Dari Sebatas Kata Menjadi Karya Nyata Industri 4.0.

In Ruang Publik

Oleh:

Heart Parasian PR Zuriel*) dan Bona Simanungkalit**)

 

Presiden Republik Indonesia, Ir. H. JokoWidodo dalam pidatokenegaraan HUT ke-73 Kemerdekaan RI di depan DPR dan DPD di gedung parlemen telah menyampaikan “Revolusi Industri 4.0 yang sudah mulai mengubah wajah peradaban manusia. Kita harus bisa bicara tentang Artificial Intelligence, Internet of Things dan berbagai kemajuan teknologi yang hampir setiap detik selalu muncul yang baru”.Sementara disisi lain Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono masih belum menguasai Industri 4.0, seperti yang diakatakan pada PUPR EXPO 4.0 tanggal 11 Februari 2019 kemarin”Yang namanya 4.0, saya sendiri enggak menguasai. Tapi ini pasti berhubungan dengan beyond internet.Tapi bukan berarti 4.0 ini meniadakan SDM namun justru membutuhkan SDM yang lebih handal”.Hal ini membuktikan bahwa tidak semudah mengatakan untuk mengejar ketertinggalan pengetahuan apalagi untuk menguasai.

Industri 4.0

Konsep revolusi industri 4.0 ini merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab pada World Economic Forum.Industri 4.0, merupakan penamaan terhadap revolusi industri yang keempat, tren pada revolusi ini adalah otomatisasi seperti cyber-physical systems, internet of things, cloud computing, cognitive computing serta artificiall intelligence. Dan prinsip industri 4.0 ini adalah interoperabilitas, transparansi tentang informasi, bantuant eknis dengan keputusan yang mandiri.

Ada empat factor penggerak industri 4.0, yang pertama adalah peningkatan volume data, daya komputasi dan konektivitas, kedua adalah kemampuan analitis dan bisnis intelijen, ketiga yaitu bentuk baru dari interaksi human-machine, sepertitouch interface dan system augmented-reality dan terakhir adalah pengembangan transfer instruksi digital kedalam bentuk fisik, seperti robotic dan cetak 3D.

Ide utama dari industri 4.0 adalah “Smart Factory” sebagai contoh adalah pabrik dilengkapi dengan mesin-mesin cerdas dan memiliki konektivitas jaringan yang terhubung dengan mesin-mesin lain sehingga segera mampu membuat keputusan mandiri. Kemampuan otomatisasi ini dapat menyebabkan hilangnya pekerjaan dengan biaya tinggi, yang selama ini dikerjakan oleh manusia. Tentu tidak bisa hanya melihat dari satu sisi, ada keuntungan lain industri 4.0 yang dapat diambil dari kondisi tersebut seperti pemangkasan biaya produksi dan peningkatan efisiensi kerja. Riset World Economic Forum di Afrika Selatan mendukung dengan memperlihatkan angka pengurangan biaya operasional sebesar 3.6% per tahun, sedangkan efisiensi kerja meningkat sebesar 4,1% per tahun. Sejalan dengan itu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Universitas Gajah Mada mengatakan implementasi industry generasi keempat atau industri 4.0 akan membawa banyak perubahan positif bagi Indonesia, diantaranya adalah mampumembuatnett export (eksporbersihdikurangimpor) menjadi sepuluh persen pada tahun 2030 atau sekitar 13 kali lipat dibandingkan saat ini, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat.

Dampak Industri 4.0

Dampak industri 4.0 tidak hanya dirasakan oleh stakeholders di bidang manufaktur, tetapi juga dirasakan masyarakat umum dengan sudah mulai bisa mengontrol home appliances peralatan rumah tang adengan smartphone. Juga masyarakat sudah mulai biasa melakukan interaksi antara mesin di rumah dengan smartphone, bahkan beberapa pemilik rumah sudah bisa mengakses keadaan rumah dari jarak jauh melalui CCTV dengan smartphone. Pemakaian solar sel dapat mengkontrol biaya dan penggunaan setiap hari listrik yang diproduksi panel solar sel tersebut, keuntungan lain yang didapatkan oleh masyarakat adalah bisnis rumahan sekarang sudah bisa dengan mudah diakses melalui smartphone yang dulu harus menyewa lapak baru bisa bertemu dengan pembeli.

Namun ada kekuatiran akan mempermudah bergeraknya sumber daya finansial ke pihak luar, sebaiknya peraturan yang diberlakukan akan dapat mengatasi permasalahan yang akan timbul dikemudian hari.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut dimana Indonesia memilik sumber daya manusia yang banyak serta sumber daya alam yang melimpah, namun kualitas sumber daya manusia yang diduga belum mumpuni sehingga produktivitas tenaga kerjanya pun rendah. Produktivitas tenaga kerja Indonesia berada pada urutan keempat di tingkat ASEAN pada urutan ke-11 dari 20 anggota ASEAN Productivity Organisation. Keadaan ini menjadi penting terutama mahasiswa, karena mahasiswa adalah sumber daya manusia yang sangat potensial terutama pengetahuan tentang industri 4.0 sehingga kesadaran tentang pentingnya pengetahuan industri 4.0 adalah untuk mampu menguasai teknologi industri 4.0 guna mengejar ketertinggalan dan mampu menjadi yang terdepan.

