Sambel Doueer Maryani Raup Rp 15 Juta Per Bulan : Ciptakan Varian Rasa, hingga Bantu Suami

In Metropolis, Satelit Depok
SAMBAL : Maryani (43) memasarkan produknya, dalam gelar UMKM di Balaikota Depok. FOTO : LULU/RADAR DEPOK

 

Kegigihan dan kesetiaan Maryani berbuah manis,omset  produk Sambal Doueer wanita usia 43 tahun ini mencapai Rp 15 juta per bulan. Dari sini, ia membantu peran suami untuk menggapai asa anak-anaknya.

Laporan : Lutviatul Fauziah

RADARDEPOK.COM – Maryani, ibu rumah tangga yang berusia 43 tahun ini, mulai mencoba membuka usaha pada 2005 ketika memutuskan untuk resign dari tempat kerja sebelumnya. Berawal dari usaha masakan, aneka kue basah dan kering.

Pada 2017 ia bertemu dengan teman-teman seprofesi di bidang kuliner, setelah itu bersama-sama ia dam teman-temannya membentuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kecamatan Sukmajaya dimotori Rudi Murodi.

Untuk usaha sambal yang ditekuninya ,bermula dari keluarga yang hobi sambal serta ada teman-teman yang suka travelling dan tinggal di Jeddah dan meminta dibuatkan sambal.

Dari situlah ide ibu lima anak ini pertama kali muncul, dengan menggunakan brand “Sambel Doueer” ia membuat berbagai varian rasa sambel yang beda dari sebelumnya.

“Kita membuat beberapa varian, di antaranya sambel belimbing Depok, sambel jambu merah, sambel kurma, sambel mangga, sambel kecombrang, sambel Gandaria, sambel durian, sambel terasi dan sambel ijo,” ucap Maryani kepada Radar Depok.

Karena, dengan rasanya yang bisa membuat siapa saja yang makan akan merasa kepedasan dan bibir menjadi dower, maka disebutlah dengan nama sambel Doueer.

Ia memproduksi Sambael Doueer di rumahnya, Jalan Merdeka Barat, Kampung Melati RT 003/030, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya.

Dengan usaha dan kerja kerasnya membuat Sambel Doueer, saat ini, dalam satu bulan ia mampu memproduksi kurang lebih 150 Kilogram sambel dengan omset sekitar Rp 15 Juta per bulan.

Tak hanya, mendapat omset yang luar biasa saja, ternyata Maryani pernah beberapa kali mendapat juara untuk sambel yang dibuatnya.

“Sambel saya pernah mendapat juara satu, pada lomba yang diselenggarakan pengusaha Jepang, setelah itu sambel saya mau di maklon oleh mereka, tetapi saya tidak mau,” tambahnya.

Karena sudah dua tahun sang suami mengalami stroke, untuk itu Maryani harus kerja keras menggantikan peran suami mengantarkan anak-anaknya mengejar asa.

“Anak pertama dan kedua saya saat ini kuliah sambil kerja, mereka mulai SMP sudah belajar membuat cookies, dan alhamdulillah sekarang menjadi usaha. Selain cookies mereka juga membuat roti,” tuturnya.

Anak-anaknya tersebut, membuat usaha untuk membiayai kuliah mereka masing-masing, demi mimpi agar tidak hanya menjadi agan saja.

“Intinya apa yang saya kerjakan untuk semata-mata untuk kebahagiaan keluarga. Karena saya percaya, keberhasilan datang berkat doa dari keluarga,” tutupnya dengan haru. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

renovasi rumah cagar budaya KOOD Tapos

KOOD Tapos Akan Renovasi Situs Budaya

AGENDA : Rumah yang akan direnovasi oleh KOOD Kecamatan Tapos dan akan menjadikannya sebagai cagar

Read More...
artikel FKM UI pengmas

Pengembangan Sistem Database Online Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pekerja UMKM di Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup

  Oleh : Mahasiswa Departemen K3 FKM UI Research Assistant  Department Occupational Health and Safety Faculty of Public Health Universitas Indonesia   SESUAI dengan renstra Universitas

Read More...
Artikel desa tarikolot pengmas ui

Mahasiswa FKM UI Kembangkan SiUMKM Berbasis Data untuk UMKM di Kecamatan Citeureup

  Oleh : Muhammad Fitrah Habibullah Undergraduate Student of Occupational Health and Safety Major Faculty of Public Health Universitas Indonesia   SEBAGAI salah satu perwujudan

Read More...

Mobile Sliding Menu