Ormas Islam Desak Perda LGBT

In Utama

DEPOK-Organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Depok, kompak menyerukan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Kemarin, secara resmi Front Pembela Islam (FPI) Depok menyurati Pemkot Depok, guna  untuk meminta waktu bertemu dengan pimpinan daerah, guna menyegerakan pembentukan aturan tersebut.

Kepada Harian Radar Depok, Ketua FPI Kota Depok, Agus Rahmat menegaskan, telah menyurati Pemkot Depok, untuk meminta waktu bertemu dengan pimpinan daerah. Surat tersebut guna membahas maraknya LGBT di Kota Depok. Dia mengatakan, jika pemerintah tidak segera menyelesaikan Perda LGBT. Maka, pihaknya mengaku akan melakukan penertiban dengan cara mereka.

Aksi seks bebas dan LGBT di Kota Depok, kata dia sudah sangat memprihatinkan. Terdapat sejumlah apartemen dan hotel di Kota Depok yang membiarkan praktik seks bebas. Dia mengatakan hal tersebut juga sudah menjadi sorotannya. “Kemarin saya sudah sampaikan suratnya, tapi kami belum mendapat jawaban kapan kami bisa diterima dengan resmi,” tegas Agus Rahmat kepada Harian Radar Depok, Rabu (5/12).

Dia mengaku, akan menunggu Pemkot Depok. Namun, jika suratnya tidak digubris, pihaknya akan mendatangi kembali Pemkot Depok. “Kami masih menunggu, kalau responnya lambat, kami goyang. Ini menyangkut Kota Depok yang religius. HIV dan Aids terus bertambah,” kata Agus.

Hal senada disampaikan Ketua Muhammadiyah Kota Depok, Idrus Yahya. Menurutnya prilaku LGBT merupakan prilaku yang menyimpang, dan diharamkan oleh Islam. Sehingga tidak ada tawar-menawar lagi tentang larangan LGBT, khusunya di Kota Depok. “Ini sudah pasti haram, sudah tidak ada perdebatan lagi soal ini,” tegas Idrus Yahya.

Pihaknya menegaskan, akan melakukan pertemuan internal di Muhammadiyah Kota Depok, untuk mendorong Pemkot Depok melakukan action guna mencegah aksi LGBT di Kota Depok. “Kami akan datangi Pemkot Depok, tapi sebelumnya kami akan melakukan rapat internal,” tukas Idrus Yahya.

Terpisah, mantan Ketua PBNU Kota Depok, Raden Salamun mengatakan, sangat mengecam keras aksi LGBT di Kota Depok, sebagai salah satu penyebab meningkatnya angka HIV dan AIDS di Kota Depok. Dia juga mengaku akan mendorong pemerintah Kota Depok untuk menyelesaikan Perda LGBT. Dia menyampaikan pihaknya siap mendorong pemerintah untuk menekan tindak amoral tersebut. “Kami dukung agar perda tersebut segera dilakukan di Kota Depok, kita harus menekan tindakan yang dapat menimbulkan bencana termasuk HIV AIDS,” terangnya.

Perlu diketahui, Direktur Program Kuldesak, Hendra Cabe mengatakan, peningkatan penderita ODHA memang selalu ada, bahkan mencapai 10 persen. “Peningkatan selalu ada, kali ini peningkatan disumbangkan dari perilaku LGBT,” kata Hendra kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Berdasarkan data Kuldesak periode Januari-Desember 2017, terjadi perubahan dan perkembangan data dalam laporan pasca Kegiatan Validasi dan Harmonisasi Data bersama di Kota Depok. Dari Januari hingga Desember 2017 jumlah infeksi HIV yang baru dilaporkan sebanyak 367 orang.

Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-50 tahun sebantak 70 persen, diikuti kelompok umur 15-24 tahun 20 persen, dan kelompok umur 1-14 tahun 10 persen. Sedangkan rasio perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2 banding 1.

Sedangkan persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada Heteroseksual sebanyak 50 persen, Lelaki Seks Lelaki sebanyak 22 persen, Injection Drug Users (IDU) sebanyak 18 persen, Waria sebanyak 5%, dan anak-anak yang tertular karena orang tuanya sebanyak 5 persen.

Sedangkan bagi penderita AIDS dari bulan Januari hingga Desember 2017 jumlah AIDS yang dilaporkan baru sebanyak 13 orang dengan persentase penderita tertinggi pada kelompok umur 25-50 tahun sebanyak 85 persen, diikuti kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 5 persen dan kelompok umur 1-14 tahun sebanyak 10 persen.

Sementara perbandingan rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 1 banding 1. Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada Heteroseksual sebanyak 75 persen, Injection Drug Users (IDU) sebanyak 20 persen, dan Anak sebanyak 5 persen.

“Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 2016 sampai 1 Januari 2017, terdiri dari 367 penderita HIV, 13 orang penderita AIDS, sehingga jumlahnya sebanyak 380 orang,” beber Hendra.(rub)

You may also read!

Disdukcapil Kota Depok Bakar 30 Ribu Blangko e-KTP Rusak

DEPOK – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok memusnahkan 30 ribu blangko Elektronik KTP di Balaikota Depok,

Read More...

Antisipasi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok, Disdagin Depok Operasi Pasar

DEPOK – Mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI)

Read More...

NU Depok Serukan Perkuat Kebinekaan

DEPOK – Plt Ketua PC NU Kota Depok, Ahmad Solechan menyerukan ajakan untuk memperkuat kebinnekaan dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Read More...

Mobile Sliding Menu