Kurikulum Baru Harus Dikaji

In Pendidikan
ILUSTRASI : Sejumlah siswa-siswi beraktifitas di SDN Depok Jaya 1, Jalan Nusantara Raya, Kecamatan Pancoranmas. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana mengganti kurikulum pendidikan saat ini dengan kurikulum baru. Perubahan tersebut guna meningkatkan daya saing sumber daya manusia di Indonesia.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohammad Thamrin mengaku, belum mendapatkan informasi dari pemerintah pusat tentang rencana perubahan kurikulum.

“Belum ada info, kami masih menerapkan Kurikulum 2013,” ucap Thamrin kepada Radar Depok, Kamis (21/11).

Thamrin menilai, meski pun nantinya ada perubahan kurikulum namun hal itu tidak lantas bisa diterapkan di Kota Depok. Sebab diperlukan kajian mendalam, sebelum menerapkan sebuah kurikulum baru, dan kemungkinan memakan waktu lama.

“Kurikulum 2013 saja baru bisa dilaksanakan efektif setelah tiga tahun. Mulai diterapkan bertahap di Depok pada 2015, dan secara menyeluruh pada 2018,” tutur Thamrin.

Tetapi, Thamrin mengaku siap jika wacana perubahan kurikulum tersebut benar-benar direalisasikan pemerintah pusat. “Kita siap saja, langkah awal ya melakukan kajian sebelum menerapkan kebijakan itu,” jelasnya.

Terpisah, Anggota Komisi D, DPRD Kota Depok, Imam Turidi mengatakan, perubahan kurikulum pendidikan akan merubah struktur, sistem dan materi pada pendidikan. Maka perlu adanya kajian komprehensif terkait perubahan kurikulum pendidikan tersebut. “Harus dilakukan kajian terlebih dahulu sebelum diterapkan,” ucap Turidi kepada Radar Depok.

Ia menilai, ada hal menarik dalam perubahan kurikulum ini, yaitu basis kurikulum pendidikan itu sendiri. Karena harus dipastikan mengarah ke mana kurikulum tersebut. “Mengarah pada tenaga terampil, tenaga terapan atau apa?. Ini musti dikaji betul, karena berujung pada pola atau hasil lulusan nantinya,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, kurikulum yang ada masih berbasis pada kompetisi bukan pada kompetensi, sebab masih mengutamakan lulus nilai bukan lulus kemampuan diri. “Makanya banyak yang cari lulus, bukan cari skill,” bebernya.

Dia berharap, jika wacana perubahan kurikulum jadi diterapkan agar bisa menambah materi terkait hardskill dan softskill dalam pelajaran yang berbasis pada pendidikan kareakter atau mental spiritual. “Agar lebih membumi bukan menjulang tak tentu arah. Katkan pada dasar budaya ketimuran daripada mencontek ilmu barat,” ujarnya.

Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Farida Rachmayanti mengaku, mendukung diubahnya kurikulum pendidikan, selama arah perubahan itu menuju kebaikan. “Kondisi realitas tantangan peluang menuntut kita menjadi dinamis, wajar jika ada penyesuaian,” ucapnya.

Dia juga meminta Pemerintah Pusat untuk memberi ruang kepada daerah memasukan kondisi kearifan lolak dalam rancangan kurikulum baru. “Jadi penyesuainnya tidak hanya dari jenis mata pelajaran, tapi juga terkait strategi besarnya kewenangan,” bebernya.

Dia menambahkan, saat ini permasalahan pendidikan di Depok juga beragam, mulai dari masalah kebutuhan sarana prasarana pendidikan yang membutuhkan dukungan dari Pemerintah Pusat.

“Sebagai daerah penyangga ibu kota negara, angka pertumbuhan penduduk sangat tinggi. Namun, kondisi APBD Kota Depok terbatas, apalagi besarnya kecenderungan orang tua memilih sekolah negeri bagi anaknya,” jelasnya.

Dia berharap agar muatan lokal pendidikan di Depok harus mengutamakan pendidikan keluarga dan kewirausahaan. Dalam pendidikan tersebut, anak–anak sejak dini harus dikenalkan tentang peran kehidupan strategis yang harus dijalankan.

“Anak secara bertahap harus memahami tanggung jawabnya. Sebab, kelak mereka akan menjadi orang tua. Serta anak–anak harus ditumbuhkan kesadaran salah satu kesuksesan hidu adalah memiliki keluarga yang berkualitas dan keluarga yang harmonis. Untuk kewira usahaan, karena tantangan bonus demografi generasi kita harus tangguh dan mandiri serta punya etos kerja,” pungkasnya. (rd)

 

Jurnalis : Indra Abertnego Siregar  (IG : @regarindra)

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

renovasi rumah cagar budaya KOOD Tapos

KOOD Tapos Akan Renovasi Situs Budaya

AGENDA : Rumah yang akan direnovasi oleh KOOD Kecamatan Tapos dan akan menjadikannya sebagai cagar

Read More...
artikel FKM UI pengmas

Pengembangan Sistem Database Online Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pekerja UMKM di Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup

  Oleh : Mahasiswa Departemen K3 FKM UI Research Assistant  Department Occupational Health and Safety Faculty of Public Health Universitas Indonesia   SESUAI dengan renstra Universitas

Read More...
Artikel desa tarikolot pengmas ui

Mahasiswa FKM UI Kembangkan SiUMKM Berbasis Data untuk UMKM di Kecamatan Citeureup

  Oleh : Muhammad Fitrah Habibullah Undergraduate Student of Occupational Health and Safety Major Faculty of Public Health Universitas Indonesia   SEBAGAI salah satu perwujudan

Read More...

Mobile Sliding Menu