PPDB Hari Pertama Hancur

In Utama

RADARDEPOK.COM, DEPOK–Pertama dalam sejarah di Kota Depok, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 jenjang SMA dan SMK Negeri, gaduh. Ribuan orangtua memadati seluruh sekolah sejak pukul 02:00 WIB dini hari (17/8). Kepadatan tidak dapat terbendung, hingga membuat kacau balau proses PPDB yang seharusnya berjalan kondusif.

Seperti di SMA Negeri 1 Depok yang berlokasi di Jalan Nusantara Raya, Kelurahan Depok Jaya, Pancoranmas misalnya. Antrean panjang dan mengular terjadi di lapangan sekolah menuju lokasi/kelas tempat pendaftaran. Diketahui para orangtua calon siswa ini datang sejak pukul 02:00 WIB untuk mendapatkan pelayanan pertama dari pihak sekolah.

Salah satu orangtua siswa yang berdomisili di Kramat Jaya Kecamatan Beji, Ratna mengaku sudah antre sejak subuh. Walaupun sudah mengantre lama, celakanya dia tetap tidak mendapatkan nomor antrean untuk memverifikasi data persyaratan anaknya saat PPDB hari pertama kemarin.

“Penerimaan siswa tahun ini kacau balau sistemnya, tidak jelas prosedurnya disini jadi kami kebingungan mengikuti mereka dioper sana-sini,” kata Ratna kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Dia mengungkapkan, sampai ada orangtua siswa yang jatuh karena terdesak dan terdorong oleh orangtua lain, saat hendak memasuki ruang pengambilan formulir pendaftaran. Dia menyesalkan tata cara proses pendaftaran sistem bebas zonasi seperti ini.

“Anak saya sekolahnya di Jakarta tapi saya tinggalnya disini. Saya ingin harus ada evaluasi dari pihak sekolah. Kesannya mereka tidak siap mengantisipasi kedatangan calon siswa yang membludak seperti ini,” ungkapnya.

Sama halnya dengan Bukman warga yang berdomisili di simpang Ramanda. Dia menyebut, seharusnya sekolah menetapkan suatu kebijakan untuk mengantisipasi terjadinya pembludakan antrean. Salah satunya dengan menggunakan sistem nomor antrean yang diberikan saat pengambilan formulir pendaftaran.

“Harusnya pas kasih formulir sekalian nomor antrean jadinya teratur, tidak seperti ini yang diberikan dulu formulirnya baru antre lagi ambil nomor antrean ya kacaulah. Harus segera diubah prosedurnya ini tidak bisa besok (hari ini) seperti ini lagi. Kecewa kami melihatnya sudah datang pagi tidak dapat apa-apa,” tangkas Bukman yang anaknya berasal dari SMP Mardiyuana.

Menanggapi adanya kericuhan dan kesembrawuratan saat proses PPDB hari pertama. Kepala SMA Negeri 1 Depok, Supyana mengatakan, membludaknya antrean disebabkan karena orangtua menjadikan SMAN 1, sebagai pilihan pertama dalam proses pendaftaran. Selain itu juga karena faktor ketakutan orangtua yang akan mengira anaknya tidak bisa masuk di sekolah tujuan tersebut.

“Proses pendaftaran itu selama seminggu, mendaftar di hari apapun tidak masalah. Karena mainset mereka takut anaknya tidak bisa lolos disini, sehingga mereka datang di hari pertama. Jadilah membludak seperti ini dan tidak dapat tertangani dengan maksimal,” kata Supyana saat ditemui di ruang kerjanya.

Akibat semakin panjangnya antrean, Supyana mengambil langkah cepat dengan menggunakan nomor antrean. Walaupun sebetulnya keputusan itu melanggar petunjuk pelaksana PPDB 2019, yang mengatur pembukaan pendaftaran sejak pukul 08:00-15:00 WIB. Keputusannya tersebut ternyata mendapat protes keras dari sejumlah orangtua siswa, dan berakhir pada penutupan paksa proses pendaftaran dan hanya membatasi pelayanan kepada 330 peserta.

“Mereka sudah datang dari pukul 02:00 WIB memaksa masuk ke sekolah, akhirnya jam 03:00 WIB kami buka gerbang. Kami evaluasi yang terjadi saat ini, sehingga esok (hari ini) diimbau orangtua datang dengan membawa formulir yang sudah diprint dirumah dari website SMAN 1 Depok. Datang kesini hanya mengambil nomor antrean di Pos Satpam pada pagi harinya,” papar Supyana.

