Tim UI Gulirkan Prestasi di IGEM

In Pendidikan
IST
PRESTASI INTERNASIONAL: Empat Mahasiswa Universitas Indonesia berhasil menggulirkan prestasi jenjang internasional di IGEM Competition 2018, Boston, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

DEPOK – Tim mahasiswa Universitas Indonesia (UI) kembali menggulirkan prestasi dalam ajang Internasional Genetically Engineering Machine (IGEM) Competition 2018, di Boston, Amerika Serikat. Hasil tersebut di dapat usia mempresentasikan proyek inovasi baru berupa alat diagnosis penyakit difteri.

IGEM Competition 2018 merupakan kompetisi rekayasa genetika paling bergengsi di bidang genetika dan biologi molekuler terbesar di dunia, dengan jumlah peserta 321 tim dari lebih dari 100 negara.Dalam kompetisi ini setiap tim mendapat kesempatan untuk merancang dan membuat sistem biologis untuk dioperasikan ke dalam sel hidup.

Mahasiswa yang terdiri dari empat orang tersebut terdiri dari lintas program studi. Ketua tim, Valdi Japranata mengatakan, alat diagnosis Difteri tersebut  menggunakan bakteri rekombinan yang diharapkan mampu lebih mudah, cepat, dan murah untuk memberikan penanganan diagnosis difteri yang baik untuk Indonesia.

“Proyek penelitian ini dinamai ‘Finding Diphty’. Presentasi hasil penelitian di hadapan juri yang terdiri dari pakar di bidang genetic engineering dunia, seperti Senior Staff MIT Lincoln Laboratory, Bioengineering Group, Director of the Competition – iGEM Foundation,” kata Valdi.

Hadirnya alat pendektesi Difteri ini, berawal dari kurangnya deteksi dini dan pengobatan yang cepat terhadap infeksi difteri. Serta kurangnya kesadaran mengenai difteri dan vaksinasi di kalangan masyarakat Indonesia.

Valdi menuturkan, proyek penelitian ini bertujuan untuk mewujudkan alat diagnostik wabah difteri di Indonesia yang terjangkau dan aman. Dengan meneliti metode alternatif untuk mendeteksi toxin difteria dengan mengintegrasikan sistem kemotaksis Escherichia coli dengan reseptor HB-EGF dan system fluorescence resonance energy transfer.

“Hasil dari penelitian kami ini dapat diintegrasikan sistem kemotaksis. Ke depannya jika ada investor yang tertarik, kita bisa integrasikan sistem ini ke e-coli. End product-nya bisa lebih mudah, murah, dan cepat,” tuturnya.

Tim Finding Diphty terdiri atas 14 mahasiswa lintas program studi. Namun yang berangkat ke Amerika diwakili oleh Andrea Laurentius (FKUI 2016), Galuh Widyastuti (FKM UI 2016), Glory Lamria (FTUI 2015), dan Valdi Japranata (FKUI 2015). (san)

You may also read!

Dibongkar, Bangun, Dilarang Lagi

RADARDEPOK.COM, DEPOK-Setahun lalu tepatnya 15 Juli 2018, ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Grand Depok City dibongkar. Terbaru kemarin,

Read More...

Babinsa Belajar Aplikasi Panic Button

RADARDEPOK.COM, DEPOK– Kondusifitas perlu di jaga, apalagi saat Ramadan, dan berbarengan dengan pengumuman pemenang pemilu 2019. Guna menghalau kejadian

Read More...

Terinspirasi Kehidupan ART, Meniti Sejak 2009

RADARDEPOK.COM – Mungkin sebagian orang menganggap sampah tidak bermanfaat. Namun tidak bagi Serly Susanti, yang berjuang dan meniti karir

Read More...

Mobile Sliding Menu