Tak Perlu Imbauan, Tapi Laporkan

In Utama

DEPOK – Adanya potensi kotak amal yang disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, sudah seharusnya menjadi perhatian semua pihak. Agar apa yang diberikan tepat sasaran.

Menyikapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Kota Depok M. Supariyono menilai, saat ini belum perlu membuat imbauan kepada masyarakat dan belum perlu penanganan yang melibatkan pemerintah terlalu dalam. Menurut Suparyono, kotak amal yang ditaruh di warung, masjid atau yayasan di lingkungan sekitar jarang yang disalahgunakan.

“Yang potensi disalahgunakan biasanya yang keliling ke kampung-kampung atau di lampu merah,” kata Supariyono kepada Radar Depok.

Ketika ditanya, apakah perlu penanganan atau intervensi dari pemerintah atau pihak keamanan untuk membersihkan kotak-kotak amal yang berpotensi bodong dan disalahgunakan uangnya.

“Saya kira belum perlu, itu kan hanya kasus, jadi belum perlu penanganan yang melibatkan pemerintah terlalu dalam, cukup laporkan saja ke aparat yang berwenang seperti ke polisi. Untuk ke masyarakat pun saya kira belum perlu imbauan. Nanti malah bikin kehebohan baru, cukup laporkan saja,” ucap Supariyono.

Sementara, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Lahmudin Abdullah mengatakan, jika memang kotak amal itu benar peruntukannya, tentu diperbolehkan bagi masyarakat untuk menyisihkan rejekinya untuk ditaruh dan dipergunakan hasil penggalangan dana melalui kotak amal yang tersebar di warung-warung.

“Yang memang benar tentu dibolehkan, karena memang agama juga menganjurkan, ambillah,” kata Lahmudin.

Namun, jika ada kotak amal bodong atau fiktif, tentu bagi yang menerimanya haram. Sebab, pembohongan maksud dan tujuan yang tercantum dalam di informasi yang disajikan di sisi atau di dalam kotak amal tersebut.

“Yang fiktif tentu menerimanya haram, karena pembohongan. Oleh karenanya, kotak yang ditaruh di tempat seperti pintu masuk warung atau apa saja harus disertai legalitas,” paparnya.

Saat ini pun belum perlu menginventarisir mana kotak amal yang benar maupun kotak amal yang bodong. Kata Lahmudin, sementara bersifat anjuran saja untuk menunjukan legalitas ke tempat yang ditaruh kotak amal.

“Untuk masyarakat sendiri, silahkan saja mendermakan rejekinya untuk membantu yayasan tersebut. Namun, saya mengimbau ke masyarakat untuk mendonasikan rejekinya ke wilayah yang terdekat dulu,” ucap Lahmudin.

Pemilik Warung Tak Keberatan

Terpisah, Sumiyati pemilik warteg di Jalan M. Nasir Kelurahan Cilodong mengatakan, di warungnya tersedia kotak amal dan sudah ada sejak awal ia membuka Warteg di jalan tersebut. “Warteg saya sudah mau lima tahun di sini. Gak lama saya buka warteg kotak amal di taruh,” ucapnya.

Sumiyati mengatakan, kotak amal di warungnya berasal dari TPA-MDA Ibnu Abbas dan Musala Al-Ikhlas di Kampung Bendungan Cilodong. “Di tempat itu memang lagi renovasi. Biasanya petugas dari TPA Ibnu Abbas akan datang dalam kurun waktu tertentu. Bisa 3-4 bulan sekali,” katanya.

Dirinya mengaku, tak merasa keberatan dengan keberadaan kotak amal tersebut mengingat tujuan mulia untuk membangun sarana pendidikan agama bagi anak–anak yang dapat meningkatkan kualitas anak–anak di wilayahnya. “Kalau jelas alamat dan peruntukkannya, saya yakin masyarakat pasti tidak akan keberatan dan mungkin turut menyumbang. Tetapi kalau kotak amal fiktif itu yang tidak baik,” tandasnya.

Sementara itu, warga Kemirimuka Beji, Tri Gunadi mengatakan,

kotak amal yang beredar di rumah makan atau tempat ramai bisa benar, bisa juga bohong. Tetapi, semua itu kembali lagi ke niat masing-masing orang yang ingin beramal. “Ketika kita berniat mau mengamalkan sebagian rezeki kita, itu hanya kepada Allah SWT yang tahu dan membalasnya,” kata Tri kepada Radar Depok.

Lain halnya warga Tirtajaya Sukmajaya, Rage Gupala. Menurutnya memang banyak kotak amal yang beredar di mana-mana yang kadang tidak masuk akal. Kalau memang kotak amal tersebut wilayahnya masih masuk Kota Depok rasanya benar. “Tapi jika ada kotak amal yang berasal dari lokasi yang jauh (di luar Depok, Red) itu diragukan. Karena, di sini belum tentu tahu lokasinya di mana dan apakah itu benar atau tidak,” terang Rage singkat. (cky/dra/ina)

 

You may also read!

150 Pelajar Diare Massal, Dinkes Depok: Tunggu Hasil Lab 14 Hari

DEPOK – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Pondok Duta, tengah dirundung musibah. Sejak Rabu (10/10) hingga kemarin, sekolah di

Read More...

Depok Masuk 10 Besar Smart Sanitation

DEPOK – Warga Depok mesti tahu ini. Ternyata kemarin, Kota Depok masuk 10 nominasi Smart Sanitation Award 2018 (SSA)

Read More...

Kajian Ganjil-Genap Depok Lelet

DEPOK – Gaung penerapan sistem ganjil-genap di Jalan Margonda Raya, saat weekend sabtu dan minggu sepertinya hanya angan-angan saja.

Read More...

Mobile Sliding Menu