Harga Rokok Rata-rata Naik Rp1.000, Berikut Harganya

In Metropolis
AKAN NAIK : Penjaga warung menunjukkan berbagai macam merk rokok yang dijual di salah satu kawasan di Kota Depok, Minggu (6/10). Pemerintah pusat berencana akan menaikkan tarif cukai rokok. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

DEPOK-Ahli hisap alias perokok di Kota Depok, semakin ngebul saja. Kendati, kenaikan cukai sebesar 23% ditetapkan 1 Januari 2019. Harga sejumlah jenis rokok di agen dan warung Kota Depok, mulai terkerek naik. Kenaikannya memang belum drastis, rata-rata Rp500 hingg Rp1.000.

Agen rokok di Jalan Pekapuran Kelurahan Sukatani, Kecamatan Cimanggis, Yahya S mengatakan, tidak semua merek rokok mengalami kenaikan harga. Dan untuk beberapa merek rokok yang mengalami kenaikanpun tidak terlalu signifikan. “Harga rokok beberapa ada yang naik, tetapi masih dikisaran Rp500-Rp1.000, belum ada kenaikan yang tinggi,” ucap pemilik agen, Yahya kepada Radar Depok, Jumat (11/10).

Yahya menambahkan, kenaikan tersebut tidak terlalu berdampak pada jumlah penjualan pada beberapa hari ini. Kalau untuk rokok sepertinya mau naik berapapun orang akan tetap beli. “Jadi enggak terlalu berpengaruh, paling berkurang sedikit saja pembelinya,” ujarnya.

Pemilik warung Jalan Mandor Samin, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, M Yadi mengaku, terpaksa beberapa merek rokok dinaikan harganya. Harga rokok yang mengalami kenaikan seperti, Sampoerna Kretek dari Rp12.000 menjadi Rp 12.500, lalu Sampoerna U-Mild dari Rp 19.000 menjadi Rp20.000, dan Marlboro Putih dan Merah. Seluruh merek rokok yang mengalami kenaikan terjadi tak menentu, kenaikan harga sudah dalam kurun waktu seminggu.

“Naiknya masih masuk akal, itu juga karena dari agen yang perslopnya naik Rp3.000 sampai Rp5.000,” beber Yadi saat disambangi Radar Depok.

Dia juga tak menampik, mendengar isu kenaikan rokok akan drastis hingga Rp35.000 untuk merek rokok yang standar semacam, Sampoerna Hijau, Djarum Coklat, Neslite, dan lainnya.

“Katanya juga ada yang hampir Rp50.000 sebungkusnya. Rokok yang cukup mahal, marlboro, Sampoerna mild, Dji Sam Soe. Saya juga masih dengar dengar saja dan itu hoaks,” ucapnya.

Jika kenaikan harga rokok secara tak masuk akal seperti beredar isu, Yadi mengaku khawatir pengguna rokok menurun. Sehingga mempengaruhi pemasukan warungnya, sebab diakuinya rokok memberi asupan perbulannya cukup tinggi.

“Iya kalau rokok biar belinya sedikit atau ketengan tapi selalu jalan, perputarannya bagus nggak pernah berhenti. Saya cuma takutin jualan rokok jadi nggak muter,” tegasnya.

Terpisah, Pengamat Ekonomi dari Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Banu Muhammad menyambut, baik rencana Pemerintah untuk menaikan tarif cukai tembakau sebesar 23 persen tahun 2020 mendatang.

Menurut Banu, sapaanya, kenaikan cukai tembakau tersebut akan berdampak pada peningkatan pendapatan negara, serta diharapkan dapat menurunkan angka perokok baik aktif maupun pasif. “Sangat setuju dengan rencana kenaikan cukai tembakau tersebut,” katanya saat dikonfirmasi Radar Depok.

Meski mendukung rencana pemerintah, namun masih ada keraguan dari benak Banu jika kenaikan cukai tembakau sebesar 23 persen. Karena bisa berdampak langsung terhadap penurunan angka perokok. Berdasarkan kajian PEBS FEB UI, angka perokok akan turun drastis sebesar 74 persen jika harga satu bungkus rokok berada di kisaran Rp60 ribu.

“Kalau kenaikan cukai tembakau hanya sebesar 23 persen, berarti harga rokok masih di bawah Rp60 ribu perbungkusnya. Berdasarkan kajian itu tidak akan mengurangi angka perokok secara signifikan,” bebernya.

Pihaknya mengaku, ketentuan kenaikan tarif cukai tembakau sebesar 23 persen tersebut, merupakan kompromi antara pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat serta aktivis anti rokok dengan pelaku industri rokok. “Angka 23 persen ini merupakan hasil kompromi Pemerintah,” jelasnya.

