Kisah Keluarga Korban Keganasan Rokok di Depok, Bolak-Balik Rumah Sakit, Tambal Ban Jadi Tumpuan

In Utama
INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
BERJUANG: Hetdi Boru Manullang, istri almarhum Frandus Simanjuntak berjuang menghidupi kedua buah hatinya dengan membuka usaha tambal ban.

Peringatan Merokok Membunuhmu yang tertera di setiap bungkus rokok, ternyata bukan sekedar ancaman. Ternyata rokok bisa membunuh manusia, meski reaksinya tidak secepat mengonsumsi sebuah racun. Perlahan tapi pasti, rokok merusak kesehatan penggunanya, bahkan bisa mengalami kematian. Hal inilah yang dialami almarhum Frandus Simanjuntak.

Laporan: Indra Abretnego Siregar

Seorang perempuan tampak begitu mahir membongkar ban sebuah motor. Tempat tambal ban yang ada di RT02/RW03 Kelurahan Cilangkap Tapos adalah milik Hetdi Boru Manullang. Ia meneruskan perjuangan usaha suaminya bernama Frandus Simanjuntak yang diduga meninggal akibat rokok.

Hetdi begitu cekatan memperbaiki dan menambal ban motor yang bocor. Sambil menunggu proses penambalan dengan metode pembakaran dengan api spirtus, Hetdi menyempatkan diri memberi makan kedua anaknya, Jeremi (6) dan Juwisani (4).

Beruntung, anak–anaknya tidak rewel saat ibunya sedang bekerja menambal ban maupun mengganti oli kendaraan milik konsumen yang datang ke tambal miliknya. Tentunya hal tersebut membuat Hetdi tidak merasa terbebani, meski menjalani hidup sebagai orang tua tunggal bagi dua orang anaknya yang masih kecil.

Di sela kegiatannya, Hetdi bercerita mengenai penyakit yang merenggut suaminya. Hetdi mengatakan, sebelum suaminya meninggal terserang komplikasi penyakit yang diakibatkan masa muda suaminya kurang sehat. “Ketika almarhum menikah dengan saya tahun 2011, almarhum memang sudah mengidap penyakit paru yang cukup parah. Dia kena infeksi paru–paru,” ucap Hetdi kepada Radar Depok.

Hetdi menuturkan, almarhum suaminya pernah mengaku sebelum mereka menikah bahwa penyakitnya tersebut muncul akibat perilaku hidup almarhum yang tidak sehat. “Dari remaja almarhum perokok berat, sehari dia bisa menghabiskan dua hingga tiga bungkus rokok,” ungkap Hetdi.

Selain merokok, almarhum juga sering bergadang dan minum-minuman beralkohol yang memperparah kesehatan almarhum. “Almarhum terserang penyakit paru sejak tahun 2000-an. Mertua saya bilang penyakit itu karena dia kebanyakan merokok. Karena dulu kan mertua saya yang nganter dia berobat ke dokter sebelum kenal saya,” kata Hetdi.

Setelah menikah dengan Hetdi, almarhum memang sudah berhenti merokok. Tetapi, masalah tidak selesai sampai di situ karena kesehatan suaminya terus menurun. Sering batuk parah dan harus dilarikan ke puskesmas.

“Dia sering batuk darah, hampir setiap hari selama hidup dengan saya. Kalau sudah lemas, saya bawa dia ke puskesmas untuk disuntik. Kalau sudah disuntik agak mendingan,” sambungnya.

Sambil bercerita, sesekali dia harus menanggapi celoteh anak perempuanya, yang sedang makan agar mau menghabiskan makanannya. “Kalu anak saya yang perempuan ini harus ditemani makannya, kalau gak dia gak mau ngabisin makanannya,” kata Hetdi.

Tak sampai di situ, Hetdi pun harus kembali memeriksa ban yang sedang dia tambal karena sudah selesai. Dengan cekatan kembali tangannya memasukan ban yang bocor tadi ke dalam dan langsung mengisinya dengan angin dari mesin kompresor. Tampak pemilik motor yang sedang ditambal tersebut membayar biaya tambal ban ke tangan Hetdi dan segera bergegas menjalankan motornya meninggalkan tambal.

Hetdi mengaku, tambal ban tersebutlah yang selama ini menghidupi keluarganya dan membayar biaya pengobatan almarhum. Hetdi terpaksa turun tangan menambal ban menggantikan suaminya mulai dari almarhum sakit keras dan tak mampu lagi bekerja.

“Kios ini saya ngontrak, dari hasil tambal ban saya gunakan untuk menghidupi ke dua anak saya, membayar uang sekolah anak laki-laki yang sekarang kelas 1 SD, dan buat kontrakan,” ujarnya.

Dia melanjutkan, momen terberatnya adalah ketika suaminya kembali diserang penyakit baru, yaitu Liver yang memaksa dia melarikan almarhum ke Rumah Sakit Paru di Cisarua Bogor. “Almarhum kurus, tapi ketika kena liver dia mendadak gemuk karena beberapa bagian tubuhnya membengkak mulai dari kaki hingga pipi. Hingga matanya yang bulat terlihat sipit,” kenangnya.

Kondisi ekonomi keluarganya yang tak menentu memaksa dia harus berhutang ke rumah sakit sebesar Rp1,5 Juta. “Keluarga saya gak pakai BPJS, sudah gak aktif akibat menunggak berbulan bulan,” katanya.

Meski berhutang, beruntung suaminya diperbolehkan pulang pihak rumah sakit namun tetap harus melunasinya dengan jangka waktu tertentu. “Jantung almarhum tersumbat tetapi belum bisa dipasang ring oleh dokter karena ada kendala dengan penyakitnya yang lain,” katanya.

Ketika itu, suaminya harus kembali dirawat di rumah sakit. Kali ini ia dibawa ke RS Sentra Medika Cibinong. Selama perawatan, Hetdi selalu menitipkan suaminya kepada suster, karena ia harus pulang ke rumah membuka tambal ban. “Kalau gak buka, saya gak punya uang buat biaya perawatan,” katanya.

Suatu ketika, Frandus meminta ditemani keluarganya menginap di rumah sakit. Hari itu pula bertepatan dengan ulang tahun putri kesayangannya bernama Juwi Putri.

“Pada 3 Juli 2015, anak kami Juwi ulang tahun ke 3. Suami minta kami semua menginap di rumah sakit, sekalian merayakan ulang tahun Juwi. Tiga hari kemudian, suami saya meninggal di usia 38 tahun,” tutur Hetdi berkaca-kaca.

Kini dia fokus untuk melanjutkan hidup untuk membesarkan ke dua belahan hatinya. Meski tak mudah, dia tetap berusaha. (*)

You may also read!

Pemkot Depok Gugat Petamburan, Fokus Persiapkan Materi Gugatan

DEPOK – Pemkot Depok tidak diam dalam memperjuangkan Pasar Kemirimuka. Pasca putusan sidang Derden Verzet sengketa lahan Pasar Kemirimuka,

Read More...

Cuaca Buruk, Harga Beras di Depok Naik

DEPOK – Cuaca buruk di sejumlah daerah, berdampak pada kenaikan harga beras di Kota Depok. Meski tidak begitu besar,

Read More...

TMMD Ke-103 Depok Rampung

DEPOK – Kurang lebih 30 hari pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-103, di Kecamatan Cipayung, resmi selesai

Read More...

Mobile Sliding Menu