Cagar Budaya Situs Megalitik Vatunonju yang Tahan Gempa, 13 Batu Tak Bergeser, Pengungsi Bertahan di Rumah Adat Usia 2.500 Tahun

In Utama
DICKY/RADARDEPOK
LUBANG : Idris saat memperlihatkan salah satu batu nonju di situs Megalitik Vatunonju, Desa Watunonju, Kecamatan Sigi Biromaru, kabupaten Sigi, kemarin.

Gampa Bumi dan Lumpur likuifaksi mengguncang wilayah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Uniknya gempa berkekuatan 7,4 dan disusul 5,2 magnitudo tidak merusak sedikitpun cagar budaya situs Megalitik Vatunonju, Desa Watunonju, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi.

Laporan : Dicky Agung Prihanto

Keberadaan Museum Megalitik Vatunonju yang berada di wilayah tersebut tidak mengalami kerusakan. Rumah adat yang berbentuk panggung, dan terbuat dari kayu malah dijadikan tempat pengungsian.

Pria sesepuh masyarakat Desa Vatunonju, Idris S sedang asik merapihkan situs-situs dekat museum. Mengenakan kaos berkerah abu-abu, Idris mengatakan, Desa Vatunonju merasakan guncangan gempa bumi yang keras. Namun, rumah adat yang berada di situs Batu Megalitik yang berusia 2.500 tahun tidak mengalami kerusakan. Padahal, rumah sekitar yang tidak jauh dari situs tersebut mengalami keretakan hingga rusak.

“Lahan seluas satu hektar dijadikan tempat pengungsian masyarakat,” ujar pria berusia 69 tahun tersebut.

Mantan Pegawai Museum dan Peninggalan Sejarah Purbakala Provinsi Sulawesi Tengah tersebut mengungkapkan, Situs Batu Megalitik memiliki 13 batu Nonju. Nonju sendiri memiliki arti lesung atau batu lumping. Dahulunya, batu tersebut digunakan untuk menumbuk hasil pertanian atau kebutuhan manusia purba. Dahulunya batu Nonju berada di hutan belantara dan tertutup pohon.

Seiring berjalannya waktu, lanjut Idris, masyarakat setempat mulai menemukan batu nonju secara perlahan dan belum mengetahui arti dari batu tersebut. Akhirnya, terkumpul 13 batu dengan memiliki ukuran dan lubang batu yang berbeda. Uniknya, selain lubang untuk menumbuk, ada salah satu batu yang mirip akan cetakan tangan kanan manusia jaman dahulu.

Pria telah beruban tersebut menuturkan, sekitar 1898 masyarakat baru mengetahui bahwa batu tersebut merupakan batu lumpang, setelah orang asing bernama Kruul menemukan dan memberikan lokasi tersebut, yakni Van Poso naar Sigi en Lindu. Seiring berjalannya waktu, untuk menjaga situs tersebut Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melakukan pemugaran dan pemeliharaan situs pra sejarah dan purbakala pada 1984. “Hingga kini rumah adat dan batu tersebut tetap utuh dan tidak mengalami kerusakan,” tutup Idris. (*)

You may also read!

Pemkot Depok Gugat Petamburan, Fokus Persiapkan Materi Gugatan

DEPOK – Pemkot Depok tidak diam dalam memperjuangkan Pasar Kemirimuka. Pasca putusan sidang Derden Verzet sengketa lahan Pasar Kemirimuka,

Read More...

Cuaca Buruk, Harga Beras di Depok Naik

DEPOK – Cuaca buruk di sejumlah daerah, berdampak pada kenaikan harga beras di Kota Depok. Meski tidak begitu besar,

Read More...

TMMD Ke-103 Depok Rampung

DEPOK – Kurang lebih 30 hari pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-103, di Kecamatan Cipayung, resmi selesai

Read More...

Mobile Sliding Menu