Kisah Ari Sumaryani, Pemilik Wahyu Agency II (1) Puluhan Tahun Jualan Koran, Sambilan Jadi Guru Seni

In Metropolis
SANI/RADAR DEPOK
Pemilik Wahyu Agency II, Ari Sumaryani sedang memilah koran-koran yang akan diambil oleh pengecer, Kemarin (13/9) di halaman Klinik Pala Medika, Jalan Raya Nusantara, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas.

Pendidikan merupakan prestise utama di era globalisasi saat ini. Selain pengakuan, pendidikan juga menjanjikan kenyamanan dalam hidup. Namun berbeda dengan pria bernama Ari Sumaryani. Ketika ke enam adiknya berpendidikan tinggi, ia malah memilih hanya tamatan SMA dan berjualan koran. Hebatnya, biaya pendidikan para adiknya pun diperolehnya dari berjualan koran.

LAPORAN : NUR APRIDA SANI

Semangat dari Ari panggilan akrabnya- sudah terlihat dari caranya berbicara. Dengan suara sedikit parau namun namun menggebu-gebu menunjukkan dirinya tak pernah lelah untuk menjalani hidup. Meski guratan kulit yang menandakan usianya tak lagi muda telah nampak ditubuhnya. Tapi semangatnya menutupi usianya yang sudah masuk kepala 5.

Ari merupakan pemilik agen koran yang bernama Wahyu Agency. Sejak tahun 1978, Pria kelahiran kelahiran Malang, 14 Oktober 1965 ini sudah berjualan koran keliling Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Tepat pukul 05.00 pagi dia sudah menjajakan koran-koran di halaman Klinik Pala Medika yang terletak di Jalan Raya Nusantara, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas. Dengan mengendarai motor matic berwarna hitam. Ari datang dengan semangat walaupun matanya masih agak sedikit bengkak karena menahan ngantuk.

Dengan mengenakan jaket berwarna merah maroon dengan kaos hitam berlambang Indonesia di dalamnya. Ari mulai memilah koran-koran sesuai jatah yang akan diambil oleh para pengecer kepadanya. Satu persatu orang mulai menghampirinya, ada yang membawa motor ada juga yang berjalan kaki.

Lebih dari 30 jenis koran Nasional dan Regional berjejer rapih di depan Rolling Door tertutup samping klinik itu. Ari mengatakan bahwa dirinya setiap hari berjualan hanya sampai pukul 08.00 pagi.

“Saya bangun pukul 02.00 untuk menerima kiriman koran dari Kanfaser yang didrop dirumah Ibu di lenteng agung. Baru saya distribusikan ke pelanggan paling lambat pukul 05.00, dan saya langsung kesini (halaman klinik, red),” kata Ari kepada Radar Depok.

Setelah selesai berjualan, Ari segera meninggalkan lahannya tersebut untuk bergegas ke rumah. Nyatanya, dia harus segera siap-siap berangkat lagi mencari nafkah. Tapi bukan berkutat di koran lagi, tapi dia harus mengajar di salah satu SMK di Kota Depok.

Waktu yang harusnya ia gunakan untuk istirahat, ternyata melanjutkan pekerjaan lain demi mendidik para generasi penerus bangsa. Banyak orang tak menyangka, bahwa Ari adalah pelaku seni yang dia realisasikan mengajar kepada para siswanya.

“Saya adalah penari. Sejak lulus SD tahun 1980, sambil berjualan koran saya juga berlatih tari di salah satu sanggar milik tentara,” tutup Ari. (bersambung)

You may also read!

Tersangka Curanmor di Depok Tewas di Hotel Prodeo

DEPOK – Ternyata Hotel Prodeo Polresta Depok sangat angker bagi tahanan. Tersangka Yulius Lucas Tahapary alias Ulis, yang terjerat

Read More...

8.243 Pengendara Ditilang

DEPOK – Ternyata pengguna kendaraan di Kota Depok belum terlalu patuh akan aturan. Faktanya, selama operasi zebra sedari 30

Read More...

Kontraktor Rusak Taman Pipit Depok

DEPOK – Akibat tidak berkordinasi sejak awal, akhirnya seluas 20 meter Taman Pipit rusak. Kuat dugaan taman yang terletak

Read More...

Mobile Sliding Menu