Berdua Mencetak Generasi Tangguh

In Ruang Publik
T. Farida Rachmayanti, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Depok

Oleh: T. Farida Rachmayanti*)

Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Ibarat tamu, bonus demografi sudah berdiri di depan pintu rumah kita. Bonus demografi adalah kondisi di mana 70 persen penduduk ada di usia angkatan kerja (15-64 tahun). Sudah siapkah kita mengelola potensi ini agar menjadi kekuatan bangsa?

Gagal mengelola akan mengakibatkan beban pembangunan yang semakin besar. Beban dalam bentuk permasalahan ekonomi maupun sosial.

Agar pengelolaan bonus demografi optimal maka pemerintah penting untuk memperhatikan tiga hal berikut, pertama, memperbaiki kualitas penyelenggaraan pendidikan. Sebab pada era ini jumlah tenaga kerja produktif menumpuk. Sehingga peningkatan SDM berkualitas menjadi keniscayaan. Kesempatan pendidikan harus dibuka seluas-luasnya di berbagai jenjang. Kemudian didukung dengan kemudahan akses pendidikan, prasarana yang lengkap, serta tenaga pendidik yang berkualitas. Sehingga menghasilkan tenaga kerja yang terdidik dan trampil.

Kedua, memperbaiki kualitas kesehatan dengan menyediakan layanan kesehatan yang baik dan bermutu. Namun yang terpenting sebenarnya adalah pembinaan pola hidup sehat secara efektif. Strateginya dilakukan melalui pendekatan kesehatan keluarga. Karena mencegah penyakit jauh lebih baik daripada mengobati. Dengan demikian kualitas sumberdaya manusia kita semakin mumpuni. Sehat, bugar dan energik.

Ketiga, mengoptimalkan ketersediaan lapangan kerja. Bahwa diperlukan upaya yang serius untuk menekan angka pengangguran. Diantaranya penambahan lapangan kerja baik itu sektor formal ataupun informal, menciptakan angkatan kerja yang berkualitas melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan, serta menyediakan lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian angkatan kerja.

Bonus demografi adalah tantangan, tapi sekaligus peluang. Sehingga bisa dijadikan sebagai momentum akselerasi kualitas generasi bangsa. Menjadi tantangan bersama, bagaimana anak usia 10 tahun saat ini, dapat menjadi pemuda tangguh pada 10 tahun yang akan datang.

Rasanya naif jika tanggungjawab penyiapan sumberdaya manusia dilakukan oleh pemerintah saja. Butuh peran serta orang tua, keluarga dan masyarakat. Bicara peran orangtua maka bicara tentang pendidikan dan pola asuh keluarga. Bagaimana mereka mampu mengasah potensi spiritual, psikis, fisik dan kecerdasan anak sehingga siap menghadapi situasi kondisi yang dinamis. Termasuk memasuki era bonus demografi yang kompetitif.

Kekuatan pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga ditentukan oleh keseimbangan peran pasangan; suami istri. ayah dan ibu, sebagai orang tua, harus terlibat selaras, sejalan dan membangun harmoni sejak anak hadir di tengah-tengah mereka. Kepribadian seorang anak, yang kelak akan masuk pada fase pemuda, sangat membutuhkan kontribusi pengasuhan dan pendidikan dari keduanya. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, orang tua- dalam hal ini ayah ibu- menjadi model dalam pembentukan jati diri anak.

Keberduaan mengasuh dan mendidik anak harus dilakukan. Irwan Rinaldi Pakar Ayah di Indonesia menyatakan bahwa sosok ayah dibutuhkan secara tokoh dan peran bagi anak. Bahkan sejak mereka belum lahir. Ketangguhan anak secara lahir dan bathin sangat bergantung kepada pola asuh ayah sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tahap pertama (usia dini), anak memang lebih dekat dengan ibu tapi ayah tetaplah dibutuhkan sebagai pembuka pengenalan banyak hal terutama pembiasaan akhlaq atau karakter.

Pada tahap kedua (pra remaja), ini adalah tahap ayah memerankan peran dan tokohnya baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Anak laki-laki membutuhkan patron kelaki-lakiannya dari ayah agar kelak mereka bisa menjadi laki-laki yang sejati. Tahap ketiga (remaja), tahap dimana dibutuhkan ayah yang memimpin untuk mengajak menjelajahi dunia. Mengenal banyak pihak dan dunia di luar rumah. Anak sangat butuh sahabat. Untuk mengingatkan. Dan ayahlah sahabat terbaik pada fase ini.

Lalu bagaimana agar sukses berdua mengasuh anak??

Pertama, adanya kesamaan visi antara suami dan istri. Yaitu, pandangan kedepan akan dibawa ke manakah bahtera keluarga ini. Model keluarga seperti apakah yang akan diwujudkan bersama. Generasi bagaimanakan yang akan dilahirkan. Yang pada akhirnya menentukan ukuran kesuksesan keluarga.

Kedua, relasi suami istri yang harmonis. Pasangan yg menghadapi konflik akan sulit untuk selaras dan sejalan dalam melakukan pengasuhan anak. Disharmoni dalam keluarga dapat berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Kondisi rumah juga menjadi tidak nyaman bagi anak. Mereka jauh lebih dekat orang luar ketimbang orang tuanya sendiri. Atau anak mencari pelarian, asyik berselancar di dunia maya misalnya.

Ketiga, semangat suami istri untuk belajar, belajar dan belajar. Karena setiap zaman selalu memiliki tantangan tersendiri dalam mendidik anak. Saat ini kita berhadapan dengan generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi. Generasi ini sangat sering dan suka berkomunikasi di dunia maya. Pada akhirnya perubahan nilai, norma dan etika rentan terjadi.

Yang keempat, dan inilah yang utama. Berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Tidak disangsikan, saat ini, para orang tua dihadapkan pada kompleksitas permasalah kehidupan. Mereka butuh kecerdasan spiritual yang tinggi. Termasuk dalam hal mendidik dan mengasuh anak. Orang tua butuh kearifan, ketenangan, kesabaran, optimisme dan kasih sayang. Lima sikap ini lahir dari kekuatan spiritual yang dimiliki orang tua. (gun)

*)Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Depok

You may also read!

Disdukcapil Kota Depok Bakar 30 Ribu Blangko e-KTP Rusak

DEPOK – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok memusnahkan 30 ribu blangko Elektronik KTP di Balaikota Depok,

Read More...

Antisipasi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok, Disdagin Depok Operasi Pasar

DEPOK – Mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI)

Read More...

NU Depok Serukan Perkuat Kebinekaan

DEPOK – Plt Ketua PC NU Kota Depok, Ahmad Solechan menyerukan ajakan untuk memperkuat kebinnekaan dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Read More...

Mobile Sliding Menu