Kisah Ari Sumaryani, Pemilik Wahyu Agency II (2) Tempuh Jarak Berkilo-kilo, Hingga Tiga Kali Dibredel

In Metropolis
SANI/RADAR DEPOK
AKRAB: Pemilik Wahyu Agency II, Ari Sumaryani bersama salah satu pengecer sedang bercengkrama di lapak korannya di halaman Klinik Pala Medika, Jalan Raya Nusantara, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas.

Semangat yang tak boleh padam, harus ditanamkan dalam diri setiap orang. Karena, salah satu kunci kesuksesan adalah semangat. Walaupun usianya sudah melebihi satu abad, Ari Sumaryani tak pernah lelah. Meskipun pekerjaan dengan waktu yang sangat padat dia lakukan.

LAPORAN : NUR APRIDA SANI

Lelaki yang kerap dipanggil Ari ini setiap harinya bekerja sebagai penjual koran. Tapi bukan menjajakan ke pelanggan di jalan seperti pada umumnya. Dia adalah pemilik Wahyu Agency II di halaman Klinik Pala Medika, Jalan Raya Nusantara, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas.

Sejak masih duduk di bangku SD, dia sudah menjalankan profesinya itu. Tak sehebat kini, dulu katanya dia harus menempuh jarak berkilo-kilo meter demi berjualan koran. Lokasi tempat tinggal di Lenteng Agung, Jakarta Selatan harus ia tempuh ke daerah Pasar Pal, Cimanggis, untuk mengambil koran di distributor.

“Dulu pakai sepeda ontel ngambil korannya. Pagi-pagi buta (dini hari, red) saya sudah berangkat ke Pasar Pal dan mengantarkan koran ke pelanggan dan pengecer sampai ke Jakarta dan Depok,” kata Ari kepada Radar Depok.

Sambil menghitung uang dari saku jaket, seketika Ari menggelengkan kepalanya. Dia merasa keuntungan menjadi agen koran sudah tak seperti waktu zaman sebelum reformasi. Dari kurang lebih 100 anak buah (sub agen) yang dia miliki, kini hanya tinggal 37 orang yang masih bertahan.

Perkembangan teknologi yang kian pesat merupakan salah satu penyebab orang mulai meninggalkan koran. Dia mencontohkan, biasanya satu pelanggan bisa berlangganan tiga koran, kini satupun juga tidak.

“Itu (teknologi) juga mempengaruhi, tapi yang paling penting parahnya adalah daya minat orang untuk membaca yang sudah tidak ada. Mereka lebih nyaman untuk melihat dan mendengar melalui televisi, ketimbang membaca tulisan,” jelasnya.

Karena mulai terkikisnya daya beli, pernah agen miliknya tersebut di bredel oleh pemilik media. Lantaran uang setoran koran yang tak pernah mencapai target dan selalu terlambat. Malahan saat rezim orde baru berkuasa, dia pernah merasakan Koran Kompas terbit pukul 11.00 siang.

Tak mengenal lelah karena sudah bangu sejak pukul 02.00 dini hari, ia tetap menunggu dengan setiap koran-korannya datang. Karena seringnya agen miliknya di bredel, membuat dia sampai mengganti empat kali nama agen. Terakhir Wahyu Agency II yang diambil dari nama adik ketiganya.

“Nama ini dipakai dengan merujuk pada harapan yang sama seperti adik saya yang kini sudah menjadi orang hebat dengan pendidikan jenjang S3-nya,” terang Ari. (bersambung)

You may also read!

Tersangka Curanmor di Depok Tewas di Hotel Prodeo

DEPOK – Ternyata Hotel Prodeo Polresta Depok sangat angker bagi tahanan. Tersangka Yulius Lucas Tahapary alias Ulis, yang terjerat

Read More...

8.243 Pengendara Ditilang

DEPOK – Ternyata pengguna kendaraan di Kota Depok belum terlalu patuh akan aturan. Faktanya, selama operasi zebra sedari 30

Read More...

Kontraktor Rusak Taman Pipit Depok

DEPOK – Akibat tidak berkordinasi sejak awal, akhirnya seluas 20 meter Taman Pipit rusak. Kuat dugaan taman yang terletak

Read More...

Mobile Sliding Menu