Konsumen Gugat Pengembang GCC

In Satelit Depok, Wilayah Depok
REGI/RADAR DEPOK
Calon pembeli hunian rumah di Perumahan Green Citayam City (GCC) akan menggugat pihak pengembang jika uang angsuran yang telah masuk tidak juga dikembalikan.

DEPOK – Pengembang Perumahan Green Citayam City (GCC) mesti berhati-hati. Lantaran uang senilai Rp7 juta milik warga Jalan Garuda 5 No 10A, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Miska Airany, dibawa kabur oleh staf marketing Perumahan GCC berinisal S yang saat ini diketahui tidak lagi bekerja di perumahan tersebut.

Miska memiliki keinginan untuk menggugat pihak pengembang. Karena uang yang telah ditransfer ke rekening pribadi S dibawa kabur.

Menurut Miska, S telah melepas tanggung jawabnya sebagai marketing Perumahan GCC dengan tidak lagi bekerja.

Pada 2016 silam, Miska bersama sang suami tertarik untuk membeli satu unit hunian di Perumahan GCC. Informasi dari orang marketing dan warga sekitar perumahan bahwa perumahan tersebut subsidi.

“Saya dan suami jelas tertarik. Saya coba langsung booking fee (BF) dengan membayar Rp3,5 juta,” kata Miska.

Setelah datang ke pihak pengembang GCC, Miska dan suami mendapat brosur dengan keterangan di dalamnya, terkait dengan angsuran di Perumahan GCC.

Dia mendapati kejanggalan ketika membaca harga BF dalam brosur terdapat coretan yang membuat Miska dan suaminya tidak dapat melihat dengan jelas harga BF yang ada di brosur.

“Konsumen lain ada yang bayar BF Rp2,5 juta. Lalu saya tanya ke marketingnya, nama marketingnya S waktu itu. Kok saya Rp3,5 juta BF-nya, itu yang lain ada yang Rp2,5 juta. Dijawab marketing itu, ‘iya, ibu saya kasih blok yang bagus, yang strategis’ katanya. Ya sudah, saya percaya saja dan saya jawab, memang betul mbak ya, tempatnya strategis,” kata Miska.

Setelah beberapa bulan kemudian, S menanyakan nomor telepon genggam suami Miska dengan dalih ingin menanyakan kapan akan membayar DP. Harga DP yang ditawarkan S mencapai Rp17 juta dan bisa dicicil.

“Ya sudah, saya bayar DP pertama Rp7jt. Lalu saya kembali lagi sekitar bulan apanya saya lupa. masih ada semua kwitansinya, semua kwitansinya tidak memakai materai waktu itu,” kata Miska mengingat.

Setelah membayar DP rumah senilai Rp7 juta, Miska mengaku kejanggalan semakin pekat. Sebab, semenjak pembayaran tersebut, Miska dan sang suami sama sekali tidak mendapatkan info kelanjutan tentang akan dibangunnya unit perumahan yang sudah dibayar.

“Beberapa bulan kemudian saya feeling nggak enak, karena nggak ada kabar sama sekali tentang kelanjutan dan kapan dibangunnya. Ya saya sudah kasih BF dan DP. Jadi saya tidak akan membayar dulu dengan nilai Rp10 juta,” ucap Miska.

Tidak lama berselang, Miska melihat kabar di televisi tentang perumahan-perumahan bodong. Miska mengklaim, sejak dari situ kecurigaannya kian menjadi dan mulai menghentikan proses-proses pembayaran.

“Saya langsung berhenti buat melanjutkan proses pembayaran ke pihak GCC itu,” kata Miska.

Merasa sudah melakukan penantian hingga akhir 2017 namun tak kunjung ada pembangunan, Miska akhirnya membatalkan proses pembelian rumah pada November 2017.

“Saya sempat menunggu hingga akhir bulan. Tapi hingga saat itu tidak juga terlihat ada pembangunan. Buru-buru langsung saya batalkan pada November 2017 lalu,” katanya.

Miska terpaksa kembali menunggu. Karena pengembalian uang akan dilakukan setelah 90 hari kerja.

“Saya bulak balik ke sana, katanya uang dibalikin 90 hari kerja dari pengajuan cancel. Ya sudah, saya kembali menunggu hingga Februari. Dijanjikan uang saya senilai Rp7 juta akan kembali,” katanya.

Tidak sampai di situ kekesalan yang dialami Miska. Pihak pengembang mengklaim uang BF senilai Rp3,5 juta hangus. “Merasa tertipu juga saya. seharusnya Rp2,5 juta, tapi jadi bayar Rp3,5 juta,” katanya.

Tidak menyerah, Miska kembali lagi ke kantor GCC dan meminta uang pembatalan dikembalikan pada Februari. Hasilnya pun sama saja. Miska malah dibuatkan kembali surat yang sama oleh pihak GCC, yaitu M. Di surat tersebut, sambung Miska, sudah ditanda tangani Dirut Perumahan atasnama Hidayat Assegaf.

“Iya sudah ditanda tangani Dirutnya. orang-orang memanggilnya Habib. Tanda tangan tersebut tertulis di atas materai dan dijanjikan uang senilai Rp7 juta akan dikembalikan pada bulan April. Jika pada April tidak dikembalikan, maka ada sanksi penambahan 1 persen per hari. Tapi sama saja, hasilnya nihil,” kata Miska.

Miska kembali membuat surat perjanjian baru dengan pihak GCC berinisial A dan ditanda tangani di atas materai. A bertanda tangan dan berjanji pada Miska akan mengembalikan uang tersebut pada 30 Oktober 2018.

“Tapi nggak juga, saya dikirimin surat juga dijanjiin 27 September mau ditransfer. Tapi nggak juga,” kata Miska, kesal.

Sementara itu, penanggung jawab pembatalan konsumen pembelian hunian GCC, Ibeng berjanji akan menyelesaikan seluruh pengembalian uang para konsumen yang membatalkan pembelian hunian rumah di GCC.

Saat ini, kata Ibeng, pihaknya sedang mengatur seluruh pembayaran pengembalian uang konsumen.

“Saya sebagai Pimpro (pimpinan proyek) dari GCC akan bertanggung jawab soal pengembalian dana konsumen sampai tuntas. Terima kasih,” kata Ibeng saat dikonfirmasi Radar Depok.

Namun Ibeng belum mau menanggapi setelah ditanya terkait bagaimana sistem pengembalian uang konsumen. (cr1)

You may also read!

3.200 Guru Honor di Depok Mogok Ngajar

DEPOK – Pagi ini, ratusan guru honorer si-Kota Depok ontrog gedung DPRD Kota Depok, di Jalan Boulevard, Grand Depok

Read More...

18 Lagu Slank Rockin Fest

DEPOK – Sukses menghentak rangkaian tour Sumatera Agustus lalu. SUPERMUSIC kembali mempersembahkan event bertajuk Rockin Fest. Menariknya, Supermusic kali

Read More...

2020 Pemprov Jabar Tata Situ Depok

DEPOK – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, berencana menjadikan Depok sebagai destinasi wisata situ atau danau. Alasannya, Depok memiliki

Read More...

Mobile Sliding Menu