Mencegah Konflik, Mulai dari Diri Sendiri

In Ruang Publik
Drs. Supartono, M.Pd, Pengamat Sepakbola Nasional dan Pengamat Pendidikan Nasional

Oleh: Drs. Supartono, M.Pd*) 

Menemukan kata-kata dan kalimat yang mencaci, menghina, bahkan seolah menghakimi dan merasa dirinya paling benar, kini sangat mudah. Bahkan di setiap akhir dari berita atau artikel tentang kondisi terkini di Indonesia yang di muat di berbagai media online khususnya, kata-kata dan kalimat ujaran kebencian begitu mengalir tanpa ada yang dapat membendung. Hanya membaca saja, tanpa terlibat, rasanya perasaan ini miris.

Mengapa sekarang begitu mudahnya antar sesama kita saling mencaci. Bahkan kata-kata kasar sudah menjadi bacaan setiap detik di setiap akhir berita atau artikel yang ditayangkan media. Sementara, ujaran kebencian yang tersaji di berbagai media sosial juga sama bombastinya. Sebuah status baik berupa kata, atau kalimat atau foto atau video yang diunggah, yang sekadar untuk berbagi, tidak urung akan menjadi sasaran serangan balik bagi pengguna media sosial lainnya justru untuk menyerang status baik tersebut.

Terlebih bila statusnya adalah status negatif  yang berunsur melecehkan, menghina, mencaci, sudah barang tentu, akan menjadi bahan komentar oleh pengguna media lainnya untuk melancarkan aksi mendukung atau meng-counter atau menangkis status-status tersebut. Fenomena ini terus menggelora, terus menyeruak jelang Pemilu 2019, yang seolah mengubah fungsi asli lahirnya media sosial sesuai latar belakang, yaitu memudahkan berkomunikasi jarak jauh dengan sanak keluarga, saudara, kerabat, dan sebagainya hingga terjalin rasa kebangsaan, rasa memiliki, persatuan dan kesatuan bangsa.

Irinosnya, siapapun yang mengomentari status baik berupa status negatif yang berunsur ujaran kebencian maupun status baik, atau kemudian membagikan dan menyebarkannya, tidak pernah melihat, siapa sosok di balik Si pengunggah status tersebut. Sebaliknya, saat berkomentar pun, Si pengomentar juga tidak lagi memerhatikan status sosial para komentator lainnya. Padahal di seberang sana, bisa jadi Si pengunggah status hanyalah seorang anak kecil atau siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, orangtua, soorang tokoh, sorang penggerak partai, sorang elit politik, dan entah siapa lagi.

Demikian sebaliknya, siapa saja para komentator sesuai dengan status sosialnya. Lalu, tetap meluncurlah status-status baru dan komentar-komentar yang tetap meniriskan mata bila membaca, memekakan telinga bila didengar. Hasilnya, mengemukalah kosa kata yang sudah lama berada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang langsung mengapung bak artis baru di blantika perselebritisan tanah air. Dia adalah persekusi yang kini sudah dikenal rakyat Indonesia. Sebuah kata yang bermakna pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Mengapa ada persekusi? Mengapa pula ada yang akhirnya melakukan tindakan memersekusi? Tindakan menyiksa dan menganiaya? Sementara tindakan ujaran kebencian saja belum tersolusi?

Bahkan, kini berbagai stasiun televisi nasionalpun berlomba menggelar acara debat publik yang menghadirkan berbagai nara sumber dengan pertununjukkan debat yang kurang mendidik. Saling potong pembicaraan, saling jegal, merasa yang paling hebat, seolah dunia milik mereka para pembicara tanpa berpikir bahwa yang sedang mereka lakukan sedang ditonton ratusan juta rakyat Indonsia.  Apakah budaya debat yang semacam ini yang memang dijadikan model debat di zaman milenial?

Sesuai dengan semua fonemena yang kini terjadi di Indonesia, mulai dari ujaran kebencian, persekusi, memersekusi, status di media sosial dan komentar di media sosial, acara debat di televisi, yang terus membuat gejolak dan rasa was-was dapat saja berakibat terjadinya disintegrasi bangsa. Terlepas dari semua persoalan, yang sewajibnya disikapapi oleh pihak kepolisian dan pemerintah dalam mengatasi dan mencari pemecahan masalah ini, solusi terbaik adalah dikembalikan kepada individu-individu yang merasa menjadi anak bangsa, merasa memeiliki negeri ini. Individu yang saya Indonesia, saya Pancasila!

Mengapa ada persekusi lalu memersekusi sesama anak bangsa sendiri yang sudah puluhan kali? Karena yang melakukan persekusi dan memersekusi merasakan ada unsur ketidak-adilan dari pihak berwenang menurut versinya? Maka tindakan yang bertentangan dengan hukumpun dipilih demi penyelesaian, juga berdasarkan versinya dengan main hakim sendiri.

