Ramai-ramai Sedot Air Tanah

In Utama
PENGGUNAAN AIR TANAH : Suasana pemukiman penduduk dan pertokoan di kawasan Jalan Margonda Raya. Penggunaan air tanah sampai saat ini masih banyak digunakan, untuk keperluan rumah tangga atau komersial di kawasan tersebut. Insert: Salah satu tempat cuci mobil di Jalan Margonda Raya, yang membutuhkan banyak air. Foto : AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM – Margonda amblas tinggal menunggu waktu. Hiruk pikuk padatnya jantung Kota Depok itu ternyata di dalam permukaan tanahnya, sudah teriak. Sering diambil tiap menit, jam dan setiap hari menjadi biang keroknya. Sejumlah apartemen, mal, hotel dan toko yang jumlahnya mencapai ribuan seenaknya menyedot air tanah. Ada yang bayar, banyak juga yang gratisan. Parahnya, lembaga pendidikan ternama memberikan contoh yang tidak baik.

Jumat (5/7) siang, lalu lintas di Jalan Raya Margonda Raya ramai lancar. Gedung dipenuhi kaca dan berkontur miring, menarik perhatian. Saat masuk gapura bertuliskan Universitas Gunadarma begitu besar. Ruangan demi ruangan dipenuhi mahasiswa yang sedang asik bercengkrama dengan teman sejawatnya.

Berjumpa di kantin, Reza Alkhatiri mahasiswa tingkat akhir ini sedikit banyak tahu sudut-sudut kampus. Tak berbicang banyak, Reza langsung mengajak menuju sudut-sudut bangunan. Kaki melangkah ke sebuah ruangan yang berada di utara kampus. Disana hanya sebuah ruangan kosong tanpa ada perlengkapan mesin pemompa air tanah.

“Saya nggak pernah lihat mesin pompa atau semacamnya, tapi kalau airnya emang kadang keruh dan ada serbuk tanahnya. Pernah juga keluarnya kecil,” jelas Reza dilorong kampusnya.

Terus menjelajahi setiap sudut yang berada di kampus, akhirnya ada sebuah bangunan yang tertutup rapat dan dalam keadaan terkunci rapat. Suara deru mesin bak pompa air begitu santer terdengar. Bangunannya cukup besar, kemungkinan lokasi tersebut jadi pusat penyedotan air tanah. “Iya ini ada ruangan yang tidak bisa dilihat siapa pun,” kata Reza mengakhiri penelusuran.

Kembali ke ruang sekretariat salah satu UKM, Jesica Intan salah satu mahasiswi angkatan 2015 tak mengetahui penggunaan air tanah yang kampusnya lakukan. Meski saat ini tak menemukan mesin pompa tersebut. Kamar mandi menjadi titik berikutnya, untuk mengetahui kebenaran penggunaan air tanah.

Ketika masuk dalam ruang kamar mandi yang cukup bersih, kualitas air bisa dikategorikan cukup bening. Tanpa ada serbuk tanah yang terlihat dalam bak yang berwarna terang. Seakan penggunaan air tanah berjalan lancar tanpa ada bekas yang tertinggal.

Sebagai dampak dari penggunaan air yang dilakukan kampus Gunadarma, gedung serta toko besar. Fransina warga Pondok Cina mengatakan, rumahnya sudah terbiasa mendapatkan kualitas air yang buruk. Sambil mengajak ke kamar mandi, Ina sapaan akrab ibu 3 anak ini menunjukan air yang berada bak mandi.

Memang dalam bak mandinya, air keruh terlihat jelas bahkan pada dasar baknya terlihat segumpal tanah membentuk potongan kecil persis seperti cacing.

“Gimana tidak jelek airnya, banyak yang pada pakai juga. Apalagi ruko yang di sepanjang Margonda. Kalau mereka lebih dalam ambil airnya, ya kita kan berarti dapat sisaan kadang nggak kebagian. Karena kita kan lebih rendah posisinya daripada dia,” bebernya sambil melayani kopi pesanan.

Penggunaan air tanah dalam membangun gedung Kampus D Gunadarma juga disinyalir warga sebagai biang keladi warga dalam memperoleh air.

Salah satu penjual makanan padang di Jalan Margonda Raya, Januar mengaku tidak mengetahui air yang digunakan di kedainya. “Saya tidak tahu, kan saya disini ngontrak, jadi air termasuk fasilitas,” ujar Januar.

Dia mengaku, kebutuhan air bersih digunakan untuk mencuci dan memasak, selain itu juga digunakan untuk kebutuhan kamar mandi. “Kami pakai untuk mencuci dan memasak, selebihnya untuk kebutuhan toilet,” terang Januar.

