Sistem Plat Kendaraan Ganjil Genap Usai Pemilu

In Metropolis
PENERAPAN GANJIL GENAP – Sejumlah kendaraan melintas di kawasan Jalan Margonda Raya. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) memperkirakan penerapan sistem pelat nomor ganjil genap di kawasan tersebut akan dilakukan seusai Pemilu 2019 dan akan diberlakukan pada akhir pekan. Foto: Ahmad Fachry / Radar Depok

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Jalan raya di Kota Depok khususnya Margonda, hingga saat ini masih saja padat. Bahkan tak jarang ketika jam sibuk kendaraan dari dua arah di Margonda menghasilkan kemacetan yang panjang hingga ke pertigaan jalan Dewi Sartika dan Kartini. Padahal, jalur tersebut sudah dibantu dengan diberlakukannya Sistem Satu Arah (SSA).

Menyikapi hal ini, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) bersama Dinas Perhubungan Kota Depok bakal menerapkan sistem tambahan. Yaitu, ganjil genap (Gage). Tujuannya mengurai kemacetan di Jalan Raya Margonda.

Direktur Prasarana BPTJ, Heru Wisnu Wibowo mengatakan, keberadaan gedung tinggi seperti apartemen, pusat perbelanjaan, dan restoran di Kota Depok memungkinkan salah satu penyebab macet di ruas jalan tersebut. Serta minimnya luas jalan juga berimbas pada kemacetan.

“Depok jangan cuma memikirkan bangunan saja tanpa memikirkan transportasinya seperti apa. Waktu itu saya pernah bicara dengan Dishub Depok mau menerapkan Gage di Sabtu-Minggu, tapi nanti setelah 17 April 2019,” kata Heru kepada Radar Depok, kemarin.

Pembicaraan soal Gage antara BPTJ dengan Dishub Depok baru dibahas sekitar Februari 2019. Heru menegaskan, Gage lebih tepat diterapkan saat hari kerja (weekday) ketimbang akhir pekan. Kenyataannya pada hari kerja ruas Jalan Raya Margonda tidak sepadat Sabtu dan Minggu.

“Kalau di DKI Gage-nya hari kerja, tapi Depok justru saat weekend karena melihat kondisi di Depok (Margonda) macet. Saat hari kerja, tergolong sepi karena penduduknya hampir sebagian bekerja di Ibukota,” jelasnya.

Saat ditanya lebih jauh tentang penerapan Gage setelah 17 April 2019 atau tepatnya usai Pemilu. Heru enggan memberikan komentar lebih jauh, dia meminta agar mengonfirmasi lebih lanjut ke Dishub Kota Depok.

“Langsung saja ya tanyakan ke pak Kepala Dishub Depok, saya sudah dibisikin sama Kadishub katanya nanti pak akan saya terapkan ganjil genap setelah 17 April, begitu,” ujar Heru.

Terpisah, Kepala Dishub Kota Depok, Dadang Wihana membantah pernyataan yang dilontarkan oleh BPTJ tersebut. Dia menyebut, pihaknya belum pernah membahas rencana teknis penerapan Gage setelah 17 April 2019.

“Belum ada pembahasan dengan BPTJ terkait Gage termasuk tanggal penerapannya. Kebijakan besar yang menyangkut kepentingan banyak pihak semacam itu harus dikaji dulu. Kami tidak bisa sekonyong-konyong begitu dalam menerapkan kebijakan,” ucap Dadang kepada Radar Depok.

Dadang menilai, ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum akhirnya sampai pada penerapan kebijakan. Terdiri dari, kajian ilmiah, kajian teknis, diskusi kelompok terfokus yang melibatkan berbagai pihak, koordinasi antar pihak dengan BPTJ dan Kepolisian, serta uji coba penerapan.

“Sekarang ini kebijakan tersebut tengah dikaji oleh internal Dishub Depok. Kalau hasil kajian menyatakan perlu adanya penerapan, nanti kami pasti ajak semua pihak duduk bersama untuk berdiskusi,” paparnya.

Dia menuturkan, sambil menunggu kajian soal Gage selesai. Dishub Depok memberlakukan rekayasa lalu lintas seperti SSA untuk mengurai kepadatan kendaraan di jalan raya. Selain itu, pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk mengatur pola perjalanan mereka di akhir pekan.

“Jika tidak perlu keluar rumah pakai kendaraan pribadi sebaiknya tidak usah keluar rumah. Jika terpaksa keluar rumah sebaiknya menggunakan angkutan umum,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu pengendara roda empat, Azizul Hakim menyatakan ketidasetujuannya terhadap pemberlakukan Gage tersebut. Sebab, dengan sistem yang saat ini dijalankan (SSA) ditambah pertemuan jalur Gage akan membuat kendaraan sulit mencari jalan untuk mengarah ke Jakarta.

“Nanti jadinya muter-muter, kalau mau ke Lenteng Agung, Jakarta Selatan atau Cibubur, Jakarta Timur harus lewat mana? Masa naik ke fly over dulu baru belok ke Beji dulu. Jadi menyusahkan,” pungkasnya. (san)

You may also read!

Korban 21 Mei Tembus Dada-Leher

DEPOKRADARDEPOK.COM, DEPOK–Awan kelabu menyelimuti rumah dengan No51 RT2/7, Kelurahan Grogol, Limo. Isak tangis keluarga pecah sejadinya ketika jenazah Farhan

Read More...

Habis Magrib Langsung Pecah

RADARDEPOK.COM, DEPOK- Jakarta Siaga Satu, kondisi Jakarta lebih mencekam dari hari sebelumnya, Selasa (21/5). Sejumlah ruas jalan yang menuju

Read More...

Korban 21 Mei Tembus Dada-Leher

RADARDEPOK.COM, DEPOK–Awan kelabu menyelimuti rumah dengan No51 RT2/7, Kelurahan Grogol, Limo. Isak tangis keluarga pecah sejadinya ketika jenazah Farhan

Read More...

Mobile Sliding Menu