MR-ORI Depok di Bawah Target Kemenkes

In Metropolis
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
IMUNISASI : Seorang balita menangis saat melakukan imunisasi suntik difteri di Posyandu Semangka, RW12, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas.

DEPOK– Cakupan imunisasi measle-rubella (MR) dan outbreak response imunization (ORI) difteri 3 di Kota Depok, masih di bawah target Kementerian Kesehatan (Kemnkes). Waktu yang berbarengan dan juga minimnya sosialisasi terkait dua imunisasi ini, diakui Dinas Kesehatan Kota Depok sebagai penyebab belum maksimalnya cakupan imunisasi.

Berdasarkan data Dinkes Depok hingga September 2018, cakupan imunisasi MR baru mencapai 75 persen. Hal ini masih jauh di bawah target 95 persen yang ditetapkan Kemkes. Sementara ORI difteri 3, baru mencapai 30 persen dari target 95 persen Kemkes. Target sasaran anak usia 1-19 tahun yang berjumlah 668.835 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita mengakui minimnya sosialisasi kepada masyarakat terkait dua imunisasi ini. Kendala minimnya sumber daya manusia (SDM) di Dinas Kesehatan juga menjadi penyebab sosialisasi yang tak maksimal.

“Selain kurang SDM, saat ini di Dinkes juga sedang banyak banyaknya kegiatan. Banyak program kami yang sedang kejar tayang. Kami juga tengah menjalankan program akreditasi puskesmas. Ini juga penting karena jika puskesmas belum terakreditasi maka puskesmas itu tidak bisa menjadi faskes yang ditunjuk BPJS Kesehatan,” ujar Nova kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Meski pelaksanaan imunisasi MR diwarnai polemik, Dinkes Kota Depok tetap melaksanakannya. Tercatat beberapa sekolah swasta mengajukan surat resmi kepada Dinkes untuk meminta tidak dilakukan imunisasi MR. “Ada beberapa. Semuanya sekolah swasta. Kalau sekolah negeri semuanya patuh melaksanakan,” kata Novarita.

Rendahnya angka imuniasi, karena belum semua puskesmas dan sekolah melaksanakan ORI 3. “Mereka ada yang konsen untuk imunisasi MR dulu dan nanti ORI difteri 3 nya di bulan November,” papar Nova.

Dinas Kesehatan Kota Depok terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dan juga menggiatkan sosialisasi kepada masyarakat. Agar mereka memahami pentingnya dua imunisasi ini untuk dilakukan. Nova mengatakan, akan melakukan sweeping atau pencarian kepada anak anak yang belum diimunisasi untuk kemudian diberikan imunisasi.

Namun, sweeping baru akan dilakukan jika bulan imunisasi hingga akhir November nanti berakhir dan masih banyak anak yang belum diimunisasi.

Kepala Dinas Kesehatan juga meminta, pentingnya mendapatkan imunisasi MR dan ORI difteri 3 bagi anak-anak.  Jika ini tak dilakukan maka dikhawatirkan anak dapat terkena penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian.

“Apalagi penyakit measle, rubella dan difteri ini adalah jenis penyakit menular?” katanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok meminta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok untuk menunda pemberian vaksi Measles Rubella (MR) kepada anak dan dewasa. Karena vaksin MR haram mengandung bahan yang berasal dari babi, tapi boleh digunakan dalam kondisi terpaksa.

“Vaksin MR dari India itu kurang bagus karena mengandung babi, yang sudah jelas haram dikonsumsi umat muslim. Kalau bisa ditunda sementara waktu. Tunggu vaksin yang terbuat dari bahan yang halal,” kata Ketua MUI Depok Bidang Pembinaan Kader, Abdullah Safi kepada Radar Depok, kemarin.

Pemberian vaksin MR yang mengandung babi jika dalam kondisi terpaksa sudah dikeluarkan oleh MUI Pusat. Di mana keputusan tersebut ditetapkan usai Komisi MUI menggelar rapat pleno terkait kehalalan vaksin MR di kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/8) malam.

Berdasarkam keterangan MUI Pusat penggunaan vaksin MR produk dari SII pada saat ini dibolehkan atau mubah hukumnya, karena ada kondisi keterpaksaan atau darurat syariah dan belum ditemukan vaksin MR halal dan suci.

“Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi,” imbuhnya.

Hasil pemeriksaan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) menyebutkan, vaksin MR mengandung dua unsur haram, yakni kandungan kulit babi dan organ tubuh manusia atau human deploit cell.

Keputusan ini tertuang dalam Fatwa MUI Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR dari SSI untuk imunisasi.

MUI meminta pemerintah dan produsen mengupayakan produk yang berbahan halal. “Pemerintah dan produsen wajib mengupayakan vaksin halal untuk vaksin imunisasi dari masyarakat,” pungkas Safi.(irw)

You may also read!

Pemkot Depok Gugat Petamburan, Fokus Persiapkan Materi Gugatan

DEPOK – Pemkot Depok tidak diam dalam memperjuangkan Pasar Kemirimuka. Pasca putusan sidang Derden Verzet sengketa lahan Pasar Kemirimuka,

Read More...

Cuaca Buruk, Harga Beras di Depok Naik

DEPOK – Cuaca buruk di sejumlah daerah, berdampak pada kenaikan harga beras di Kota Depok. Meski tidak begitu besar,

Read More...

TMMD Ke-103 Depok Rampung

DEPOK – Kurang lebih 30 hari pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-103, di Kecamatan Cipayung, resmi selesai

Read More...

Mobile Sliding Menu