Cari Barang Bekas Demi Hidup

In Utama
Dicky Agung Prihanto/Radar Depok
MENCARI : Salah satu warga tengah mencari besi untuk dijual kembali di Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) Sabtu (20/10). Kegiatan ini dilakukan warga untuk menjalani kehidupan pasca bencana tsunami dan gempa.

PALU – Semilir hembusan angin pantai diselat Palu, memberikan hawa sejuk ditengah teriknya panas matahari di sepanjang Pantai Talise, Kota Palu kemarin. Melintas suara himbauan polisi kepada masyarakat, untuk tidak mengambil benda disekitar toko maupun gundang, dari kawasan Pantai Mamboro hingga Pantai Talise. Tapi, sejumlah orang menghiraukan tetap mencari barang yang tersisa dari reruntuhan puing, akibat gempa bumi dan sapuan tsunami.

Salah seorang pecari barang bekas, Januar (35) mengatakan, mencari barang bekas disisa reruntuhan merupakan salah satu cara untuk bertahan hidup. Menggunakan sepeda motor dan dibekali linggis, gergaji, dan palu, sebagai modal dia dalam mencari barang bekas. “Kami mencari besi untuk dijual kembali untuk mendapatkan uang,” ujar Januar kepada Harian Radar Depok.

Pria berkulit gelap tersebut mengungkapkan, selain besi, kayu dan tembaga kabel listrik, merupakan sasarannya dalam perburuan barang bekas. Menurutnya, benda tersebut masih dapat dijual dan bernilai harganya, setelah ditukarkan di pengepul rongsokan. Dia tidak perduli benda tersebut sebelumnya milik orang lain, namun dikarenakan kebutuhan hidup. Dia berusaha mengambil barang apapun dari sisa reruntuhan bangunan, yang berserakan disekitar bibir pantai.

Dengan lihainya, Januar memotong besi menjadi potongan kecil berukuran sekitar 40 centimeter (CM). Dan diikat menjadi satu untuk dijual kembali. Bahkan, kabel listrik tidak luput dari pantauannya, dan dia gulung untuk diangkut menggunakan sepeda motor yang telah dia parkir. Sebelumnya, dia telah mengangkut kayu sisa bangunan untuk Januar jual kepada pedagang kayu bakar di pasar tradisional.

“Sangat sulit hidup untuk mencari uang setelah Kota Palu terkena gempa bumi dan tsunami,” terang Januar.

Hal yang sama juga dilakukan Robertinus, pria yang sebelumnya memiliki rumah tidak jauh dari Pantai Mamboro dan hancur diterjang tsunami, membuat dia bersama keluarga tinggal di tenda pengungsian. Mengingat akan kebutuhan hidup, dia tidak menggubriskan himbauan polisi. Bermodalkan karung, satu persatu besi yang dapat dimuat dia masukan kedalam karung yang nantinya akan dia jual kembali kepada pengepul.

“Keluarga kami butuhkan sedangkan tempat usaha bersama rumah tinggal telah hancur karena tsunami,” ucap Robertinus.

Robertinus membeberkan, besi yang dia dapat dijual kepengepul dengan harga Rp8 ribu hingga Rp10 ribu perkilogram. Dalam mencari barang bekas, dia tidak sendiri dan ditemani saudaranya yakni Johanes yang sebelumnya berprofesi nelayan. Akibat tsunami, Johanes enggan untuk mencari ikan di selat Palu. Dia lebih memilih untuk mencari barang bekas, dan sisa elektronik yang rusak disekitar pergudangan Pantai Mamboro.

“Masih ada rasa takut apalagi saat ini masyarakat masih enggan untuk makan ikan, tidak tau alasannya kenapa,” tutup Johanes. (dic)

You may also read!

Pedagang Kemirimuka Depok Banding

DEPOK – Perjuangan pedagang Pasar Kemirimuka, sedikit goyang dalam mempertahankan tanah negara dari PT Petamburan Jaya Raya (PJR). Pengadilan

Read More...

Daftar ke RSUD Depok Cukup Via Online

DEPOK – Warga Depok kembali dimanjakan saat membutuhkan layanan RSUD Depok. Kemarin, RSUD yang berada di Kecamatan Sawangan tersebut

Read More...

40 Restoran Belum Bayar Pajak

DEPOK – Bisnis kuliner di Depok meningkat terus dalam tiga tahun terakhir. Namun tak semua pengusaha restoran di kota

Read More...

Mobile Sliding Menu