Suporter Terus Berulah, Hukumannya Tetap Denda dan Laga Tanpa Penoton?

In Ruang Publik
Drs. Supartono, M.Pd, Pengamat Sepakbola Nasional dan Pengamat Pendidikan Nasional

Oleh: Drs. Supartono, M.Pd*)

Suporter rusuh lagi. Suporter anarkis lagi. Sebenarnya selama ini, ke mana saja para oknum suporter yang tak henti membikin sepakbola nasional tercemar? Belum lagi persoalan hukuman Komdis PSSI untuk Persib Bandung mereda, suporter Arema FC turut kembali membikin ulah, hingga mengusik hati suporter Persebaya, Bonek.

Riuhnya pemberitaan di media massa dan media sosial menyoal ketidakterimaan pihak Persib Bandung atas hukuman yang dijatuhkan Komdis PSSI, setidaknya membikin prihatin seluruh publik pecinta sepakbola nasional.

Media jangan memperkeruh suasana

Sederhananya, agar suasana persepakbolaan nasional tidak bertambah keruh, secara regulasi, pihak Persib tinggal melakukan banding kepada Komdis atas ketidakterimaan hukuman yang terdiri dari puluhan item kepada Persib. Tidak usah banyak melontarkan spekulasi sebab-sebab Komdis menjatuhkan hukuman yang diangggap berat dan berupaya adanya jegal-menjegal. Publik sepakbola nasional selama ini cukup cerdas memahami situasi yang terjadi di persepakbolaan nasional, terutama borok di tubuh PSSI.

Menyoal kasus hukuman terhadap Persib, apakah memang ada rekayasa PSSI untuk Persib atau tidak, bila jalur hukum pengajuan banding telah ditempuh, dan hukuman tetap tidak dapat direvisi atau dibatalkan, publik juga dapat menilai, sebenanrya sedang terjadi apa di tubuh PSSI.

Kini terlalu banyak spekulasi berseliweran. Terlalu banyak tuduhan ini dan itu. Harusnya persolan tidak dibiarkan menggelinding menjadi bola salju dan saling mengumbar komentar dan pemberitaan di media massa dan medsos yang dapat merugikan kembali sepakbola Indonesia yang kini sedang bangkit.

Di tengah persoalan antara Persib dengan PSSI, ternyata, media massa, baik cetak dan online, kini justru sangat gemar mengambil keuntungan dengan menaikkan pemberitaan. Mencari berita dan terus mengkorek-korek opini pihak Persib atas hukuman yang mereka terima. Seharusnya media massa tidak terus membumbui kisah hukuman Persib. Biarkan semua berjalan sesuai jalur hukum. Tapi, faktanya, media massa justru terus menayangkan pemberitaan negatif tentang perseteruan Persib dengan Komdis PSSI. Media massa bukan membuat suasana menjadi tenang dan kondusif, namun malah memperkeruh suasana.

Selain media massa, kepada pihak yang bertikai, seharusnya dapat menahan diri, tidak terpancing pertanyaan wartawan, yang memang sedang mencari nafkah dengan cara mengulik pemberitaan. Ironisnya, belum lagi persolan hukuman Persib reda, dan mendapatkan solusi yang menenteramkan semua pihak, kini suporter Arema FC turut menyumbangkan andil persoalan klasik, rusuh suporter.

Kendati PSSI tidak meminta izin kepada Menpora atas bergulirnya kembali Liga 1 setelah dihentikan akibat meninggalnya suporter di Bandung, namun baru saja roda Liga 1 bergulir selang sehari, suporter sudah bikin rusuh lagi. Padahal penghentian Liga 1 baik oleh Kemenpora maupun PSSI adalah buntut dari perilaku suporter.

Bahkan, kini PSSI telah memastikan akan segera membahas sanksi untuk klub Arema FC maupun panitia penyelenggara pertandingan pascainsiden di laga antara Arema FC versus Persebaya, Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, Jawa Timur, Sabtu (6/10/2018).

