Cerita Pelaku UMKM Kota Depok, Dikarina Art Meraih Keberkahan dari Hobi Craft

In Utama
AGUNG/RADAR DEPOK
EKONOMI KREATIF: Ina Dikarina (kanan) menunjukkan handycraft hasil buatannya yang dipasarkan di Kios UMKM Kota Depok, yang ada di lantai dasar Giant Mal Margocity, Jalan Raya Margonda.

Para pelaku usaha yang tergabung dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Depok semakin menunjukkan geliat aktivitasnya. Salah satu UMKM yang saat ini terus berkembang adalah kerajinan Handycraft, seperti dilakoni Dikarina Art milik Ina Dikarina.

Laporan: Muhammad Agung HR Depok  

Siang itu di salah satu sudut lantai dasar Mal Margocity Jalan Raya Margonda, tampak deretan kios milik UMKM yang ada di bawah naungan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok.

Di antara puluhan kios, ada satu kios yang cukup membuat perhatian saya dan pengunjung lain. Nama kios itu Dikarina Art. Dengan ramah, awak media disapa ramah oleh sang pemilik kios. Ya, dia adalah Ina Dikarina (50). Pada kesempatan tersebut pula kami berbincang dengan Ina yang sudah merintis bisnis kerajinan ‘Decoupage’ sejak dua tahun lalu.

Diketahui, Decoupage berasal dari bahasa Prancis découper atau berarti memotong, merupakan kerajinan atau bentuk seni yang memerlukan potongan-potongan bahan (biasanya kertas) yang ditempel pada objek dan kemudian dilapisi dengan pernis atau pelitur.

Ina mengaku, diberi kesempatan oleh Pemkot Depok melalui DKUM sebagai salah satu UMKM yang terpilih untuk menempati kios di Mal Margocity. “Cukup ketat untuk bisa masuk ke Margocity. Alhamdulillah saya terpilih mengisi kios UMKM Depok di sini, dengan produk Dikarina Art,” terang Ina kepada Radar Depok.

Usaha utama yang diproduksi Ina segala craft berbentuk decoupage, sebetulnya sudah dikenal khususnya di kalangan perempuan. Ina mengatakan, sempat beberapa tahun lalu ibu-ibu pejabat atau artis begitu bangga dengan hadirnya karya decoupage.

“Decoupage ini bahan dasarnya tisu yang bermotif, tapi tidak hanya dari anyaman pandan bisa ditempeli oleh tisu. Bisa juga kayu, keramik, kaca, bahan bekas dan sebagainya,” terang Ina.

Setelah mengalami perkembangan, Ina tidak hanya memproduksi kerajinan decoupage. Selain tas, ia juga membuat hiasan-hiasan gantungan kunci, tempat kotak tisu, tempat buah, tempelan kulkas dari kayu bisa didekor. Kemudian ia merambah ke craft. Saat ini mulai mencoba yang berbahan kain, seperti kanvas dan katun untuk dibuatkan tas, dompet, hingga gelang.

“Saya melihat pangsa pasar, ternyata pasar suka ya sudah saya bikin. Kemudian ada bros. Bikin bando pita juga untuk anak-anak, gelang anak, sasaran pasar dari semua kalangan. Tetapi mayoritas adalah perempuan,” tutur Ina.

Tidak hanya manual, Ina pun memasarkan produknya dengan memanfaatkan media sosial Instagram dan Facebook. Hanya saja untuk saat ini onlinenya belum dikembangkan lagi. Menurut Ina ketika itu penjualan sempat melalui facebook, banyak teman-temannya yang memesan. Ada teman TK, SD, SMP, dan SMA bahkan order temen-teman jauh ada yang dari Kalimantan.

“Saya juga bikin acrylic, nah itu sudah sampai di pasarkan ke Saudi Arabia, ya itu berkat network. Ada teman suami di Saudi Arabia dia ingin memberikan souvenir kepada rekan bisnisnya saya membuat souvenir yang besar-besar. Alhamdulillah sudah lumayan banyak,” kata Ina.

Ina mengatakan, untuk harga yang ditawarkan adalah harga yang termurah. Karena di UMKM, selain dirinya  ada juga pelaku usaha lain yang menjual kerajinan decoupage dan hal tersebut bisa dibandingkan harganya. “Seperti ini mungkin (sambil menunjukkan sebuah tas) mereka jual Rp350 ribu, tetapi saya tawarkan ke konsumen hanya Rp175 ribu,” tandas Ina.

