Kemenangan NU dalam Pilkada dan Pemaknaan Khittah

In Ruang Publik
FOTO: K.H.A.Mahfudz Anwar

Oleh : K.H.A.Mahfudz Anwar*)

Baru saja bangsa Indonesia merampungkan perhelatan akbar dalam kancah perpolitikan, yang berupa PILKADA serentak (Pemilihan walikota/bupati-wakil dan Gubernur-wakil Gubernur). Alhamdulillah bisa berjalan dengan damai dan kondusif. Tidak seperti bayangan sebelumnya yang dikuatirkan akan terjadi huru-hara yang merusak tatanan demokrasi. Hal ini sebagai bukti matangnya pemahaman masyarakat akan hakikat demokrasi juga tak lepas dari andil pihak keamanan Polri dan TNI yang bersikap netral dalam kepentingan PILKADA tersebut.

Namun apapun yang terjadi dalam proses PILKADA ini, kita bisa melihat data dan fakta bahwa besar peran NU (Nahdlatul Ulama) yang selama ini sering diteror dan disudutkan dengan berbagai pandangan miring justru meningkatkan gengsi NU dalam perpolitikan di negeri ini. Ibarat kata, promosi gratis. Semakin dicaci dan diolok-olok, justru masyarakat semakin tahu apa dan siapa sejatinya NU itu. Melalui berbagai media khususnya medsos sangat efektif berita tentang NU mendominasi media tersebut. Seakan “tiada hari tanpa ada berita tentang NU”. Hal ini semakin menarik minat banyak orang untuk ingin tahu tentang NU. Bahkan tidak sedikit yang penasaran kemudian tabayun (crosscheck) dan akhirnya jatuh cinta kepada NU.

Dari kalangan profesional yang selama ini kurang perhatian terhadap NU, setelah adanya pemberitaan tentang NU yang negatif akhirnya mereka berbondong-bondong mendatangi tokoh NU untuk minta penjelasan. Demikian juga anak-anak generasi milenial tidak sedikit yang penasaran, akhirnya cari tahu sendiri tentang NU. Dari semua itu tenyata mengandung hikmah tersendiri bagi NU. Dan hal ini kemudian berdampak pada pandangan politik. Terutama banyak orang yang semakin simpatik terhadap calon-calon Pemimpin Daerah yang mengusung calon dari kalangan NU. Pemilihan terhadap Gubernur ataupun Bupati/walkot yang berbasis NU bukan tanpa alasan, tapi justru alasan rasional yang mereka dapat dari berita tabayun itu.

Kemenangan NU

Kemenangan PILKADA di Jawa Timur –misalnya- jelas-jelas diperoleh oleh pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak yang merupakan Ketua Umum Muslimat NU. Dalam setiap gerak langkah kampanyenya kemaren selalu membawa nama NU untuk meraih simpatik calon pemilih. Sekalipun bersaing dengan sesama kader NU Saefullah Yusuf, tapi secara struktural Khofifah lebih merakyat karena sebagai Ketua Umum Muslimat mempunyai akses yang tinggi terhadap jama’ahnya (Ibu-Ibu Muslimat NU). Sedangkan Saefullah sekalipun kader NU tapi bukan Ketua Umum, sehingga akses kepada warga NU tidak sebesar Ketua Umum.

Untuk kemenangan PILKADA di Jawa Tengah Pasangan Ganjar Pranowo dengan Taj.Yasin (Gus Yasin) juga tidak lepas dari unsur NU. Di mana Gus yasin sebagai Cawagub merupakan putra mahkota dari Tokoh Karismatik NU K.H. Maimun Zubair. Di samping kekuatan PDIP yang masih signifikan di Jawa Tengah, namun yang tidak kalah pentingnya adalah peran Tokoh K.H.Maimun Zubair atau biasa dipanggil mBah Maimun. Dan mBah Maimun adalah dedengkot NU yang sekarang paling sepuh usianya dan masih dikeramatkan oleh mayoritas warga nahdliyin terutama di basisnya Jawa Tengah. Dan ini sangat mendongkrak pamor pasangan Gubernur dan wakilnya (Ganjar – Gus Yasin). Seandainya Ganjar tidak berpasangan dengan kandidat dari NU, belum tentu bisa meraih kemenangan yang gemilang.