Pengetahuan dan Sikap terhadap Industri 4.0

Dari hasil penelitian melalui kuesioner dengan menyebar melalui internet terhadap mahasiswa aktif periode Januari-Februari 2019 dengan berisikan pertanyaan seputar Industri 4.0. Peserta responden yang menjawab kuesioner sebanyak 170 mahasiswa, perempuan hampir dua kali lebih banyak dari pada pria (35,3%) dengan 21 perguruan tinggi baik negeri dan swasta (84,7%) yang semuanya berada di pulau Jawa. Pengelompokan jurusan hanya peminatan dengan saintek sebesar 71,2% dan sisanya kelompok sosial humaniora. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan industri 4.0 yang dijawab oleh responden seperti apakah anda mengetahui tentang Industri 4.0, tahukah anda tahun 2016 awal mula revolusi Industri 4.0, tahukah anda World Economic Forum pengesah revolusi Indsutri 4.0, tahukah anda Internet of Things dan e-Commerce sebagai penanda masuknya Industri 4.0, tahukah anda Industri 4.0 lebih efisien dari Industri 3.0, tahukah anda kunci dari Industri 4.0 adalah integrasi kesemua pertanyaan ini ternyata responden menjawab tidak tahu diatas 50%.

Sedangkan pertanyaan tentang tahukah anda dengan masuknya Industri 4.0 terjadi pengurangan tenaga kerja, tahukah anda dengan masuknya Industri 4.0 proses kerja lebih mudah dan efisien, tahukah anda tentang Internet of Things, tahukah anda “Google Home” merupakan salah satu produk Internet of Things keempat pertanyaan ini diatas 51% menjawab mengetahui. Selanjutnya sikap responden akan dibuat dalam bentuk skala seperti sangat tidak setuju, tidak setuju, biasa saja, setuju, sangat setuju untuk mempermudah menjadi kelompok sangat tidak setuju dan tidak setuju, biasa saja (netral) dan setuju dan sangat setuju terhadap pertanyaan tentang sikap terhadap industri 4.0.

Berikut adalah pertanyaan sikap seperti anda sudah merasakan dampak Industri 4.0 yang tidak setuju sebesar 3,6% dan setuju 54,1% sisanya biasa saja, pertanyaan pengetahuan tentang Industri 4.0 itu penting yang tidak setuju 2,4% dan setuju 74,1% selebihnya biasa saja, pertanyaan Industri 4.0 lebih efisien dari revolusi industri sebelumnya yang tidak setuju 1,8%, setuju 64,7% sebagian lain adalah biasa saja, pertanyaan proses kerja di Industri 4.0 lebih efisien dan lebih cepat yang tidak setuju 1,8% dan setuju sebesar 72,4% selebihnya biasa saja, pertanyaan Internet of Things adalah bagian dari Industri 4.0 yang tidak setuju 2,4% dan setuju 68,8% sisanya netral, pertanyaan “Google Home merupakan produk Internet of Thingsyang tidak setuju 3% dan setuju sebanyak 71,2% selebihnya biasa saja dan pertanyaan terakhir tentang sikap responden adalah integrasi adalah kunci dari Industri 4.0 yang tidak setuju sebesar 1,8% dan setuju 65,2% selebihnya netral.

Mengejar Ketertinggalan Industri 4.0

Gambaran diatas dapat menunjukkan perempuan lebih banyak sekitar dua kali, perguruan tinggi swasta berpartisipasi 5,5 kali lebih banyak dibanding perguruan tinggi negeri, jurusan sains dan teknologi 2,5 kali lebih banyak dibanding jurusan sosial humaniora, ternyata lebih dari separuh tidak mengetahui tentang Industri 4.0. Sedangkan sejarah awal, pengesah dan penanda, efisiensi dan integrasi Industri 4.0  lebih dari 56% tidak mengetahui dan hanya separuhnya mengetahui pengurangan tenaga kerja, proses mudah, Internet of Things dan Google Home tentang Industri 4.0. Sementara sikap responden terhadap dampak, pentingnya pengetahuan, efisiensi, Internet of Things dan Google Home merupakan suatu integrasi lebih dari separuh setuju akan hal tersebut.

Sehingga terlihat ada kesenjangan antara pengetahuan dan sikap terhadap Industri 4.0, kesenjangan ini harus segera dibenahi dan diantisipasi dengan memberikan pengetahuan baik secara formal maupun tidak formal terhadap mahasiswa yang merupakan sumber daya manusia yang sangat potensial untuk menguasai pasar dalam waktu dekat. Kegiatan promosi, pertandingan serta eksibisi yang barkaitan dengan Industri 4.0 dilakukan lebih banyak dan sering dengan memasukkan dalam kalender tahunan di setiap kabupaten dan kota di Indonesia.

 

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

*)Mahasiswa Teknologi Informatika, Universitas Gunadarma

**)Dosen Epidemiologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

 

You may also read!

603 Siswa SMK Numpang UNBK

RADARDEPOK.COM, DEPOK–Seluruh siswa kelas XII SMK Negeri dan Swasta di Indonesia menjalani Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Senin-Kamis (25-28/3).

Read More...

BTFA Tembus 16 Besar Piala RK

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Beji Timur Football Academy (BTFA) kembali membuktikan eksistensinya di kancah pembinaan pesepak bola usia dini Jawa

Read More...

Usai Fisik Kini Latihan Teknik

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Satu demi satu periodisasi program latihan dilalui tim pencak silat pelajar Kota Depok, demi hasil terbaik

Read More...

Mobile Sliding Menu