Tiga Karya Besar BJ Habibie di Dunia Penerbangan

In nasional, Utama
Prof DR (HC) Ing Dr Sc Mult BJ Habibie.

 

JAKARTA – Tidak hanya tentang kiprahnya menjadi Presiden ke-3 Indonesia, tapi Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie sudah melalang buana jauh sebelum itu, tetapi dalam hal lain, yakni di dunia penerbangan. Penemuannya dalam dunia penerbangan, hingga hari ini digunakan semua industri penerbangan di seluruh dunia.

Teori yang dinamakan Teori Habibie itu ia temukan setelah menempuh pendidikan teknik penerbangan di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Jerman. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan itu, menghabiskan pendidikannya di Jerman selama 10 tahun, terhitung dari tahun 1955 dan menuntaskannya tahun 1965.

Selama itu ia menyelesaikan studi, hingga menyandang gelar doktor di bidang teknik penerbangan. Nama lengkapnya adalah Prof DR (HC) Ing Dr Sc Mult BJ Habibie.

Berbekal kejeniusan, kegigihan dan pendidikannya itulah Habibie berhasil membuat tiga karya penting atau besar.

Teori Habibie menjadi yang pertama. Teori tersebut ditemukan Habibie ketika bekerja di sebuah perusahaan penerbangan di Jerman. Teori Habibie atau Crack Progression Theory adalah teori yang menjelaskan tentang titik awal retakan pada sayap dan badan pesawat.

Teori yang ia buat berhasil menghitung letak dan besar retakan pada konstruksi pesawat. Hebatnya, Habibie membuat teorinya sangat detail, bahkan hingga ke tingkat atom. Oleh sebab itu, Habibie dijuluki “Mr Crack” dalam dunia penerbangan.

Berkat teori yang ia temukannya pada usia 32 tahun, risiko kecelakaan pesawat pun bisa ditekan. Bahkan, kini pesawat bisa bermanuver lebih aman, karena tak perlu lagi menambahkan beban konstruksi seperti teori yang diterapkan sebelumnya.

karya besar keduanya, membuat Pesawat N-250 Gatot Kaca. Sebuah pesawat pertama karya anak bangsa yang dipimpin langsung oleh Habibie dan diluncurkan pada 1995. Pesawat penumpang sipil tersebut, berhasil mencuri perhatian publik dengan harapan industri penerbangan dalam negeri bisa membumbung tinggi.

Pesawat N-250 Gatot Kaca menjadi satu-satunya pesawat turboprop yang mengaplikasikan teknologi fly by wire. Bahkan pesawat yang dibuatnya sudah terbang 900 jam dan tinggal sedikit lagi untuk sertifikasi Federal Aviation Administration (AFF).

Mimpi Habibie untuk membangun industri penerbangan dalam negeri itu terpaksa kandas saat terjadi krisis moneter tahun 1996-1998. Soeharto memilih untuk menghentikan proyek tersebut. Hal itu disebabkan, Internasional Monetry Fund (IMF) mensyaratkan Indonesia menghentikan proyek itu jika ingin mendapatkan kucuran dana.

Ketiga masih tidak jauh dari dunia penerbangan, yakni Pesawat R80. Terhenti karena krisis moneter, Habibie tak patah semangat. Ia mengembangkan karya N-250 menjadi pesawat RAI R80.

Pesawat berkapasitas 80-92 orang itu ia buat bersama putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie. Dengan mendirikan PT Regio Aviasi Industri, pesawat R80 diluncurkan tahun 2012 dan terbang perdana pada 2017.

Pesawat R80, yang kini masih dalam proses rancangan lanjutan itu sudah dilengkapi teknologi fly by wire atau sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik. Hebatnya, pesawat itu juga irit bahan bakar meski meski membawa banyak penumpang. (rd)

 

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

Jelang HUT ke-74, PMI Gelar Lomba Edukatif

APEL : Ketua Panitia HUT PMI ke-74, Eka Bachtiar saat memberikan sambutan dalam apel pagi

Read More...

Klinik Pasar Tugu Layani Kesehatan Pasien

CEK KESEHATAN : Petugas medis klinik Pasar Tugu, Widia sedang memeriksa kesehatan salah satu pasien

Read More...

Beli Sate, Gratis Nasi Goreng

Sate Blora Cirebon cabang Depok kini sudah bisa dinikmati, pengunjung bisa datang ke Jalan Margonda,

Read More...

Mobile Sliding Menu