Beragama dan Gairah Beragama

In Utama
Ust. Achmad Solechan, Plt Ketua PCNU Kota Depok

Oleh: Ust. Achmad Solechan

(Plt Ketua PCNU Kota Depok)

Indonesia merupakan Negara yang berhasil melandasi ideologi negaranya dengan Negara ketuhanan. Adalah Ketuhanan yang Maha Esa, menjadi sila pertama yang tertulis dalam Dasar Negara Republik Indonesia. Kehadiran Tuhan, sang pencipta alam semesta dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini menunjukkan betapa religiusnya bangsa ini. Perdebatan panjang mengenai dasar Negara negara terkait sila pertama Pancasila ditutup dengan kesepakatan menghilangkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yakni dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluknya.           Keberatan suadara-saudara dari Indonesia timur atas tujuh kata dalam Piagam Jakarta melalui AA Maramis disampaikan pada sidang bukan karena semangat ingin berpisah dari negara kesatuan, namun lebih karena kebersamaan dan persaudaraan senasib dan sebangsa bertanah air Indonesia. Atas nama bangunan kebersamaan, persaudaraan dan kemanusiaan dalam bingkai nasional kebangsaan Indonesia, yang tidak mengorbankan akidah dan keyakinan, KH Wahid Hasyim menjadi orang yang pertama menerima dan menyetujui penghilangan tujuh kata dalam piagam Jakarta ini.    Dan selanjutnya rumusan inipun dikonsultasikan ke KH Hasyim Asy’ari pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng untuk dimintakan istikhoroh yang hasilnya disetujui oleh KH Hasyim.

Karenanya Indonesia lahir atas dasar kesepakatan atau darul muakadah” negara kesepakatan. Lahirnya Republik ini tidak serta merta dan tiba-tiba atau sekedar hadiah. Serangkaian proses panjang dilalui, terjadi dinamika dan pergolakan dahsyat dari seluruh organ elemen bangsa ini. Bahu membahu dan bersinergi untuk mewujudkan Indonesia merdeka yang adil, makmur dan sentausa. Rasa kesatuan dan kebersamaan ini terus ditunjukkan sampai diproklamirkannya Indonesia merdeka dengan Pancasila sebagai dasar Negara. Semangat toleransi, kesamaan dan kebersamaan sebagai sesama anak bangsa terjaga demikian baiknya. Tak ada pembedaan atas ras, suku, agama dalam bingkai negara bangsa ini.

Sungguh potret yang amat menyenangkan, yang bahkan oleh negara-negara lain seperti Turki, Brazil, Pakistan dan beberapa lainnya, Indonesia menjadi referensi dan model atas keberhasilannya membuat dasar negara yang mampu menaungi perbedaan keyakinan dalam bingkai kenegaraan dengan damai. Sungguh suatu warisan sejarah yang sangat mengagumkan. Pondasi para pendiri bangsa ini meletakkan perdamaian, kasih sayang, dan kebersamaan menjadi pilar utama membangun negri. Pilihan-pilihan tersebut bukanlah karena mereka tidak memiliki pengetahuan dan ilmu yang cukup atasnya. Tokoh-tokoh yang ada memiliki kecakapan pengetahuan yang luar biasa, kedalaman ilmu dan pengetahuannya tidak diragukan lagi.

Beragama dan gairah beragama adalah dua hal yang sangat berbeda. Gairah beragama tanpa diikuti pemahaman agama yang cukup akan mudah bergeser ke pemahaman dan perilaku yang salah dalam beragama.

Allah tidak akan membebani hambanya kecuali sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana QS Al Baqoroh ayat 185. Juga Nabi Muhammad SAW dalam hadits Shohih Bukhori menyampaikan Innaddina yusrun walan yusyaddadina ahadun illa gholabah. Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama melainkan agama akan mengalahkannya.  Wallahau alam (*)

You may also read!

3.200 Guru Honor di Depok Mogok Ngajar

DEPOK – Pagi ini, ratusan guru honorer si-Kota Depok ontrog gedung DPRD Kota Depok, di Jalan Boulevard, Grand Depok

Read More...

18 Lagu Slank Rockin Fest

DEPOK – Sukses menghentak rangkaian tour Sumatera Agustus lalu. SUPERMUSIC kembali mempersembahkan event bertajuk Rockin Fest. Menariknya, Supermusic kali

Read More...

2020 Pemprov Jabar Tata Situ Depok

DEPOK – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, berencana menjadikan Depok sebagai destinasi wisata situ atau danau. Alasannya, Depok memiliki

Read More...

Mobile Sliding Menu