Di lokasi yang berbeda, antrean juga mengular di SMAN 5 Depok yang berlokasi di Perumahan Bukit Rivaria Sawangan, Kecamatan Sawangan. Berdasarkan penjelasan dari petugas keamanan antrean juga terjadi mulai sejak pukul 03:00 WIB dini hari.

Pihak keamanan SMAN 5 Depok, Yusuf mengatakan, antrean sudah mengular di depan gerbang sekolah sedari pukul 03:00 WIB dini hari. Dimana, sudah ada sekitar ratusan orang yang berkumpul dengan membawa kendaraan.

“Untungnya orang tua berinisiatif untuk membuat nomor daftar urut antrean sendiri. Sehingga, jadi lebih kondusif pada saat dibuka gerbang pada pukul 05:30 WIB,” ucapnya kepada Radar Depok.

Sementara itu, Kepala SMAN 5 Depok, Ahmad Zarkasih menyebut, jumlah pendaftar di PPDB tahun ajaran 2019-2020 lebih ramai ketimbang di tahun sebelumnya. Karena rentan waktu pendaftarannya dalam kurun waktu sepekan, yakni dari tanggal 17-22 Juni 2019. Apalagi, waktu pendaftaran berpengaruh pada keterima atau tidaknya calon siswa.

Hal itu jika ada calon siswa yang memiliki nilai sama pada saat mendaftar. Jadi, dilihat siswa mana yang lebih dahulu waktu mendaftarnya. Jika masih dalam waktu yang sama, maka akan dilihat dari segi usia calon siswa tersebut, dimana yang lebih banyak usianya akan diterima lebih dahulu.

“Sekarang untuk pendaftaran di jenjang SMA dan SMK, tidak perlu ada legalisir Kartu Keluarga (KK) dan Akte Kelahiran. Para peserta cukup membawa KK dan Akte Kelahiran yang asli, lalu yang fotocopinya diserahkan ke pihak sekolah,” terang Zarkasih.

Anggota Komisi D DPRD Depok, Teuku Farida Rahmayanti turut menyoroti dan prihatin dengan jalannya proses PPDB SMAN/SMKN pada hari pertama. Menurutnya, sistem PPDB seharusnya bersifat akuntabilitas, transparan, dan berkeadilan. Sehingga dapat menekan angka pembludakan di sekolah.

“Harus ada evaluasi supaya orantua bisa lebih nyaman. Dengan pertimbangan rasio zonasi relatif lebih besar dibanding nilai UN, sementara sarpras terbatas ada penutupan kompetisi didalamnya,” paparnya.

Diketahui jumlah SMA Negeri di Depok hanya sebanyak 26 sekolah dan 4 SMK Negeri. Farida mengusulkan, dengan jumlah yang terbatas seharusnya pemerintah kembali melihat nilai UN sebagai modal awal pendaftaran ketimbang zonasi atau jarak dari rumah ke sekolah.

“Harus diseimbangkan lagi jangan sampai timpang tindih. Sebaiknya kembali ke sistem online dnegan nilai UN ditingkatkan dengan keterbatasan nilai sekolah, kompetisi harus tetap ada zonasi, bila perlu dibagi menjadi dua zonasi barat, timur dan tengah,” tutup Farida.

Pantauan Radar Depok, kepadatan PPDB tidak hanya di SMAN 1 dan SMAN 5. hampir diseluruh SMAN di Kota Depok. Begitu juga di SMKN 1 hingga 4, orangtua dan siswa rela mengantre dari pagi hingga sore.(san)

You may also read!

16 Kursi di Kabinet dari Partai, Sisanya Belum Diketahui

Presiden Joko Widodo (Jokowi).   JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana akan mengumumkan nama-nama untuk formasi

Read More...

Presiden Jokowi : Seabad Indonesia Pendapatan Rp27 Juta per Kapita per Bulan

Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).   JAKARTA - Rp 27 juta per kapita per bulan, itu menjadi

Read More...

LPM Duren Mekar Ajak Kembangkan Kebudayaan Betawi

BERSAHABAT : Ketua LPM Kelurahan Duren Mekar, Ahmad Khairul Kahfi (kanan) bersama Cablak diwilayah Kelurahan

Read More...

Mobile Sliding Menu