Mandi Susah, BAB Apalagi

In Utama
DICKY/RADARDEPOK
KURANGLAYAK : Salah satu MCK yang berada di pengungsian Petobo, Kecamatan Palu Selatan, dinilai kurang layak, kemarin.

PETOBO – Kesengsaraan masih melanda masyarakat Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang tergerus bencana gempa bumi dan tsunami. Kemarin, pengungsian Petobo, Kecamatan Palu Selatan belum tersedia Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang layak untuk masyarakat pengungsi. Ini diakibatkan tempat tinggal masyarakat terendam lumpur likuifikasi.

Pengungsi Petobo, Nasran mengatakan, minimnya sarana MCK membuat masyarakat pengungsi Petobo, harus mencari tempat dan membuat tempat MCK darurat. Bahkan, apabila beruntung masyarakat pengungsi dapat memanfaatkan MCK milik masyarakat, yang tidak terkena kerusakan dibagian rumahnya akibat gempa bumi. “Kami membuat MCK seadanya yang penting tertutup dari penglihatan orang,” ujar Nasran kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Nasran menjelaskan, MCK darurat dinilai kurang dari rasa aman dan nyaman. Bahkan, MCK yang ada hanya dibuat dengan menggali lobang untuk buang air besar. MCK yang dibuat dua kali dua meter harus menyatu dengan tempat mandi dan mencuci. Tidak hanya itu, disekitar MCK hanya ditutup berupa seng maupun kain atau sejenis lainnya.

Namun tidak sedikit, lajut Nasran, sejumlah masyarakat pengungsi lainnya harus mencari lahan kosong atau kebun bila ingin buang air besar (BAB). Untuk mandi dan mencuci, masyarakat pengungsi hanya dapat memanfaatkan MCK darurat, yang apa adanya. Dia meminta Pemkot Palu untuk turun langsung, dan melihat kondisi pengungsi Petobo. “Dengan melihat langsung Pemkot dapat mengetahui kebutuhan pengungsi Petobo,” terang Nasran.

Nasran menambahkan, Pemkot Palu dapat memikirkan kelanjutan untuk tempat tinggal masyarakat pengungsi Petombo. Menurutya, hampir semua masyarakat Petombo harus kehilangan tempat tinggal dikarenakan rumah masyarakat terendam lumpur likuifikasi, saat bencana gempa bumi yang terjadi pada Jumat (28/9).

Hal yang sama juga dirasakan Hasanudin (49). Pria yang kehilangan harta bendanya dan mengungsi di pengungsian Petobo. Dia harus mandi satu hari sekali. Hal itu dikarenakan minimnya air bersih yang digunakan warga pengungsi untuk MCK. Untuk buang air besar, Hasanudin terpaksa harus membawa ember ke perkebunan yang tidak jauh dari lokasi pengungsian.

“Harus bawa air ke kebun untuk buang hajat karena ditempat kami tidak ada MCK yang memadai,” ujar Hasanudin.

Pria asal Makassar tersebut mengungkapkan, penderitaan warga pengungsi terjadi saat malam hari. Apabila ingin buang air besar warga pengungsi harus ke kebun dalam keadaan gelap, terkadang warga pengungsi lain kerap meminjamkan senter sebagai penerangan. Dia mengkhawatirkan, apabila tidak segera disediakan MCK. Apabila ingin buang air besar saat malam hari, selain kurangnya kenyamanan warga harus waspada dengan binatang yang aktif di malam hari. “Ya karena malam itu, takutnya ular atau binatang lainnya menghampiri kami,” ucap Hasanudin.

Sementara itu, Tim Kesehatan Relawan Bogor dan Depok, Hafiz Ar Qursory menuturkan, akibat MCK yang dinilai kurang sehat dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan yang menyerang saluran pencernaan, seperti muntaber, diare, hingga tipus. Untuk itu, diharapkan masyarakat pengungsi dapat menjaga kesehatan, dan Pemkot Palu dapat menyediakan MCK di tempat pengungsian Petobo. “Kesehatan masyarakat pengungsi khususnya penyediaan MCK yang bersih harus menjadi perhatian Pemkot Palu,” tutup Hafiz. (dic)

You may also read!

Tolak, Ricuh, Rata Juga

DEPOK – Sempat dibatalkan pada 1 Oktober lalu. Akhirnya 10 rumah yang ada di Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya berhasil diratakan.

Read More...

12 Lulus Seleksi, Dua Gugur

DEPOK – Pelaksanaan seleksi untuk tiga kepala dinas, mulai mengeliminir peserta. Dari 14 Aparatur Negeri Sipil (ASN), ada dua

Read More...

Walikota Depok Harap 2025 ODHA Tak Bertambah

DEPOK – Di peringatan Hari Aids Sedunia, yang jatuh pada 1 Desember lalu. Walikota Depok Mohammad Idris berharap 2025

Read More...

Mobile Sliding Menu