Guru Besar RIK UI Harus Inovatif

In Metropolis
DILANTIK: Prof. Budi Haryanto (kiri), Prof. Asri Adisasmita (tengah), dan Prof. Abdul Mun’im (kanan) foto bersama usai dikukuhkan menjadi Guru Besar di Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK). Foto: UI FOR RADAR DEPOK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Universitas Indonesia (UI) kembali mengukuhkan tiga Guru Besar dari Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK), mereka adalah Prof. dr. Asri C. Adisasmita, MPH., M.Phil., Ph.D, Prof. Dr. R. Budi Haryanto, SKM., M.Kes, M.Sc., dan Prof. Dr. Abdul Mun’im, M.Si, Apt. Ketiganya diharapkan mampu berinovasi dalam mengimplementasikan ilmu, melalui pemanfaatan teknologi di era 4.0.

Guru Besar Bidang Ilmu Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Prof. Asri Adisasmita mendorong para epidemiolog memanfaatkan jaringan teknologi untuk berinovasi mewujudkan implementation science. Misalnya, menetapkan hasil temuan penelitian menjadi suatu intervensi nyata yang berdampak bagi kesehatan masyarakat.

“Contoh pelaksanaan Implementation Science di Indonesia adalah program Maternal Death Surveillance and Response yang sedang dikembangkan Kementerian Kesehatan. Sistem ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mencegah terjadinya kematian pada ibu,” kata Prof. Asri, dalam pidato pengukuhannya.

Sedangkan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kesehatan Lingkungan FKM UI, Prof. Budi Haryanto memaparkan pidato tentang Perubahan Iklim dan Polusi Udara di Indonesia: Dampak Kesehatan dan Strategi Pengendaliannya.

Menurutnya, perubahan iklim di Indonesia telah mempengaruhi ekonomi, kemiskinan, kesehatan manusia, dan lingkungan termasuk meningkatnya emisi polusi udara. Sektor transportasi berkontribusi paling banyak hingga 80 persen, diikuti emisi industri, kebakaran hutan, dan rumah tangga.

“Sebanyak 50 persen dari angka kesakitan di Indonesia saat ini terkait dengan polusi udara,” tegasnya, saat pengukuhan Guru Besar di Balai Sidang UI.

Guna melakukan pencegahan dan pengendalian polusi udara pada sumber pencemarannya paling tidak dapat dilakukan dengan cara perbaikan kualitas bahan bakar. Lalu peningkatan teknologi mesin kendaraan bermotor, sarana dan prasarana infrastruktur, serta manajemen transportasi.

“Semakin cepat penerapan kebijakan penggunaan bahan bakar kualitas Euro 4 semakin cepat pula terjadinya penurunan konsentrasi polusi udara,” papar Budi.

Terakhir, Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Bahan Alam Fakultas Farmasi UI, Prof. Abdul Mun’im menjelaskan pidato berjudul Pemanfaatan Teknologi Hijau pada Pengembangan Bahan baku dan Obat Herbal. Dimana dalam pengembangan obat herbal diperlukan sentuhan teknologi agar menghasilkan produk unggulan dan berkualitas.

Dalam memperoleh obat-obatan herbal, harus melewati proses yang menjadi perhatian dan menentukan kualitas. Diantaranya ekstraksi, proses ini memiliki tantangan tersendiri karena harus memilih pelarut yang bisa mengekstraksi senyawa aktif secara maksimal, aman, ekonomis, tidak mudah terbakar dan dapat didaur ulang.

“Sebuah pelarut pengekstrasi bernama Deep eutectic solvent (DES) sebagai alternatif pelarut yang lebih aman. Tantangan penggunaan DES ada pada permasalahan stabilitas, karena produk ekstrak berupa cairan, dan beberapa pelarut sangat higroskopis sangat menyulitkan dalam pembuatan sediaan padat,” pungkasnya. (san)

You may also read!

12 Jamaah Umrah Meninggal

RADARDEPOK.COM, DEPOK-Ini sungguh tragis dan menyesakan hati. Niat tulus ingin beribadah ke tanah suci. 12 korban jamaah korban biro

Read More...

Kapolda Pantau Penghitungan Suara

RADARDEPOK.COM, DEPOK– Kapolda Metro Jaya, Irjen Gatot Eddy Pramono, melihat langsung proses penghitungan suara Pemilu serentak 2019 di Kota

Read More...

Calon Pemudik Masih Sepi

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Menjelang musim mudik Lebaran 2019, aktivitas di Terminal Jatijajar masih tampak sepi, kemarin (23/4). Hanya ada

Read More...

Mobile Sliding Menu