Fenomena Festival Palu Nomoni Kota Palu, Tiga Kali Ritual Balia, Tiga Kali Musibah

In Utama
DICKY/RADARDEPOK
BERPINDAH POSISI: Sebuah rumah tiga lantai kondisinya hancur dan posisinya sudah berubah akibat gempa, serta terbawa arus air tsunami di kawasan pantai Talise Kota Palu.

Pro dan kontra Festival Palu Nomoni berdatangan dari masyarakat dan tokoh adat Kota Palu. Tidak sedikit festival yang menampilkan ritual balia menjadi penyebab bencana dikarenakan salah dalam penempatan. Tercatat tiga kali pelaksanaan Kota Palu mendapatkan pertanda kurang baik hingga musibah. 

Di salah satu sebuah rumah di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Birobumi Selatan, Kecamatan Palu Selatan. Terlihat salah satu tokoh adat Kota Palu, Bahtiar tengah duduk dibawah auning halaman rumah. Bahtiar tengah duduk dan berbincang dengan teman sejawatnya.

Duduk di bangku plastik, Bahtiar mengatakan, Festival Palu Nomoni yang menampilkan ritual balia dinilai kurang tepat dalam penempatannya. Menurutnya, ritual balia merupakan salah satu cara suku Kaili dalam memanggil roh halus atau leluhur untuk membantu menyembuhkan penyakit yang tidak kunjung sembuh dalam waktu lama.

“Biasa digunakan orang tua dahulu dan tempatnya dirumah atau dihalaman rumah dan bukan untuk dipertontonkan karena sangat sakral,” ujar Bahtiar sambil memakan semangka.

Sesekali memakan semangka yang terhidang diatas meja, Bahtiar mengungkapkan, dalam ritual balia harus memberikan beberapa syarat, seperti dupa, keranda, buah-buahan, hingga hewan kurban seperti ayam, kambing, atau kerbau tergantung kasta sang penyelenggara prosesi.

Ritual tersebut diiringi dengan musik atau tarian. Apabila seseorang tubuhnya sangat rentan, dengan cepat tubuhnya akan dirasuki makhluk halus tersebut atau leluhur yang dipercaya. Namun pada praktiknya, pada Festival Palu Nomoni tersebut ritual tersebut dipertontonkan kesejumlah banyak orang dan hal tersebut sangat disayangkan.

“Padahal sejumlah tokoh adat dan pemuka agama telah menentang ritual balia,” terang Bahtiar.

Bahtiar menuturkan, kemungkinan Pemerintah Kota Palu memiliki maksud baik untuk memperkenalkan budaya, tradisi, dan adat istiadat, namun dia menyayangkan salah dalam penempatan.       Bukan tidak mungkin banyak masyarakat Kota Palu menduga akibat Festival Palu Nomoni musibah yang terjadi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala, tidak terlepas dari ritual Balia.

Bahtiar mengingat, semenjak tiga tahun terakhir Festival Palu Nomoni dilaksanakan, sudah tiga kali terjadi peristiwa alam di Kota Palu maupun diwilayah sekitar. Diantaranya pada 2016 terjadi gempa di daerah Bora dan Sigi Biromaru.

Kemudian, pada 2017, terjadi angin kencang dan hujan deras di Talise. Sedangkan pada 2018, terjadi gempa dan tsunami yang melanda tiga wilayah.

“Mungkin semua sudah musibah, kejadian ini dapat dijadikan pelajaran,” tutup Bahtiar. (*)

You may also read!

Pedagang Kemirimuka Depok Banding

DEPOK – Perjuangan pedagang Pasar Kemirimuka, sedikit goyang dalam mempertahankan tanah negara dari PT Petamburan Jaya Raya (PJR). Pengadilan

Read More...

Daftar ke RSUD Depok Cukup Via Online

DEPOK – Warga Depok kembali dimanjakan saat membutuhkan layanan RSUD Depok. Kemarin, RSUD yang berada di Kecamatan Sawangan tersebut

Read More...

40 Restoran Belum Bayar Pajak

DEPOK – Bisnis kuliner di Depok meningkat terus dalam tiga tahun terakhir. Namun tak semua pengusaha restoran di kota

Read More...

Mobile Sliding Menu