Investasi Manusia: Sehat, Terdidik, dan Bahagia

In Ruang Publik
Drs. Supartono, M.Pd, Pengamat Sepakbola Nasional dan Pengamat Pendidikan Nasional

Oleh Drs. Supartono, M.Pd 

Lebih dari 30.000 delegasi dari 189 negara dan lembaga-lembaga internasional, telah mengikuti  pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali pada 8-14 Oktober 2018.

Dari beberapa catatan tentang pertemuan yang telah memberikan kesan-kesan tersendiri kepada tamu yang hadir, termasuk cara pengamanan pertemuan dan lain sebagainya, ada hal khusus yang sangat penting diketahui oleh seluruh rakyat bangsa ini.

Investasi manusia

Bila selama ini, pemerintah Indonesia dan juga pemerintah di negara lain sangat getol berinvestasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan berfokus pada pembangunan fisik, seperti jalan (tol), jembatan, bandara, dan infrastruktur lainnya. Tetapi, faktanya pemerintah Indonesia maupun negara lain, kurang dalam berinvestasi pada manusia. Bisa jadi, alasannya karena manfaatnya jauh lebih lama dan sulit untuk diukur.

Oleh karena itu, dalam pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang baru saja usai, Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim kembali menegaskan seperti yang pernah ditulis dalam Foreign Affairs bahwa dunia saat ini menghadapi kesenjangan dalam modal manusia. Di banyak negara, tenaga kerja tidak siap untuk menghadapi masa depan yang cepat berubah.

Untuk itu, negara-negara di dunia didesak untuk berinvestasi lebih besar dalam sumber daya manusia, atau dikenal sebagai human capital. Dalam pertemuan ini, Bank Dunia untuk pertama kalinya merilis Human Capital Index (HCI) sebagai model yang bisa diterapkan.

Indeks ini, merupakan upaya agar negara-negara tidak hanya fokus dalam pertumbuhan ekonomi mengejar Produk Domestik Bruto (PDB). Bank Dunia menyebut kebahagiaan, pendidikan dan kesehatan sebagai beberapa faktor kunci. Indeks ini mampu mengukur, sejauh mana pemerintah sebuah negara mampu mendorong rakyatnya meraih potensi penuh mereka.

Bagi negara miskin, masyarakatnya pun miskin, maka modal manusia kadang bahkan menjadi satu-satunya modal yang mereka miliki. Negara-negara dapat menggunakan indeks ini untuk membantu mereka menentukan posisi mereka saat ini dan seberapa cepat mereka bisa mengejar ketertinggalannya

Perkembangan dalam berbagai sektor, kini sangat membutuhan keterampilan kerja manusia tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Karenanya, betapa  pentingnya menyiapkan tenaga kerja dalam menghadapi tantangan dan peluang yang dipicu oleh perubahan teknologi, wajib menjadikan prioritas untuk negara berkonsentrasi di area ini.

Pemerintah Indonesia, berperan penting dalam mengubah modal manusia, karena kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kekurangan lainnya menghalangi banyak keluarga untuk mengakses kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka.

Grup Bank Dunia pun, berkomitmen untuk membantu pemerintah dalam memprioritaskan pengembangan modal manusia secara berkelanjutan, mengingat fakta bahwa lapangan kerja dan pekerja terampil adalah kunci bagi kemajuan negara di semua tingkat pendapatan.

Tujuan HCI

Lalu, apa tujuan Bank Dunia merilis HCI? Sudah barang tentu, pertama, adalah untuk membangun kebutuhan akan investasi yang lebih banyak dan lebih baik pada manusia. Kedua, untuk membantu pemerintah memperkuat strategi dan investasi pada modal manusia agar mengalami peningkatan hasil yang cepat. Berikutnya, ketiga, untuk meningkatkan cara kita mengukur modal manusia.

Dengan ketiga tujuan diluncurkannya HCI oleh Bank Dunia, maka akan membantu mengukur hasil pengembangan modal manusia yang berhubungan dengan produktivitas, seperti kelangsungan hidup anak, membina anak-anak untuk sukses dari sejak kecil, pembelajaran murid, dan kesehatan masyarakat dengan kata lain, inilah investasi manusia.

