RS Harapan Depok Tantang YLCC di Pengadilan

In Metropolis
AHMAD FACHRY/ RADAR DEPOK
SENGKETA: YLCC dan RS Harapan masih bersengketra terkait kontrak kerjasama pemanfaatan tempat, kedua belah pihak saling mengklaim menjadi yang paling benar.

DEPOK – Sengketa sewa menyewa gedung antara YLCC dengan RS Harapan Depok, akhirnya akan berujung dimejahijaukan. Kemarin, RS Harapan meminta pihak YLCC mendaftarkan perkara tersebut di Pengadilan Negeri (PN) Depok. Langkah tersebut dipilih sebagai mencari pembenaran atas sewa menyewa gedung.

Direktur RS Harapan Depok, Athur mengatakan, Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), pernah memberikan surat keputusan internal. Isinya, tanah RS Harapan dipinjamkan selama 25 tahun sejak 1990 sampai 2015.

Namun kemudian, dalam proses pinjam meminjam YLCC membuat lagi perjanjian kerjasama dengan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI). Perjanjian ini diatas notaris yang menyatakan, perjanjian pinjam meminjam dari tahun 1996 sampai 2021. “Karena saat itu pengurus YLCC ada yang meninggal. Sehingga kami membuat kesepakatan ulang dan memperpanjang perjanjian sampai 2021,” kata Athur kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Ada perbedaan dengan berkas yang dimiliki YLCC, dan pihak RS Harapan Depok. “Jadi kami bingung, karena kepengurusan YLCC juga belum sah,” terang Athur.

Akhirnya, lanjut Athur pihaknya tidak bisa mengosongkan RS Harapan, sesuai dengan yang diminta pengurus YLCC. “Kami juga tidak bisa mengosongkan rumah sakit begitu saja, karena ini kan perjajian dengan PGI. Kecuali sudah ada kesepakatan dengan PGI, dan kemudian PGI yang meminta saya tutup,” papar Athur.

Menurutnya, jika YLCC masih keukeuh dengan keputusannya dan tetap meminta RS Harapan untuk mengosongkan gedung. Dia menegaskan diselesaikan secara hukum. “Kalau masih keukeuh, silahkan daftarkan masalah ini ke pengadilan,” kata Athur saat ditemui Radar Depok.

Menimpali hal ini, perwakilan YLCC, Freddy Jhonatan mengatakan,  belum ada perjanjian kerjasama antara RS harapan dengan YLCC. “Selama setahun belakangan pihak PGI sama sekali diam, dan tidak menanggapi somasi dari kami,” kata Freddy.

Pihaknya juga mengatakan, sudah meminta pihak PGI untuk mengosongkan RS Harapan Depok. “Kami sudah meminta pihak RS Harapan untuk mengosongkan gedung sejak Agustus lalu,” kata Freddy.

YLCC ingin meminta tambahan uang sewa, karena yang dibayarkan saat ini sudah tidak sesuai. “Kami meminta uang sewa dinaikan menjadi Rp50 juta sebulan, tapi pihak rumas sakit tidak setuju. Kalau setuju YLCC tetap menyewakan gedung,” tegas Freddy.

Terkait merugikan pasien-pasien, menurut Freddy bukan kesalahan YLCC, karena sejak Agustus pihaknya sudah membuat surat keputusan, tapi seolah pihak RS Harapan santai saja. (rub)

You may also read!

850 Restoran di Depok Belum Bayar Pajak, Dewan: Perlu Pendekatan Persuasif

DEPOK – Guna mengetahui sebuah restoran belum membayar pajak, dan upaya meningkatkan pendapatan daerah dari sektor tersebut, pada 2019

Read More...

Pohon Natal Setinggi 15 Meter Sambut Pengunjung Mall

DEPOK – Memasuki libur panjang anak sekolah, Hari Natal (25/12), serta tahun baru, sejumlah pusat perbelanjaan dan hiburan di

Read More...

Pasokan Listrik Natal-Tahun Baru Aman

DEPOK – PT PLN (Persero) Transmisi Jawa Bagian Barat (TJBB) memastikan akan menjaga pasokan listrik di Jawa Barat dan

Read More...

Mobile Sliding Menu