Tujuh Rumah Gedong Numpang Listrik, Developer Aruba Residence Depok Putus Aliran

In Metropolis
RUBIAKTO/RADARDEPOK
AROGAN: Developer Aruba Residence secara arogan memutus aliran listrik warga secara sepihak, akibatnya tujuh rumah di perumahan tersebut harus rela tidak teraliri listrik.

DEPOK – Entah apa permasalahannya sampai-sampai developer Aruba Residence berbuat tega seperti ini. Selama sembilan hari, tujuh rumah mewah di RT5/8 Kelurahan Depok, Pancoranmas itu tanpa kehidupan listrik. Alhasil, penghuni mesti menumpang listrik dengan tetangga.

Ketua RT5/8, Kelurahan Depok, Bondan mengatakan, ada tujuh rumah yang aliran listriknya diputus secara sepihak. Antara lain di rumah blok A6, A25, B1, B2, C32, B16, dan C53. “Sudah sembilan hari ini listrik di tujuh rumah di Aruba Residence diputus sepihak, termasuk rumah saya,” kata Bonda kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Dia juga mengatakan, sudah mengadukan hal tersebut ke PLN Kota Depok. Namun, PLN belum bisa memberikan solusi untuk kembali mengaliri listrik ke tujuh rumah yang telah diputus. Pemutusan listrik ini dengan cara merusak jaringan listrik, dan mengunci panel listrik yang diklaim milik pengembang menggunakan gembok.

“Kami sudah mengadukan ke PLN, tapi ternyata mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena alasannya, meteran listrik yang kerumah merupakan aset milik Aruba residence. Jadi meterannya di gembok, kalau dirusak PLN bisa dipidanakan,” beber Bondan.

Pihak PLN menyarankan, untuk dibuatkan laporan pengaduan ke Polres Depok. Itu agar dapat ditindaklanjuti. Hingga hari ini (kemarin), petugas PLN belum berhasil menyelesaikan permasalahan listrik warga perumahan Aruba Residence yang diputus pengembang. “Padahal saya bayar listrik dan mendaftarkan listrik dengan nama pribadi, tapi kenapa PLN tidak bisa bertindak,” ujar Bondan.

Pihaknya juga mengaku, sudah melaporkan hal tersebut ke Polresta Depok, dan masih menunggu pemeriksaan dari Polresta Depok. “Kami juga sudah laporkan ke Polresta Depok, tapi masih dalam proses pemeriksaan,” kata Bondan.

Meski aliran listrik diputus, warga tetap tinggal di rumah mereka masing-masing. “Kami tapi tetap tinggal di rumah kami masing-masing. Sementara kami meminta aliran listrik dari tetangga kami,” ujar Bondan.

Motif yang melatar belakangi kejadian tersebut, developer merasa semua fasilitas masih memiliki hak pengelolaan. Sementara,  warga yang menginginkan swakelola disebabkan wanprestasi pengelola terhadap fasilitas yang di janjikan. Hasilnya warga merasa sudah waktunya developer menyerahkan kepada pemkot Depok, agar segera dapat di swakelola oleh masyarakat.

Ditambah lagi, kenaikan sepihak terhadap pungutan yang disebut sebagai iuran pengelolaan lingkungan. pPengembang membuat warga semakin gerah.

Sebelumnya, Developer Aruba Residence dinilai sudah arogan. Keladinya, penghuni dipaksa harus membayar kebersihan Rp700.000 sebulan. Akibat sikap sepihak itu, penghuni mengadukan permasalahan  pengelolaan lingkungan ke Pemkot Depok.

Salah satu penghuni Aruba Residence, Andreas mengatakan, warga memang sudah beberapakali terlibat konflik terkait pengelolaan lingkungan. Awalnya, konflik dimulai sejak Juli 2018, saat itu petugas sampah dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, dilarang masuk komplek untuk mengambil sampah. “Petugas sampah tidak boleh masuk, jadi sampah berserakan di sepanjang komplek,” kata Andreas kepada Harian Radar Depok.

Hal tersebut menurutnya, bermula saat developer Aruba Residence menaikan harga Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL). Sebelumnya IPL hanya Rp 200 ribu perbulan, tapi tiba-tiba secara sepihak developer Aruba Residence menaikan harga tanpa persetujuan warga menjadi Rp700 ribu perbulan.

Bahkan, Rabu (25/7) pihak developer melalui para pekerja sengaja membuang sampah ke depan rumah ketua RT05/08. “Pihak developer dengan sengaja membuang sampah di depan rumah Pak Rt, dan itu terekan di kamera CCTV milik warga,” jelas Andreas.

Sementara pada perjanjian sebelumnya, warga membeli rumah di Aruba Residence berikut prasarana, sarana dan utilitas. Tapi yang terjadi adalah pembatasan hak warga untuk menikmati lingkungan Aruba.

Warga juga sudah mendatangi kantor Walikota Depok, untuk mengadukan permasalahan tersebut, warga diterima Inspektur Pembantu Wilayah II, Adhy Parayudha. “Kami telah mengadukan ke pemkot, tinggal menunggu jawaban pemkot,” jelas Andreas.(rub)

You may also read!

3.200 Guru Honor di Depok Mogok Ngajar

DEPOK – Pagi ini, ratusan guru honorer si-Kota Depok ontrog gedung DPRD Kota Depok, di Jalan Boulevard, Grand Depok

Read More...

18 Lagu Slank Rockin Fest

DEPOK – Sukses menghentak rangkaian tour Sumatera Agustus lalu. SUPERMUSIC kembali mempersembahkan event bertajuk Rockin Fest. Menariknya, Supermusic kali

Read More...

2020 Pemprov Jabar Tata Situ Depok

DEPOK – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, berencana menjadikan Depok sebagai destinasi wisata situ atau danau. Alasannya, Depok memiliki

Read More...

Mobile Sliding Menu