bahwa tidak ada gunanya lagi menyimpan dendam kepada mereka karena Allah paling tahu rencana apa yang terbaik bagi kami. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an bahwa

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal hal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagimu”. Allahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita dan mengapa Allah memberikan ujian yang begitu berat bagi kita.

Aku pun menyadari, bagi diriku pribadi, masa-masa pahit dan sulit itu justru menjadikanku pribadi yang lebih kuat, tegar, tangguh, semangat dan yakin akan semua ketetapan Allah.

Aku juga semakin yakin bahwa Allah selalu menitipkan sukacita di tengah dukalara, memberikan kemudahan di tengah kesusahan, menebarkan kebahagiaan di tengah kesedihan, dan Allah menjanjikan bahwa semua akan indah pada waktunya. Hanya Allahlah sebaik-baik penolong dan hanya Allahlah satu-satunya tempat kita bergantung.

Dengan memaafkan orang-orang yang telah membuat kita hancur dan terpuruk, sesungguhnya menjadikan kehidupan kita lebih bersih, tenang, damai, dan bahagia. Bagaikan sampah yang tadinya kita selalu bawa di punggung kita dan aromanya menyebar kemana-mana, kini sudah saatnya kita membuang sampah tersebut dan kita bersihkan tubuh kitas ehingga aroma sampah itu hilang dan tubuh kita pun menjadi ringan.

Mari kita belajar untuk memaafkan, bukan karena kita kalah, namun karena kita berhak untuk bahagia. (*)

You may also read!

renovasi rumah cagar budaya KOOD Tapos

KOOD Tapos Akan Renovasi Situs Budaya

AGENDA : Rumah yang akan direnovasi oleh KOOD Kecamatan Tapos dan akan menjadikannya sebagai cagar

Read More...
artikel FKM UI pengmas

Pengembangan Sistem Database Online Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pekerja UMKM di Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup

  Oleh : Mahasiswa Departemen K3 FKM UI Research Assistant  Department Occupational Health and Safety Faculty of Public Health Universitas Indonesia   SESUAI dengan renstra Universitas

Read More...
Artikel desa tarikolot pengmas ui

Mahasiswa FKM UI Kembangkan SiUMKM Berbasis Data untuk UMKM di Kecamatan Citeureup

  Oleh : Muhammad Fitrah Habibullah Undergraduate Student of Occupational Health and Safety Major Faculty of Public Health Universitas Indonesia   SEBAGAI salah satu perwujudan

Read More...

Mobile Sliding Menu