DPRD Depok Desak Disdik Turun Tangan Tangani Harga Seragam SMPN

In Metropolis
Wakil Ketua DPRD Depok, Yetti Wulandari (kiri) dan Sekretaris Komisi D DPRD Depok, Tengku Farida Rachmayanti (kanan).

 

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, diminta tidak berpangku tangan dengan tingginya harga seragam yang dijual sekolah. Wakil rakyat ingin Disdik berperan mengarahkan dan membina sekolah agar realistis dalam pembebanan biaya kepada orangtua siswa.

Wakil Ketua DPRD Depok, Yetti Wulandari menegaskan, mengemukanya permasalahan besaran harga seragam di sekolah tentunya mesti disikapi pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan. Mekanismenya seperti apa, perlu dibuat formula yang tidak melanggar pranata hukum yang ada. Ini semata-mata untuk meredakan masalah dan menghindari situasi yang sama terjadi lagi ke depan.

“Nada-nada keberatan yang muncul, merupakan suara jujur masyarakat di tengah keadaan ekonomi kita yang belum kunjung membaik. Tidak hanya untuk didengar dan dihormati, tapi selangkah lebih maju harus bisa disikapi dengan konstruktif oleh pemerintah,” ujar Yetti, kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Rasio kewajaran harga, lanjutnya, menjadi salah satu instrumen indikator sebagian masyarakat yang kemampuan ekonominya heterogen. Pihak dinas perlu melegitimasi besaran harga seragam di setiap sekolah. Sehingga ada peran aktif untuk menjembatani dan berpihak tunggal kepada masyarakat. Dalam nuansa kemerdekaan, tidak pantas rasanya anak bangsa mengecap pendidikan dengan keserbasulitan soal seragam. “Faktanya, memang tidak semua masyarakat memiliki ketahanan ekonomi yang cakap. Pemerintah saya yakin akan mencerna dan bijak untuk peka menyelesaikan hal ini,” tegasnya.

Sementara, Sekretaris Komisi D DPRD Depok, Tengku Farida Rachmayanti mengaku, bisa memaklumi keluhan orang tua murid tentang mahalnya harga seragam. Tidak dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir beban hidup masyarakat terasa berat. Kondisi keluarga pada fase mendampingi anak-anak sekolah, memang butuh biaya besar. Sehingga se-arif mungkin penetapan harga hendaknya ramah pada kondisi keuangan keluarga

Menurutnya, Sekalipun dinas tidak intervensi terhadap besarannya. Namun, perlu adanya memberi arahan dan pembinaan kepada sekolah. Ini agar realistis dalam pembebanan biaya kebutuhan sekolah yang harus dikeluarkan orang tua siswa.

“Kontrol lapangan diperketat. Dan pastikan jangan sampai ada diskriminasi bagi peserta didik yang mungkin belum bisa mengenakan seragam sesuai aturan,” tegas Farida kepada Radar Depok, Kamis (23/08).

Saat menetapkan harga, kata Farida, pihak sekolah dan orang tua siswa harus ada sepakat. Atau rembuk besaran harga seragam tersebut. “Disdik dalam memberikan arahan dan pembinaan dalam bentuk fasilitator. Jadi ketika masih ada komunikasi yang tersumbat antara orang tua dan pihak sekolah dapat kata sepakat,” ujarnya.

Sebelumnya, salah satu orangtua siswa SMP Negeri 4 Depok, Rio Chandra mengeluhkan, harga seragam yang diajukan sekolah sebesar Rp995 ribu. Dengan harga segitu, siswa mendapat seragam olahraga, muslim, dan pramuka lengkap beserta peralatan kepramukaannya.

“Masa cuman tiga seragam saja harganya hampir Rp1 juta. Padahal kalau beli di luar sekolah mungkin tidak sampai segitu, saya termasuk keberatan dengan harga tersebut,” kata Rio kepada Harian Radar Depok, Rabu (21/8).

Menurut Rio, pihak sekolah harus lebih terbuka kepada orangtua siswanya termasuk merinci biaya seragam yang hanya bisa di beli di sekolah tersebut. Karena apabila hanya mengajukan nominal angkanya saja, membuat kekhawatiran adanya praktik pungutan liar di sekolah.

“Harusnya terbuka saja harga Rp995 ribu itu perseragamnya berapa dan apakah bisa dibeli salah satunya saja atau gimana. Itu harus jelas,” ujar Rio.

Senada dengan Rio, komplen tentang mahalnya praktik jual-beli seragam sekolah juga diutarakan oleh orangtua siswa SMP Negeri 6 Depok, sebut saja Mawar. Dia menuturkan, bahwa di SMP Negeri 6 Depok harga seragam sekolah juga mencapai Rp950 ribu.

Dia menyesalkan pihak sekolah yang baru mengumumkan ada jual-beli seragam di sekolah. Sebab dirinya sudah jauh-jauh hari membelikan untuk anaknya tersebut, salah satunya Pramuka.

“Saya kesal soalnya sudah beli seragam di luar termasuk pramuka lengkap yang ternyata di jual di sekolah. Jadinya kan mubazir, di satu sisi anaknya sudah tidak mau pakai seragam SD,” bebernya.(rd)

 

Jurnalis : Fahmi Akbar, Nur Aprida Sani

Editor : Pebri Mulya

You may also read!

Selain Naikan Harga Cukai, 3 Langkah Ini Juga Bisa Jadi Menekan Jumlah Perokok

ILUSTRASI   JAKARTA - Adanya kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen oleh pemerintah, dimaksudkan yang menjadi sasarannya adalah

Read More...

ICW Curiga Reivisi UU KPK, Karena 23 Anggota DPR Jadi Tersangka

Ketua DPR Setya Novanto harus mendekam di penjara karena kasus korupsi yang menjerat dirinya. Selain

Read More...

Jelang HUT ke-74, PMI Gelar Lomba Edukatif

APEL : Ketua Panitia HUT PMI ke-74, Eka Bachtiar saat memberikan sambutan dalam apel pagi

Read More...

Mobile Sliding Menu