Meski begitu lanjut Ina, ia tidak mengambil keuntungan banyak, yang penting produk bisa terjual dengan lancar. Maka harganya bervariatif, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp200 ribu. “Kalau ada pembeli membeli produk saya, saya jamin di dunia ini hanya dia yang punya satu tas ini. Tidak ada lagi orang lain yang punya. Karena ini kan hand made, setiap orang yang membuat handmade tidak sama,” tegas Ina.

Ina menyebutkan, eksklusivitas menjadi perhatian penting. Terutama dalam pemilihan motif. Ia menjamin, bila membeli produknya, di luar mana pun tidak ada yang sama. “Di sini lah eksklusifnya,” ucap dia.

Yang ditempatkan di Mal Margocity ada 24 UMKM, tetapi mayoritas kuliner memilih tutup. Ina mengatakan, persoalan ada di Sales Promotion Girls (SPG). Karena sejumlah pelaku usaha kuliner tidak bisa setiap hari berjaga, harus dibantu SPG dari pagi sampai malam.

“Jadi kami pasti butuh pegawai. Hambatannya mayoritas adalah pegawai. Susah-susah gampang nyari SPG,” terang Ina.

Bagaimana dengan perhatian Pemkot Depok? Ina mengatakan, perhatian Pemkot Depok sudah bagus dan sangat bertangung jawab. Misalnya terhadap tenan UMKM yang ada di Margocity secara berkala mengunjungi kios UKM.

“Satu-persatu didata kemudian dievaluasi, ada perhatian terhadap para pelaku usaha. Kemudian di follow up tidak hanya sekedar aja,” ucapnya.

Harapan terbesarnya dalam pengembangan usaha UMKM terutama di tahun 2018, berharap omzet semakin meningkat dan itu sudah jelas setiap pelaku bisnis, diiringi kualitas produk. Jadi, customer itu puas membeli produk dengn harga terjangkau tetpi dengan kualitas bagus.

“Cita-cita saya ingin punya toko khusus craft, berbagai macam tetapi handmade. Toko itu posisinya strategis di daerah yang lokasinya memang ramai, kemudian mempunyai ciri khas. Semoga saja Allah mengabulkan niat dan harapan saya,” harap Ina.

Dengan omset rata-rata Rp8 juta hingga Rp10 juta, Ina juga memasarkan produknya lewat pameran dan bazaar. Sedangkan bagi customer yang ingin membeli produknya bisa mengunjungi kios UMKM miliknya dengan label Dikarina Art di kios UMKM Kota Depok Lantai Dasar Giant Margocity. Atau bisa membuka facebook Ina Dikarina dan Dikarina Craft, serta melalui Instagram Dikarina Galery. Dan alamat produksi berada di Komplek Timah Blok C3No10 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis.

Saat ditanya tentang arti kemerdekaan pada HUT Ke-73 RI, Ina mempunyai pemahaman tersendiri tentang arti Kemerdekaan. “Buat saya Merdeka itu tidak terpenjara oleh urusan dunia. Punya usaha/bisnis tapi masih bisa leluasa beribadah, mengaji, menuntut ilmu akhirat, silaturahmi dan melakukan aktifitas yang bermanfaat,” pungkas Ina. (*)

You may also read!

Walikota Depok, Mohammad Idris Lobi Kang Emil Soal UMK

DEPOK – Upah Minimum Kota (UMK) Kota Depok 2019 saat ini masih dalam pembahasan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pembahasan

Read More...

Satu Keluarga Nyaris Terpanggang

DEPOK – Sebuah mobil sedan terbakar hebat di Jalan Nurul Falah, Kelurahan Cisalak Pasar (Cipas), Cimanggis, Selasa (20/11) siang.

Read More...

1 Abad Hizbul Wathon, 106 Tahun Muhammadiyah Perjuangkan Dakwah dan Pendidikan

DEPOK – Ribuan kader Muhammadiyah memadati lapangan HW menggelar apel akbar di kawasan Beji Timur, memperingati milad 1 Abad

Read More...

Mobile Sliding Menu