Kemenangan pasangan RINDU (H. Muchamad Ridwan Kamil dan UU Ruzhanul Ulum) yang mengalahkan tiga pasangan lainnya termasuk pasangan ASYIK (Sudrajat- Syaikhu) yang dianggap pesaing berat, juga sangat erat hubungannya dengan NU. Di mana Ridwan Kamil diposisikan sebagai cucu Tokoh NU Jawa Barat sekalipun dia sendiri buka tokoh NU. Dan Uu juga putra serta cucu Kiai tokoh NU karismatik di Jawa Barat. Jadi kedua-duanya merupakan kandidat dalam pilkada yang selalu mengusung platform NU. Dan ternyata dengan mambawa nama besar NU juga laku untuk di Jawa barat yang meskipun Jawa Barat dikenal banyak ormas Islam di luar NU. Sementara Paslon  pengusung Islam murni, Islam pembaharu dan yang mengusung budaya lokal (Sunda) masih terkalahkan dengan platform NU.

Khittah NU

Kajian tentang kemenangan para paslon Pemimpin daerah di Pulau Jawa ( Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa barat) tersebut  menyisakan pertanyaan tentang “posisi kembali ke-khittah NU 1926” yang digagas oleh Gus Dur di era Orde Baru tahun 1980-an yang lalu. Di mana kondisi perpolitikan saat itu sangat tidak kondusif dalam perkembangan NU. Jadi keputusan kembali ke-khittah 1926 merupakan keputusan politik, yang saat itu Orde Baru berkuasa. Hal itu telah diperparah oleh tidak sehatnya kondisi politik yang ada, karena Pemerintah  telah melakukan political engineering sebagai mekanisme menjaga kekuasaannya. Pemerintah yang berkuasa berusaha dengan segala cara untuk memenangkan GOLKAR untuk melegitimasi kekuasaannya.

Salah satu usaha yang jelas adalah politik otoriter Pemerintah yang memaksa 4 partai Islam menjadi satu, yaitu menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kemudian partai-partai yang berideologi nasionalis dan non Islam menjadi satu wadah Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Sehingga zaman itu hanya ada tiga partai, PPP, PDI dan partai Penguasa-GOLKAR- yang tidak mau disebut partai. Situasi demikian dipandang oleh para Ulama NU sangat tidak sehat dalam berdemokrasi, termasuk dampaknya pada perkembangan keagamaan di kalangan NU atau Nahdliyin.

Pada saat itu NU menjadi sasaran utama penggembosan oleh Pemerintah Orde Baru. Karena NU mempunyai kekuatan massa yang sangat besar dan solid secara ideologis di negeri ini dari dulu sampai saat ini. Dari kesadaran itulah para kader-kader NU berusaha keluar dari kemelut perpolitikan yang kurang menguntungkan bagi warga bangsa dan khususnya warga NU. Kemudian muncullah jargon NU tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana, yang diartikan bahwa warga NU bebas memilih dan menyalurkan aspirasinya ke tiga partai yang ada. Orang NU boleh masuk GOLKAR, orang NU halal masuk PPP dan bahkan orang NU juga tidak salah masuk di PDI. Dari situlah kemudian NU keluar dari situasi penggembosan oleh Penguasa.

Adapun pada akhirnya Gus Dur membentuk Partai kebangkitan Bangsa (PKB) adalah salah satu langkah kongkrit yang telah membuka pintu demokrasi di era tumbangnya Penguasa GOLKAR. Dan ternyata suara NU tetap masih solid dalam wadah PKB yang saat Pemilu pertama di era reformasi PKB memperoleh 57 kursi di DPR RI. Dan ini sangat mencengangkan bagi para pengamat Politik maupun kalangan politisi di luar NU. Jadi menelisik perjalanan perpolitikan NU, dapatlah disimpulkan bahwa kembali ke-Khittah bagi Nahdliyin adalah dalam rangka menjaga marwah politik warga NU agar tetap terjaga dan perkembangan keagamaan Islam ala ahlus sunnah wal jamaah an-Nahdliyah tetap terpelihara dengan baik.Wallahu a’lam. (*)

*)Penulis adalah Penganut setia NU, Kota Depok.

You may also read!

Ina 3 Tahun, Tajudin-Aulia 15 Bulan

BANDUNG – Akhirnya kasus rasuah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kelurahan Sukamaju, Cilodong finish. Rabu (19/9), Agustina Tri

Read More...

Satpol PP Kota Depok Tertibkan 71 Pedagang Liar Jalan Mawar

DEPOK – Sedikitnya 71 pedagang kaki lima (PKL) dan bangunan liar (Bangli), di belakang Pasar Depok Jaya dibongkar, kemarin.

Read More...

Petugas Kesehatan Se-Depok Dilatih Heat Plus

DEPOK – Petugas kesehatan di 35 Puskesmas se-Depok, dapat ilmu baru dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI). Ilmu

Read More...

Mobile Sliding Menu