Korban JT-610 Masih Tunggu Kabar DVI

In Utama
IRWAN/RADAR DEPOK
MASIH BERDUKA: Aditya suami korban pesawat Lion Air JT-610 atas nama Yulia Silvianti (38), menyambut tamu di kediamanya RT06/RW05 Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, kemarin (12/11).

DEPOK – Keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang beberapa waktu lalu, masih berharap kabar terbaik dari tim DVI. Kecemasan bertambah, saat Basarnas mengumumkan menghentikan proses pencarian dan evakuasi korban.

Seperti dialami keluarga Yulia Silvianti (38), warga RT06/RW05 Kelurahan Kukusan Beji. Pihak keluarga cemas, karena hingga kini Yulia belum juga teridentifikasi.

“Belum ada kabar hingga hari ini (kemarin),” kata Aditya suami Yulia Silvianti kepada Radar Depok, kemarin (12/11).

Aditya berharap, tim DVI segera menemukan dan mengidentifikasi istrinya. Bahkan, Aditya menganggap istrinya tersebut belum meninggal, jika belum mendapatkan informasi dari kepolisian. “Saya sudah serahkan semua ke BPK, sampai sekarang belum dapat kabar,” kata Aditya.

Menurutnya, data mengenai istri sudah diserahkan ke RS Polri. Mulai dari DNA orang tua, rambut, dan sidik jari. “Semua diserahkan pada hari pertama pencarian. Kami mohon doanya agar dapat segera teridentifikasi,” ungkap Aditya.

Keluarga Maheru Ikhlas Dikubur Massal

Terpisah, keluarga korban lainnya, nasib Maheru (46) hingga kini masih juga dinanti keluarga. Meski identifikasi sudah dihentikan, tetapi masih berharap ada kabar pasti dari polisi atau rumah sakit.

Sri Subekti istri almarhum Maheru mengaku, ikhlas apapun hasilnya, walaupun tidak teridentifikasi setidaknya ia tahu makam suaminya ada dimana.

“Saya sudah ikhlas kalau jasad suami saya tidak dipulangkan, kalaupun harus dimakamkan secara masal dengan korban lainnya yang belum diketahui setidaknya kami tahu nantinya harus ziarah kemana,” ungkap Sri, saat ditemui Radar Depok di kediamannya Jalan Perintis RT 3/3 Kelurahan Kalimulya, Cilodong.

Namun Sri meminta, walaupun nantinya akan di kubur massal, pihak Kepolisian harus memastikan bahwa itu benar korban yang belum teridentifikasi jangan salah atau bohong. “Kita mohon kalau dimakamkan secara masal untuk pastikan kalau itu jasad suami saya atau korban lainnya, jangan bohong atau pura-pura karena nanti akan menjadi beban saya,” harap Sri.

Mulai dari suaminya mengalami kecelakaan pesawat, kedua anaknya tidak ada yang pergi ke sekolah untuk menanti kabar ayahnya. Maheru meninggalkan seorang istri dan kedua putri yang pertama bernama Nabila azahra duduk dibangku SMA dan Sofia Sakinah Azahra duduk dibangku SMP.

“Anak saya tidak ada yang masuk sekolah sudah hampir dua minggu, hanya yang pertama baru masuk sekolah senin ini,” katanya.

Upaya kelurarga terus dilakukan namun sampai hari ini tidak membuahkan hasil, saat terakhir anak saya melakukan tes DNA pada tulang pipi bagian dalam agar dapat teridentifikasi pihak Rumah Sakit, namun masih tidak membuahkan hasil juga.

Terakhir Maheru mengemban tugas sebagai Kepala Bagian Agraria Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Kantor Wilayah Pangkal Pinang dan sudah berjalan selama tujuh bulan, jadi setiap dua minggu sekali Maheru pulang kerumah. “Dia dapat promosi naik jabatan di kantor dan pindah tugas di pangkal pinang,” tambah Sri.

Pihak BPN juga turut membantu keluarga Maheru dengan dukungan doa dan santunan. Sri Subekti juga terdaftar sebagai staf di BPN Pusat Jakarta Selatan. (irw/cr2)

You may also read!

Disdukcapil Kota Depok Bakar 30 Ribu Blangko e-KTP Rusak

DEPOK – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok memusnahkan 30 ribu blangko Elektronik KTP di Balaikota Depok,

Read More...

Antisipasi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok, Disdagin Depok Operasi Pasar

DEPOK – Mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI)

Read More...

NU Depok Serukan Perkuat Kebinekaan

DEPOK – Plt Ketua PC NU Kota Depok, Ahmad Solechan menyerukan ajakan untuk memperkuat kebinnekaan dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Read More...

Mobile Sliding Menu