Terdakwa Asusila Melawan di Ruang Sidang

In Utama
Ilustrasi

DEPOK – Sidang kasus asusila dengan terdakwa WAR (23) kembali berlangsung di Pengadilan Negeri Kota Depok, Rabu (14/11). Kali ini sidang beragendakan mendengarkan keterangan terdakwa WAR.

Pada sidang tersebut, terdakwa WAR kasus asusila terhadap belasan bocah sekolah dasar, ternyata tidak terima dengan berkas Berita Acara Penyelidikan (BAP) yang dibuat penyidik Polresta Depok.

Bahkan, WAR selaku terdakwa tunggal menyebut berkas penyidikan itu dibuat atas adanya intervensi pihak kepolisian. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kota Depok, Dika menyebutkan, terdakwa kasus asusila anak tersebut membantah dan menyatakan jika dirinya tidak melakukan sodomi terhadap puluhan siswanya, termasuk lima korban yang dijadikan saksi dalam perkara ini.

“Ketika sidang yang beragendakan keterangan terdakwa, dia (WAR) menyangkal. Tapi saya tidak percaya. Terdakwa juga menyabut BAP yang ada di dalam berkasnya. Itu dikarenakan adanya intervensi penyidik,” papar Dika di PN Depok, Rabu (14/11).

JPU Dika menyebut dalam sidang sebelumnya lima bocah SD yang menjadi korban dihadirkan ke dalam meja hijau untuk bersaksi, kelima bocah SD itu pun membenarkan jika terdakwa melakukan perbuatan asusila terhadap mereka. Selain itu di dalam BAP terdakwa menandatangani berkas tersebut.

“Dari lima korban yang dihadirkan menyatakan terdakwa WAR telah melakukan asusila, terus soal BAP, terdakwa menandatangani berkasnya,” tandasnya.

Untuk menguji kebenaran keterangan terdakwa, nantinya JPU akan memanggil pihak penyidik untuk bersaksi di persidangan selanjutnya.

Sebelumnya, dunia pendidikan kembali digegerkan dengan kasus pelecahan seksual. Dimana oknum seorang guru bahasa Inggis WAR yang juga merangkap mengajar ekstrakulikuler pramuka diduga melecekan belasan murid SD. Parahnya aksi pelehan tersebut dilakukan di lingkungan sekolah saat kegiatan jam belajar mengajar.

Menurut pengakuan AK (34) salah satu orangtua korban berinisial MF (12) perbuatan tidak senonoh sudah terjadi berkali-kali selama 2 tahun. Melihat kondisi itu, AK tidak terima dan melaporkan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) ke Polresta Depok.

“Kami orangtua dan para korban menuntut pelaku dipenjarakan makanya saya melaporkan kejadian ini ke Polresta Depok,” ujar AK dengan nada geram, di Polresta Depok, beberapa waktu lalu.

Sebelum melaporkan ke pihak kepolisian, AK dan beberapa orangtua korban lainnya sudah mengadu ke pihak sekolah SD. Namun bukannya memberikan solusi Kepala Sekolah malah terkesan ingin menutupi kasus ini.

“Kita lapor ke Kepsek, dia malah bilang ke kita, tolong jaga nama baik sekolah,” ucap Ak menirukan omongan kepala sekolah.

“Apa-apaan nih, anak saya sudah jadi korban cabul, dia malah cuman mikirin nama baik sekolah. Saya engga terima lah, makanya saya bersama tiga orangtua korban lainnya lapor ke sini (Polres) Depok,” lanjutnya.

AK menjelaskan, sejauh ini baru ada 15 korban yang mengaku anak mereka mengalami hal yang sama dengan anaknya. Sebagai lagi karena merasa malu, lebih memilih tidak mengekspose kasus ini.

“Sebenarnya ada 15 korban yang kami tahu saat ini. Tapi cuman 4 orangtua yang berani melapor. Korbannya rata-rata anak murid laki-laki,” pungkasnya. (okz/net/rub)

You may also read!

Disdukcapil Kota Depok Bakar 30 Ribu Blangko e-KTP Rusak

DEPOK – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok memusnahkan 30 ribu blangko Elektronik KTP di Balaikota Depok,

Read More...

Antisipasi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok, Disdagin Depok Operasi Pasar

DEPOK – Mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI)

Read More...

NU Depok Serukan Perkuat Kebinekaan

DEPOK – Plt Ketua PC NU Kota Depok, Ahmad Solechan menyerukan ajakan untuk memperkuat kebinnekaan dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Read More...

Mobile Sliding Menu