Investasi manusia, pada hakikatnya adalah tercapainya kebahagiaan, pendidikan dan kesehatan. Negara wajib mampu memperbaiki masa depan rakyat, khususnya bagi generasi muda untuk tercapainya kebahagiaan.

Negara juga harus berinvestasi pada kesehatan, sehingga generasi muda bisa memaksimalkan kemampuan tubuh dan otak untuk produktif dan sukses. Selain itu, negara juga harus berinvestasi dalam pendidikan. Sebab, generasi yang sehat dan memperoleh pendidikan serta ketrampilan, akan dapat meraih potensi keberhasilan maksimal.

Direktur eksekutif UNICEF, Henrietta Fore menyebut investasi bagi generasi muda, adalah langkah yang cerdas. Negara tidak akan makmur tanpa generasi masa depan yang sehat, terdidik dan kuat. Memberi jaminan kesehatan yang baik, nutrisi dan stimulasi yang baik bagi anak-anak adalah kesempatan sekali seumur hidup. Fore menambahkan, investasi pada generasi muda bisa dilakuan dengan memastikan bahwa mereka memiliki akses pendidikan berkualitas, tetap sehat dan hidup aman.

Apa yang diungkap oleh Fore, sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dengan cepat dapat mengubah kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan membantu negara-negara miskin mengurangi kesenjangan terhadap negara-negara maju dalam hal harapan hidup.

Namun, faktanya, negara-negara miskin masih menghadapi tantangan besar karena hampir seperempat dari anak-anak balita kekurangan gizi dan 60 persen murid sekolah dasar gagal menyelesaikan pendidikannya. Bahkan, lebih dari 260 juta anak-anak dan remaja di negara-negara miskin tidak mendapatkan pendidikan sama sekali.

Bagi Indonesia, tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk berinvestasi dalam kesehatan dan pendidikan seluruh masyarakat, sebab, modal manusia atau potensi individu, akan menjadi investasi jangka panjang paling penting yang bisa dibuat oleh pemerintah untuk kemakmuran dan kualitas hidup masyarakat di masa mendatang. Tanpa upaya global yang segera dan terpadu untuk membangun modal manusia, maka Indonesia dapat terancam tidak mampu mewujudkan kemakmuran masyarakat di masa depan.

Peran HCI

Selain ada tiga tujuan diluncurkannya HCI, peran dengan adanya HCI, juga dapat untuk mengukur kesehatan anak-anak, remaja, dan orang dewasa, serta kuantitas dan kualitas pendidikan untuk anak yang lahir saat ini dan apa yang diharapkan untuk dicapai di usia 18 tahun.

HCI akan membantu memperkuat transparansi, yang menjadi bukti kuat yang dapat mendorong masyarakat dan pembuat kebijakan dalam menciptakan layanan yang lebih baik.

Oleh karenanya, HCI juga akan sangat membantu pemerintah di beberapa bidang, antara lain memanfaatkan sumber daya dan meningkatkan efisiensi pengeluaran, menyelaraskan kebijakan dengan investasi yang berfokus pada hasil, dan meningkatkan kualitas pengukuran dan analitis.

Semoga, dengan diluncurkannya HCI, bagi Indonesia khususnya, akan dapat menghasilkan kemajuan menuju dunia di mana semua anak dapat pergi ke sekolah dengan gizi yang baik dan siap untuk menerima pelajaran, punya harapan mengikuti pembelajaran yang baik di kelas, dan mampu memasuki dunia kerja sebagai individu yang terampil, dan produktif karena sehat dan terdidik, maka bahagia. Amin. (*)

*)Pengamat Pendidikan Nasional dan Sosial

You may also read!

Kejari Depok Irit Bicara

DEPOK – Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok masih belum buka-bukaan, terkait pengembalian berkas rasuah Jalan Nangka, Tapos ke Polresta Depok.

Read More...

Zoss Ada 51 Titik di Depok

DEPOK – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, terus menambah keberadaan Zona Selamat Sekolah (Zoss). Hal itu dilakukan untuk memberikan

Read More...

RS Harapan Depok Tantang YLCC di Pengadilan

DEPOK – Sengketa sewa menyewa gedung antara YLCC dengan RS Harapan Depok, akhirnya akan berujung dimejahijaukan. Kemarin, RS Harapan

Read More...

Mobile Sliding Menu