Menaker: Demo di Morowali Bukan Soal TKA China

In Utama
SERIUS: Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri tampak serius membaca koran Radar Depok, di ruang kerjanya, kemarin (25/1). Foto : JUNIOR/RADAR DEPOK

JAKARTA – Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menegaskan, adanya demo buruh yang menolak tenaga kerja asing atau TKA asal Cina adalah hoax.

Dia mengatakan, demo tersebut juga bukan demo yang dilakukan oleh TKA Cina.

“Demo tersebut merupakan demo buruh di Morowali terkait Upah Minimum Sektoral Kabupaten,” kata Hanif kepada Radar Depok, di ruang kerjanya, kemarin (25/1).

Kabar hoax tersebut muncul melalui berbagai sosial media, seperti twitter dan juga youtube. Video tersebut dikabarkan mulai disebar pada Kamis (24/1). Dalam video yang berdurasi sekitar 2 menit tersebut tampak ratusan pekerja yang mengenakan seragam putih berlarian. Dari sudut pengambilan gambar, video diambil dari sudut sebuah bangunan tinggi pada proyek pembangunan yang belum rampung.

Dalam narasi hoax yang diunggah, disebutkan bahwa demo tersebut merupakan demo yang dilakukan oleh pekerja lokal yang cemburu dengan adanya TKA China yang ada di sana. Hal ini karena tidak adanya kesetaraan upah maka sebagian dari pekerja tersebut menuntut adanya demo.

Hanif mengatakan demo di Morowali tersebut saat ini tengah ditangani oleh pihak otoritas setempat. Ia meminta supaya seluruh masyarakat supaya tak termakan isu hoax tersebut.

“Jangan ikut sebarkan hoax,” kata Hanif.

Menteri Hanif mengatakan kawasan Morowali memang dibangun dengan investasi dari China. Sehingga, adanya pekerja di sana adalah konsekuensi.

“Tenaga kerja China yang ada di Indonesia sebagian besar adalah tenaga kerja China yang muncul sebagai konsekuensi adanya investasi dari sebuah negara,” kata Hanif.

Tapi, lanjutnya, jumlah pekerja China di sana tidak sampai 90 persen seperti yang diberitakan. Hanya 10,7 persen saja dari total lapangan pekerjaan untuk 28 ribu pekerja yang disediakan investor.             “Dari 28 ribu lapangan kerja yang tersedia, tiga ribu orang diisi tenaga kerja dari Cina dan 25 ribu orang atau sebagian besar diisi oleh tenaga kerja Indonesia,” jelasnya.

Ia juga menegaskan tidak benar tenaga asing ini merebut lapangan kerja lokal. Harusnya, lanjut ia, malah bersyukur karena kehadiran investor ini bikin lapangan kerja baru. “Kalau tidak ada investasi dari Cina justru 28 ribu lapangan kerja yang ada di Morowali menjadi tidak ada. Jadi jangan salah paham memahami masalah investasi dan tenaga kerja asing,” tegas Hanif.

Seperti diketahui, kawasan industri Morowali seluas 47.000 hektare ini merupakan area tambang nikel yang di dalamnya terdapat 16 perusahaan dari hilirisasi feronikel, pengelolaan pelabuhan hingga jasa keamanan. Saat ini jumlah investasinya disebut mendekati 7,8 miliar dolar AS.  (gun/**)

You may also read!

Berpikir Cerdas Sebelum Berujar

Pengamat Pendidikan nasional dan Sosial Oleh Drs. Supartono, M.Pd. Kendati Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) telah memakan

Read More...

BPJS Kesehatan Gencar Sosialisasi

  Terjun Langsung ke Masyarakat DEPOK – Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat

Read More...

Sukma Food Launching Lima Gerai

  DEPOK – Sukma Food yang berada di wilayah Kecamatan Sukmajaya kemarin (14/2) secara serentak meresmikan lima gerai. Adapun

Read More...

Mobile Sliding Menu