Ruko dan Toko tumbuh dan menjamur disepanjang Jalan margonda, saling berebut air tanah. Bahkan saat kemarau seperti sekarang, air tanah sulit. Salah satu warga di RT1/8, Kelurahan Pondok Cina, Beji, Nurimah mengeluhkan pasokan air tanah yang makin hari makin berkurang.

“Kemarin-kemarin sempet susah air, kalau keluar kecil banget. Kan warga harus berebut air sama ruko dan toko,” kata Nurimah.

Tidak hanya ruko dan toko, pengusaha cuci steam juga dianggap sebagai pemakai air terbanyak.

Menurut  Manager Penasaran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Asasta, Imas Darsih. Hampir seluruh toko dan ruko yang ada di Jalan Margonda Raya.

“Tidak hanya hotel, dan apartemen, bahkan kampus besar, ruko dan toko yang ada di Jalan Margonda Raya belum memasang PDAM,” tegas Imas.

Dia mengatakan, setiap bangunan pasti membutuhkan air, bahkan proyek bangunan yang baru berdiri juga memerlukan air. Namun sayangnya mereka tidak memasang PDAM, yang berarti menggunakan air tanah. “Kalau nggak pasang PDAM ya mereka pasti pakai air tanah,” tutur Imas.

Namun demikian, dia tidak mengetahui bagaimana mereka menyedot air tanah. “Itukan cara mereka, saya tidak tahu. Tapi menurut saya jangan pakai air tanah, karena akan merusak struktur tanah di Jalan Margonda,” beber Imas Darsih.

Selain di Jalan Margonda, pencurian air tanah juga terjadi di Jalan Raya Jakarta Bogor. “Beberapa perusahaan hanya membayar beban tetap saja ke PDAM, yang berarti pemakaian airnya nol. Terus mereka pakai air apa?,” tanya Imas.

Menurutnya, sejumlah tempat komersil yang masih menggunakan air tanah itu tersebar hampir merata di sejumlah wilayah, di antaranya Margonda, Jalan Raya Bogor dan Cinere.

“Dari data yang kami punya ada kurang lebih 20 tempat komersil seperti perusahaan, hotel dan apartemen yang masih menggunakan air tanah. Tentu saja ini mengkhawatirkan karena penggunaan air tanah berlebihan dapat menyebabkan kemiringan bangunan atau amblas dan berpotensi terjadinya longsor,” katanya.

Selain itu, penggunaan air tanah dalam jumlah besar di tempat-tempat komersil itu juga merugikan warga sekitar. Sebab, ketersediaan air tanah akan terus berkurang akibat disedot oleh pompa dengan kekuatan yang lebih besar.

Imas pun mengakui, ada banyak faktor penggunaan air tanah di tempat-tempat komersil masih saja terjadi di Kota Depok. Salah satunya adalah lemahnya pengawasan. “Pengawasan dari pemakaian air tanah pada tempat-tempat komersil kurang. Ijin adanya di provinsi, sementara pengawasan masih sangat lemah. Kita PDAM sifatnya hanya imbauan tidak bisa melakukan tindakan,” tuturnya.

Direktur Umum PDAM Tirta Asasta Kota Depok, Ee Sulaeman menerangkan, pihaknya selalu aktif menyurati perusahaan-perusahaan untuk menggunakan air PDAM. Informasi temuan di lapangan mereka khawatir air PDAM tidak cukup untuk mendistribusikan air kepada pelanggan.

“Air kami itu sangat banyak dan cukup untuk seluruh warga Depok ini. Setelah kami kirim surat berkali-kali dan menjelaskan kekhawatiran mereka, tapi tidak dapat respon hingga kini,” terangnya.

Secara regulasi, lanjut Sulaeman, masyarakat harus menggunakan air yang disediakan oleh Pemerintah Kota dalam hal ini PDAM Tirta Asasta. Tetapi proses di lapangan tidak berjalan sempurna, karena dalam regulasi ini tidak disertai dengan sanksi apabila tidak menggunakan air PDAM.

“Persoalan regulasi ini yang juga harus dibenahi oleh Pemkot Depok. Dari 20 persen penduduk yang baru menggunakan air PDAM, semoga semakin bertambah. Dengan menggunakan air PDAM, sama juga melindungi lingkungan sekitar,” pungkas Sulaeman.(rub/arn/san)

You may also read!

TPU Pedurenan Jadi Lokasi Kebakaran di Harjamukti, Kota Depok

UPAYA : Personil Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan saat berusaha memadamkan api yang melahap TPU

Read More...

‘Si Jago Merah’ Bakar Harjamukti

TERBAKAR : Terlihat seorang pengendara motor saat melintas di lokasi kebakaran. Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis,

Read More...

Mobil Remuk Tertimpa Pohon di Universitas Pancasila, Satu Orang Tewas

Mobil hancur karena tertimpa pohon di Universitas Pancasila. FOTO : JAWA POS   JAKARTA - Sebuah mobil

Read More...

Mobile Sliding Menu