Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun 49 Tewas, 3 WNI Lolos, 2 Tertembak Di Masjid Selandia Baru

In Utama
SADIS : Gambar yang diambil dari video terduga pelaku penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3). IST

RADARDEPOK.COM, SELANDIABARU-Brenton Tarrant tidak asal-asalan ketika melakukan penembakan di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat (15/3). Melalui manifesto berjudul “The Great Replacement” yang dia buat sendiri, terungkap Tarrant sudah merencanakan aksi kejinya itu sejak lama. Dilaporkan Independent.ie, teroris asal Grafton Australia itu sudah berencana untuk melakukan penembakan massal selama dua tahun terakhir.

“Aku memulai rencana serangan ini sejak dua tahun terakhir. Kemudian menetapkan lokasi di Christchurch dalam tiga bulan terakhir,” katanya.

Dalam manifesto setebal 74 halaman itu, Tarrant memperkenalkan diri sebagai anti-imigran dengan para korban disebutnya sebagai “sekelompok penjajah”. Di manifesto tersebut, dia mengatakan ingin membebaskan tanah milik kaumnya dari “para penjajah”, dan terinspirasi dari Anders Breivik. Dilansir AFP, Breivik merupakan seorang ekstremis sayap kanan yang menyerang kantor pemerintah di Oslo, Norwegia, pada 22 Juli 2011 silam.

Dia meledakkan bom mobil di depan kantor pemerintah, dan melakukan penembakan di kamp musim panas sayap muda Partai Buruh di Pulau Utoya. Aksinya itu menewaskan 77 orang. Teroris yang kini berusia 40 tahun itu mengaku, dia membunuh para korban karena mereka mendukung multikulturalisme. Tarrant dalam manifesto mengutarakan dia adalah pria kulit putih dengan orangtua yang merupakan keturunan Inggris, Skotlandia, dan Irlandia.

“Saya hanyalah pria kulit putih biasa, dari keluarga biasa saja, yang memutuskan untuk berdiri dan memastikan keberlangsungan kaum saya,” katanya.

Dikutip oleh Daily Mail, dia menyerukan kematian bagi sejumlah pemimpin dunia seperti Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dia mengaku mendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih yang baru, serta keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Manajer gym di Grafton Tracey Gray sebagaimana diwartakan ABC menuturkan, pria berumur 28 tahun itu bekerja sebagai personal trainer di tempatnya. Gray berkata Tarrant bekerja sebagai pelatih gym setelah selesai sekolah pada 2009 hingga 2011, sebelum memutuskan melanglang buana. Tarrant diketahui sudah melancong di negara kawasan Asia Tenggara, timur Asia, hingga Eropa. Dia bahkan pernah singgah di Korea Utara (Korut).

Sebelumnya, Tarrant menyerang jemaah Masjid Al Noor itu ketika mereka menunaikan Salat Jumat, dan dilaporkan menyiarkan aksinya di Facebook. Selain di Masjid Al Noor, penembakan juga terjadi di Masjid Linwood yang berjarak sekitar lima km, dan menewaskan hingga 49 orang. Polisi Selandia Baru menyatakan mereka menangkap empat orang, terdiri dari tiga pria dan satu perempuan, beberapa jam setelah penembakan. Di mobil yang dinaiki oleh keempat terduga teroris tersebut, polisi berujar terdapat bom rakitan yang langsung dinetralkan militer.

Komisaris Polisi Mike Bush dalam konferensi pers menyatakan korban tewas bertambah menjadi 49 orang. Bush menjelaskan, 41 di antaranya ditemukan di Masjid Al Noor yang berlokasi di kawasan Deans Avenue.

Satu lokasi lainnya terletak di Linwood. Dia melanjutkan, serangan teroris tersebut sudah direncanakan dengan baik. “Seluruh masjid di negeri ini sudah berada dalam penjagaan,” katanya.

Awak media sempat menanyakan mengapa empat terduga teroris yang ditangkap beberapa jam setelah penembakan tidak masuk dalam daftar pengawasan negeri “Kiwi”. Bush mengatakan, empat orang yang terdiri dari tiga pria dan satu perempuan tersebut juga tidak masuk dalam daftar penegak hukum Australia.

Salah satu dari teroris itu, yang dilaporkan bernama Brenton Tarrant, merupakan warga negara Australia. Dia dikabarkan tinggal di Grafton.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan, insiden yang terjadi saat shalat Jumat itu adalah hari terkelam dalam sejarah negara itu. “Sudah jelas bahwa peristiwa ini bisa dideskripsikan sebagai serangan teroris,” ujar Ardern dalam konferensi pers dengan wajah kelabu dikutip AFP.

Menlu Indonesia, Retno Marsudi, mengabarkan bahwa enam warga negara Indonesia yang tengah berada di dalam Masjid Al Noor saat peristiwa terjadi. Tiga orang telah berhasil dikontak dan dipastikan selamat.

Juru bicara Kemlu RI, Armanatha Nasir, menyatakan dua WNI–ayah dan anak–tertembak peluru. Kini sang ayah dirawat di ICU Christchurch Public Hospital, sementara si anak dirawat di ruang biasa.

KBRI Wellington, menurut Armanatha, terus berkordinasi dengan otoritas setempat, kelompok WNI, dan rumah sakit di Christchurch.

Presiden RI Joko “Jokowi” Widodo mengecam keras peristiwa tersebut, terlepas siapapun yang menjadi pelakunya.

“Dan kami, pemerintah Indonesia, menyampaikan duka mendalam kepada korban akibat aksi tersebut. Tim perlindungan WNI sedang menuju ke lokasi,” kata Presiden yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Humbang Hasundutan, Kota Doloksanggul, Sumatra Utara, Jumat (15/3).

Christchurch, kota kecil di kawasan selatan Selandia Baru, pernah menjadi perbincangan dunia ketika diguncang gempa pada 2011. Polisi mengatakan terdapat dua bom rakitan yang ditemukan di dalam mobil empat terduga teroris, dengan militer dilaporkan sudah menetralkannya. Dua masjid tersebut berlokasi sekitar lima kilometer. Tidak diketahui apakah teroris yang menyerang Masjid Al Noor juga melakukan aksinya di Linwood.(JPC/kom)

 

You may also read!

ABG Enjoy Bercinta di Depan Polisi Kumpul Kebo Dikontrakan Pancoranmas

RADARDEPOK.COM, DEPOK-Remaja di Kota Depok sudah kebablasan dalam bergaul. Senin (25/3) dini hari, sebuah kontrakan, yang sempat menjadi base

Read More...

603 Siswa SMK Numpang UNBK

RADARDEPOK.COM, DEPOK–Seluruh siswa kelas XII SMK Negeri dan Swasta di Indonesia menjalani Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Senin-Kamis (25-28/3).

Read More...

BTFA Tembus 16 Besar Piala RK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Beji Timur Football Academy (BTFA) kembali membuktikan eksistensinya di kancah pembinaan pesepak bola usia dini Jawa

Read More...

Mobile Sliding Menu