Nikah Muda Sebabkan Perceraian Tinggi

In Metropolis
IRWAN/RADAR DEPOK
KOMPAK : BKKBN bersama Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi (IPADI) berfoto usai mengikuti Seminar Implikasi Proyeksi Penduduk Terhadap Perencanaan Pembangunan di Hotel Savero, Depok, Kamis (08/11).

DEPOK – Persoalan kependudukan di Indonesia sangat kompleks, ditandai dengan jumlah penduduk Indonesia sangat besar dengan laju pertumbuhan yang tinggi, namun kualitasnya rendah dan persebarannya tidak merata.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menilai dinamika kependudukan dan proses pembangunan mempunyai keterkaitan timbal balik karena penduduk merupakan subjek sekaligus objek dalam proses pembangunan.

Plt. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Listyawardani mengatakan, aspek-aspek dinamika kependudukan harus menjadi bagian integral dari perumusan berbagai kebijakan, strategi, dan program pembangunan yang efektif. Dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

“Perumusan kebijakan kependudukan dan pembangunan yang efektif harus berdasarkan bukti, yaitu hasil analisis atas data yang termutakhir, relevan, akurat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Dwi kepada Radar Depok.

Adapun aspek-aspek dinamika kependudukan dimaksud itu sebut dia, adalah sebagaimana yang telah dijabarkan dalam rancang induk pembangunan kependudukan yang dikoordinasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI yang menjabarkan pembangunan kependudukan ke dalam lima bidang.

Lima bidang itu antara lain, pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas penduduk, pembangunan keluarga, penataan persebaran dan pengarahan mobilitas penduduk, dan penataan administrasi kependudukan.

Selain itu Dwi menyoal terkait perceraian tinggi di Depok, ia menuturkan dari hasil identifikasi pihaknya rata – rata perceraian disebabkan oleh trend menikah muda. Pasangan muda ini, dinilai belum bisa mempersiapkan kehidupan dalam berkeluarga dengan baik sehingga rentan terjadi perceraian.

“Selain itu, mereka belum matang dalam mempersiapkan diri, sehingga konsep BKKBN mengenai fungsi keluarga yang mencakup agama, ekonomi, reproduksi, kasih sayang dan lain – lain tidak tercapai sehingga menyebabkan angka perceraian yang tinggi,” ucap Dwi.

Menurutnya, sesuai pemantauan pihaknya pasutri yang menikah muda ini biasanya meminta dispensasi pernikahan kepada Pengadilan Agama, dengan alasan sesuatu yang mendesak. Meminta dispensasi itu, KUA tidak bisa mengabulkan pernikahan bagi pasangan belum cukup umur atau dibawah minimal usia pernikahan (wanita dibawah usia 16 tahun, pria dibawah 19 tahun).

“Maka orang tua atau yang menikah itu harus meminta dispensasi ke Pengadilan Negeri Agama biasanya mereka dalam kondisi darurat seperti wanitanya hamil duluan jadi terpaksa harus menikah dengan pertimbangan anaknya nanti lahir dari orang tua yang sah, sehingga mau tidak mau Pengadilan negeri mengabulkan,” tandasnya.

Dwi menegaskan, dampak dari menikah muda sangat besar oleh sebab itu, dalam setiap program yang diselenggarakan BKKBN pada kalangan remaja selalu disampaikan mengenai masalah seks bebas, pernikahan dini dan bahaya narkoba. “Pada program genre bagi remaja di sekolah, hal-hal seperti itu selalu kita singgung,” katanya.

Dwi menerangkan, kunci dari masalah tersebut adalah pendidikan dan peran keluarga dalam membimbing anak – anaknya.

“Terutama, anak perempuan mereka harus sekolah minimal sampai selesai SMA, karena bila mereka menganggur tidak mengenyam pendidikan menimbulkan kebingungan orang tua, yang akhirnya dinikahkan tanpa melihat usia anaknya,” pungkasnya. (irw)

You may also read!

PPDB Hari Pertama Hancur

RADARDEPOK.COM, DEPOK–Pertama dalam sejarah di Kota Depok, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 jenjang SMA dan SMK Negeri,

Read More...

Momen Lebaran Ditangkap, Besoknya Langsung Bebas

RADARDEPOK.COM, DEPOK-Keluaraga tersangka pengancam pemenggalan kepala Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan peledakan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, YY tidak

Read More...

Ratusan Botol Miras Gagal Edar

RADARDEPOK.COM, DEPOK – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok mengamankan 924 botol minuman keras siap edar yang

Read More...

Mobile Sliding Menu