Pihaknya, terus mendorong Pemerintah untuk menaikan tarif cukai tembakau setinggi mungkin, untuk menekan jumlah perokok. Sebab menurut penelitian mereka, konsumsi rokok sudah terlalu tinggi dan membuat alokasi belanja kelompok rumah tangga miskin menjadi tidak ideal.

Selain itu, sambungnya, terjangkaunya harga rokok mendorong meningkatnya prevelansi perokok, dan disinyalir menjadi penyebab meningkatnya penyakit tidak menular di Indonesia.

“Data Riset Keseatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan sejak tahun 2007 hingga 2008, menunjukan tidak adanya perubahan yang signifikan pada prevelasni merokok pada penduduk usia diatas 15 tahun di Indonesia,” bebernya.

Dia menambahkan, Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) UI, telah membuat kajian mengenai tingkat harga untuk menurunkan konsumsi rokok. Dari hasil penelitian tersebut menemukan tingkat harga yang optimum adaah pada tingkat Rp60 ribu per bungkus. Angka tesebut jauh berbeda dengan harga yang saat ini ditawarkan  sebesar Rp5 ribu hingga Rp25 ribu perbungkus.

“Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor. 146 tahun 2017, harga jual eceran (HJE) rokok terendah adalah Rp400 per batang, dan HJE tertinggi adalah Rp1.260 per batang.,” jelasnya.

Dengan harga yang sedemikian rendah, menurutnya sulit untuk memungkiri anak – anak tidak dapat menjangkau rokok dengan harga tersebut. Ketika disinggung mengenai dampak kenaikan cukai terhadap industri rokok, Banu mengatakan hal tersebut tidak akan berpengaruh besar. Sebab selama ini industri rokok sudah mengalami laba di atas normal, kenaikan tersebut tidak akan membuat pabrik rokok bangkrut.

“Industri rokok tidak akan gulung tikar, sebab selama ini sudah menikmati keuntungan yang super normal profit. Terutama industri rokok kretek mesin,” tegasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita menyambut baik kebijakan baru tersebut. Dengan naiknya harga cukai dapat membawa dampak positif, karena masyarakat perlahan meninggalkan rokok.

“Dengan kenaikan cukai rokok maka harga rokok akan meningkat, demikian masyarakat jadi sulit untuk membeli rokok. Pasti harganya jadi mahal dan tidak terjangkau,” kata Novarita.

Meningkatnya harga cukai rokok juga akan berdampak baik di lingkungan masyarakat. Peraturan Daerah Kota Depok No. 3/2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), juga akan membuahkan hasil. “Sejalan dengan mahalnya cukai, rokok akan ditinggalkan. Kota Depok akan bebas dari asap dan bahaya yang disebabkan oleh rokok tersebut,” pungkas Novarita.(rd)

 

Berikut Beberapa Harga Rokok yang Naik :

Gudang Garam Filter Rp18.000 menjadi Rp18.500

Djarum Super Rp18.000 menjadi Rp18.500

Sampoerna Mild 16 Rp23.000 menjadi Rp24.000

U-mild Rp19.500 menjadi Rp20.500

Surya Pro Rp6.500 menjadi Rp17.000

Pro Mild Rp16.500 menjadi Rp17.500

Neslite Rp13.500 menjadi Rp14.500

Dji Sam Soe Rp17.500 menjadi Rp18.000

Sampeorna Kretek Rp12.500 menjadi Rp13.500

Magnum mild 16 Rp16.000 menjadi Rp17.500

Dunhil putih Rp23.000 menjadi Rp24.000

Magnum filter Rp17.500 menjadi Rp18.500

Marlboro merah/putih/mentol Rp25.000 menjadi Rp26.000

Surya 16 Rp23.000 menjadi Rp24.000

 

Jurnalis : Radar  Depok

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

Puskesmas Kemirimuka Sempatkan 10 Menit untuk Peregangan

SENAM : Puskesmas Kemirimuka melakukan gerak peregangan 10 Menit disela-sela pelayanan. FOTO : GHEA PATTIA/RADARDEPOK   RADARDEPOK.COM,

Read More...

Jumat Kaya Manfaat di SMPN 22 Depok

SEHAT : Guru dan siswa SMPN 22 Depok sedang melakukan senam bersama, Jumat (18/10). FOTO

Read More...

Lulusan Pesantren Makin Mendapat Pengakuan dari Negara

ILUSTRASI   JAKARTA - Disahkannya UU Pesantren memberikan ruang pengakuan bagi santri setelah menamatkan studinya. Pasalnya, selama

Read More...

Mobile Sliding Menu