Sejatinya, laga Arema FC dan Persebaya berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan tuan rumah. Namun, lagi-lagi, suporter kembali menjadi biang keladi dan mencoreng kemenangan Arema FC. Ulah suporter yang meneriakan cacian, hinaan, dan rasis, ternyata masih terjadi.

Bahkan, suporter juga menorobos masuk ke lapangan pada jeda istirahat babak pertama dan beberapa saat setelah babak kedua berakhir dengan melakukan beberapa kejadian yang membuat publik sepakbola nasional tidak habis pikir akan perilaku oknum suporter bersangkutan.

Yang pasti, apa yang telah dilakukan oleh suporter  Arema FC, melanggar regulasi dan sudah barang tentu akan ada  konsekuensi. Untuk itu, Komisi Displin PSSIpun tentu tak akan ragu dalam mengambil keputusan tegas sesuai kode disiplin.

Hebatnya, dalam rilis di media, pengurus teras Arema FC yang juga menjabat di PSSI, memastikan  Arema tidak akan melakukan banding atas apapun hukuman yang akan diberikan oleh Komisi Disiplin PSSI.

Bukan persoalan hukum-menghukum

Kejadian ulah suporter yang kembali terulang setelah Liga 1 dihentikan oleh dua pihak, sebenarnya sudah diprediksi oleh publik sepakbola nasional. Persoalan yang terjadi pada suporter sepakbola nasional secara umum adalah, mereka wajib diberikan edukasi secara masif dan terstruktur.

Mengapa PSSI dan PT LIB berani-beraninya menggulirkan kembali Liga 1, sementara persoalan mendasar mengenai edukasi suporter belum sama sekali tersentuh hingga akar-akarnya!

Secara nasional, seluruh suporter sepakbola Indonesia wajib dibantu tentang bagaimana caranya menjadi suporter sepakbola yang benar. Memang, bila dipetakan, mungkin hanya beberapa daerah yang klubnya memiliki suporter yang wajib segera mendapatkan edukasi secara khusus. Namun, alangkah lebih eloknyanya, bila program edukasi suporter memang dirancang untuk edukasi suporter nasional.

Bila PSSI tetap tidak tergerak dan bergerak melakukan edukasi suporter secara terprogram, terstruktur, dan masif, maka kejadian suporter berbuat tak terdidik, tak memilki tata krama, tak santun, dan tak berbudi pekerti luhur, akan terus berulang.

Percuma, menghukum klub bertanding tanpa suporter. Paling-paling suporter hanya akan berdiam diri tanpa menonton timnya bertanding selama masa hukuman. Tapi ketika hukuman berakhir dan suporter kembali hadir ke stadion, kira-kira apakah suporter yang tidak diedukasi secara terprogram, tiba-tiba akan semudah membalik telapak tangan dan membuat mereka cerdas dan dapat menjadi suporter terdidik, santun, dan berbudi pekerti luhur.

Hanya ada satu cara membuat seluruh suporter sepakbola nasional berbudi pekerti luhur. Lakukan program edukasi suporter terstruktur dan masif, bukan dengan cara hukum-menghukum, maupun denda-mendenda! (*)

*)Pengamat Sepakbola Nasional dan Pengamat Pendidikan Nasional

You may also read!

Kejari Depok Irit Bicara

DEPOK – Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok masih belum buka-bukaan, terkait pengembalian berkas rasuah Jalan Nangka, Tapos ke Polresta Depok.

Read More...

Zoss Ada 51 Titik di Depok

DEPOK – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, terus menambah keberadaan Zona Selamat Sekolah (Zoss). Hal itu dilakukan untuk memberikan

Read More...

RS Harapan Depok Tantang YLCC di Pengadilan

DEPOK – Sengketa sewa menyewa gedung antara YLCC dengan RS Harapan Depok, akhirnya akan berujung dimejahijaukan. Kemarin, RS Harapan

Read More...

Mobile Sliding Menu