Mengapa sesama anak bangsa juga terus gemar membuat status, mengunggah dan mengupload foto atau videio yang disengaja untuk membuat karut-marut dan kisruh tanpa rasa takut, tanpa merasa bersalah, tanpa merasa risih, tanpa rasa takut?

Jawabnya, pertama, ada golongan yang tetap belum tahu kalau status dan komentarnya di media sosial bukan hanya menyakiti seseorang, tetapi juga benar-benar menyinggung golongan dan kelompok lain. Bahkan golongan ini akan merasa senang dan bangga bila statusnya lalu banyak di like dan dikomen orang. Golongan ini biasanya didominasi oleh anak-anak usia SD atau orang-orang yang kurang berpendidikan atau lugu.

Golongan kedua adalah justru dilakukan oleh manusia-manusia terdidik, dan sengaja mengunggah status untuk memperkeruh suasana karena mereka merasa ada pendukungnya di luar sana yang memiliki perasaan dan persoalan yang sama. Karena merasa punya kelompok yang juga kuat. Karena yakin akan ada yang membela bila dirinya terkena masalah dari status atau komentarnya. Karena tahu ini negara hukum, jadi berstatus ria dengan ujaran kebencian menjadi semacam keharusan demi terlihat eksis di antara sesama teman segolongan.

Golongan ketiga, adalah golongan yang justru menebar benih di air keruh. Golongan yang ingin sesama rakyat bangsa ini berperang di media dan dunia maya hingga perang nyata di jalanan dan pengadilan demi pengalihan isu yang lebih besar. Mereka bisa menyamar menjadi siapa saja demi kepentingan dan golongannya pula. Lalu menyusup di antara golongan yang bertikai. Mereka adalah sutradara sekaligus aktor intelektual yang bisa jadi hanya rakyat biasa atau bahkan yang memiliki kepentingan di negeri ini. Siapa yang dapat melawan sutradara dan aktor intlektual yang turut meramaikan suasana kisruh? Haruskan kita selalu mengandalkan kepolisian, pemerintah, dan berlindung di balik hukum negara ini?

Semoga kita bukan bagian dari individu golongan pertama, kedua, dan ketiga. Sebagai individu-individu sosial,  jalan terbaik untuk menyudahi dan menyelesiakan kisruh di negeri ini adalah diri kita sendiri. Bila di setiap individu rakyat bangsa yang bhineka ini berpikir untuk tidak lagi berandil dalam membuat masalah yang menyulut kisruh, maka media sosial dan dunia maya akan kembali seperti sedia kala sebagai fungsinya, yaitu sebagai media yang dapat merekatkan, menguatkan, rasa kebangsaan dan persatuan.

Masalah kecil akan tertuntaskan bila langsung tak dipermasalahkan. Masalah besar akan tertiriskan, bila terus disolusikan. Marilah menjadi individu yang dapat membantu menyelesiakan masalah di media sosial, di rumah, di sekolah, di tempat kuliah, di tempat kerja, di masyarakat, di negeri ini bahkan di masyarakat dunia. Bukan individu yang malah menambah masalah. Maka tidak perlu ada bantuan polisi, pemerintah, dan pengadilan untuk menyelesaikannya.

Jangan memulai masalah, bertemanlah dengan orang yang berpengaruh baik dan positif, habiskan waktu bersama keluarga, ikuti sosok yang dapat dijadikan panutan, sibukkan diri dan aktif, berkreasi membuat sesuatu yang inovatif, membaca bukan hanya yang disuka, hindari gosip, tidak perlu berargumentasi dengan orang yang keras kepala, bersikap sopan kepada siapapun, hindari konflik dan urus diri Anda sendiri! Perbuatan baik selalu datang dari otak yang cerdas dan hati yang bersih. Mencegah Konflik, Mulai dari Diri Sendiri. Amin. (*)

*)Pengamat Pendidikan Nasional dan Sosial

You may also read!

Kejari Depok Irit Bicara

DEPOK – Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok masih belum buka-bukaan, terkait pengembalian berkas rasuah Jalan Nangka, Tapos ke Polresta Depok.

Read More...

Zoss Ada 51 Titik di Depok

DEPOK – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, terus menambah keberadaan Zona Selamat Sekolah (Zoss). Hal itu dilakukan untuk memberikan

Read More...

RS Harapan Depok Tantang YLCC di Pengadilan

DEPOK – Sengketa sewa menyewa gedung antara YLCC dengan RS Harapan Depok, akhirnya akan berujung dimejahijaukan. Kemarin, RS Harapan

Read More...

Mobile Sliding Menu