Harga Seragam SMPN di Depok Mahal

In Metropolis
SERIUS : Sejumlah siswa saat mengerjakan soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMP Negeri 26, Jalan Mangga, Kecamatan Beji. FOTO : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Kabar tidak sedap kembali menimpa SMP Negeri di Kota Depok. Gara-garanya, sejumlah orangtua siswa kelas VII mengeluhkan kebijakan pembelian seragam di sekolah yang dianggap terlalu mahal.

Salah satu orangtua siswa SMP Negeri 4 Depok, Rio Chandra mengeluhkan, harga seragam yang diajukan sekolah sebesar Rp995 ribu. Dengan harga segitu, siswa mendapat seragam olahraga, muslim, dan pramuka lengkap beserta peralatan kepramukaannya.

“Masa cuman tiga seragam saja harganya hampir Rp1 juta. Padahal kalau beli di luar sekolah mungkin tidak sampai segitu, saya termasuk keberatan dengan harga tersebut,” kata Rio Harian Radar Depok, Rabu (21/8).

Menurut Rio, pihak sekolah harus lebih terbuka kepada orangtua siswanya termasuk merinci biaya seragam yang hanya bisa di beli di sekolah tersebut. Karena apabila hanya mengajukan nominal angkanya saja, membuat kekhawatiran adanya praktik pungutan liar di sekolah.

“Harusnya terbuka saja harga Rp995 ribu itu perseragamnya berapa dan apakah bisa dibeli salah satunya saja atau gimana. Itu harus jelas,” ujar Rio.

Sementara itu, Kepala SMPN 4 Depok, Hudaya angkat bicara terkait harga seragam sekolah untuk kelas VII yang memberatkan orangtua siswa. Dia mengemukakan, tidak ada praktik pungli dalam pembelian seragam di sekolahnya. Karena orangtua tidak sepenuhnya diwajibkan untuk membeli seragam tersebut.

“Kalau mau beli di sekolah atau di luar silahkan tidak ada paksaan sama sekali. Dan kalau ada kakak kelasnya yang sudah lulus tapi bajunya masih bagus bisa saja dipakai. Semuanya dikembalikan lagi ke orangtua masing-masing,” ujar Hudaya.

Terkait harga tiga seragam sekolah sebesar Rp995 ribu itu, lanjut Hudaya, sudah hitung-hitungan dari konveksi (pihak ketiga). Khusus untuk seragam olahraga dan muslim setiap sekolah memiliki ciri khasnya.

“Dua baju itu kan tidak dijual di luar sekolah itu sudah dari dulu, karena untuk membedakan siswa SMP Negeri 4 dengan yang lainnya. Disitu jelas nanti ada nama sekolah,” papar Hudaya.

Senada dengan Rio, komplen tentang mahalnya praktik jual-beli seragam sekolah juga diutarakan oleh orangtua siswa SMP Negeri 6 Depok, sebut saja Mawar. Dia menuturkan, bahwa di SMP Negeri 6 Depok harga seragam sekolah juga mencapai Rp950 ribu.

Dia menyesalkan pihak sekolah yang baru mengumumkan ada jual-beli seragam di sekolah. Sebab dirinya sudah jauh-jauh hari membelikan untuk anaknya tersebut, salah satunya Pramuka.

“Saya kesal soalnya sudah beli seragam di luar termasuk pramuka lengkap yang ternyata di jual di sekolah. Jadinya kan mubazir, di satu sisi anaknya sudah tidak mau pakai seragam SD,” bebernya.

Kepada Radar Depok, Kepala SMPN 6 Depok, Sumarno memberikan konfirmasi, bahwa penjualan baju seragam sekolah itu juga melibatkan pihak ketiga. Karena, memang pihak sekolah tidak diperbolehkan menjual seragam ke siswa ataupun orang tua. Bahkan, pembahasan tentang nominal Rp950.000 tersebut, sudah dilakukan sosialisasi terlebih dahulu ke orang tua.

“Kami melakukan semua prosedur yang sudah ada, pembelian seragam itu pun tidak ada unsur paksaan ke orang tua siswa,” ucapnya.

Sumarno memberikan keringanan kepada orang tua, dengan boleh membayarnya dengan cara cicil. Jadi, diharapkan tidak memberatkan orang tua. Dengan harga Rp950.000, per siswa mendapatkan tiga seragam, yakni seragam muslim, seragam olahraga, dan seragam batik.

Total siswa kelas VII di SMPN 6 di Tahun Pelajaran 2019/2020 ada 346 siswa. “Kami pun sudah menerangkan ke orang tua, siswa boleh kalau ingin menggunakan baju seragam dari kakaknya. Jadi, tidak diwajibkan membeli,” terangnya.

Menanggapi adanya keluhan dari orangtua siswa, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohamad Thamrin menyebutkan, bahwa seragam yang diwajibkan untuk beli di sekolah hanya seragam olahraga dan muslim. Sisanya seperti pramuka dan putih biru bisa dibeli di luar sekolah.

“Selain seragam itu juga ada atribut seperti badge, topi, dan dasi yang hanya dijual di sekolah. Karena sudah ada nama sekolah masing-masing yang memang tidak ada di pasaran,” jelas Thamrin.

Terkait nominal angka, Dinas Pendidikan tidak pernah mengintervensi sekolah dalam penetapan harga. Semuanya berdasarkan keputusan dan kewenangan sekolah, serta uang tersebut juga akan dikelola oleh koperasi di masing-masing sekolah.

“Semuanya kembali lagi kepada orangtua siswa mau beli di sekolah boleh, di luar juga boleh untuk seragam lainnya. Tidak ada paksaan yang memberatkan orangtua,” pungkas Thamrin. (rd)

 

Jurnalis : Nur Aprida Sani

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

Dapat Bisikan Misterius, Painah Loncat dari Jembatan Juanda Depok

BUNUH DIRI : Paniah yang mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan di Jalan Juanda,

Read More...

Ratusan Pesilat Adu Jurus di Cimanggis Cup

BERTANDING : Dua orang pesilat sedang bertarung di Gelanggang A pada Kejuaraan Silat Cimanggis Cup

Read More...

2020 sampai 5 Tahun Kedepan Ada Formula E di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengendarai sepeda di konvoi mobil listrik di Bundaran Hotel Indonesia,

Read More...

Mobile Sliding Menu