Fenomena Kotak Amal dan Sumbangan di Kota Depok, Alamat Sama, Nama Yayasan Beda

In Utama
RUBIAKTO/RADAR DEPOK
TAK MENYEBARKAN KOTAK AMAL: Kondisi Yayasan Al Ahyar di Kampung Balandongan, RT03/RW03 Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang mengaku tidak menyebarkan sumbangan.

Adanya kotak amal atau sumbangan sangat membantu dan memudahkan bagi siapa pun yang ingin menyisihkan uangnya, bahkan sangat mudah ditemukan. Namun, tentu saja kita juga harus selalu hati-hati. Karena diduga masih banyak yang memanfaatkan aksi sosial tersebut, dan akhirnya tidak sampai kepada yang membutuhkan. 

Siang itu, di salah satu tempat makan di Kota Depok, awak media bertemu dengan seseorang yang membawa surat tugas untuk meminta sumbangan amal bagi sebuah yayasan. Di surat tersebut tertulis Yayasan Al-Ikhlas JPC beralamat di Kampung Balandongan RT003/RW003 Desa Ciherang Pondok Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Orang yang ditugaskan tersebut bernama Karyani dengan jabatan Relawan Penjemput Donasi. Bahkan di kop surat tercantum  nama Yayasan Al Ikhlas Madrasah Al Ali dan Ponpes Yatim Dhuafa.

Kami pun mencoba menelusuri keberadaan alamat tersebut. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan dari Kota Depok, kami tiba di Desa Ciherang Pondok. Kemudian menuju Yayasan Al Ikhlas sesuai alamat yang tertera di surat tugas tersebut. Tak jauh dari Jalan Raya Sukabumi, kami masuk gang sekitar 500 meter menuju Kampung Cigombong dan menemukan alamat yang dituju.

Tetapi, nama Yayasan Al Ikhlas yang tertera di kotak amal itu tidak ditemukan. Bahkan madrasah dan pesantren yang menjadi objek sumbangan juga tidak ditemukan. Di alamat tersebut, kami hanya menemukan yayasan dengan nama Al Ahyari, rumah tinggal bagi yatim piatu. Sedangkan tidak ada madrasah mau pun pesantren seperti yang disebutkan pada surat tugas itu yang dibawa orang itu.

Pengelola Yayasan Al Ahyari, Fajar Fredy mengaku, yayasan yang dikelola oleh keluarganya merupakan tempat singgah dan penginapan bagi yatim yang ada di lingkungannya.

“Di sini rumah tinggal bagi yatim piatu, tidak ada sekolah atau madrasah, kami rutin melaksanakan pengajian,” kata Fajar kepada Radar Depok.

Fajar melanjutkan, yayasan yang dikelolanya tidak menerima sumbangan seperti yang banyak beredar, dan tidak menyebarkan kotak sumbangan.

“Kami sama sekali tidak menyebar kotak amal buat sumbangan, tidak juga menyebar peminta sumbangan. Tapi jika memang ada donatur yang mau nyumbang, bisa bertemu pimpinan kami,” tegas Fajar.

Di sisi lain Fajar menyebutkan, sempat ada yang datang ke yayasan menanyakan perihal sumbangan yang beredar mengatasnamakan yayasan Al Ahyari. “Kami jelaskan memang tidak menyebar peminta sumbangan. Di sini hanya menggelar pengajian Kamis dan Minggu,” terang Fajar.

Fajar mengatakan, Yayasan Al Ahyari merupakan yayasan yang dibangun oleh keluarganya. “Ini yayasan bentukan keluarga, yang dipimpin kakak saya Saeful Hamdan, dan dibina oleh orang tua saya, H Abbas Hilmi,” kata Fajar. Bahkan menurutnya dia tidak mengenali relawan penjemput donasi yang tertera pada edaran sumbangan, Karyani yang beralamat di Kampung Cioray RT05/RW04 Kelurahan Sidamulya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

DICKY/RADAR DEPOK
SEPI: Rumah yang pernah digunakan Indonesia Malaria Care Foundation (IMCF) yang berada di Jalan Sadar Raya, RT02/RW02 Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa tampak sepi tidak ada aktivitas, Kamis (12/7).

Di hari berikutnya, kami juga mencoba menelusuri alamat rumah yatim yang tertera pada sebuah kotak amal. Tertulis alamat di kotak tersebut rumah yatim di wilayah Kemang Utara dan Ciganjur, Jakarta Selatan. Hampir satu jam perjalanan kami tiba di tempat yang dituju. Salah satu pegawai rumah yatim, Siti mengaku, pihaknya memang menyebarkan kotak amal di wilayah Jabodetabek. Dan telah dilakukan sejak 2015.

“Disebar, tapi kami punya mekanisme untuk kotak donasi. Penyebaran dilakukan melalui bagian fanding atau cancort,” ungkap Siti kepada Radar Depok, Kamis (12/7).

Ia melanjutkan, dulu pengumpulan donasi melalui kotak amal ditempatkan di rumah yatim Kemang Utara. Tetapi untuk meningkatkan pelayanan, kini dipindah ke Cawang Jakarta Timur. Tapi, mekanisme pengambilan kotak ia tidak mengetahui secara pasti. Namun sebelum menempatkan kotak tersebut seperti di minimarket, pihaknya telah bekerjasama dengan minimarket. Umumnya, minimarket akan menghubungi rumah yatim apabila sudah penuh terisi donasi.

Di rumah yatim tersebut, terdapat 6.500 anak yatim binaan dari seluruh Indonesia. Selain melakukan penyebaran kotak donasi, Rumah Yatim memiliki donasi tetap yang membantu anak yatim dan piatu. Dia berharap, dengan gerakan yang dilakukan Rumah Yatim dapat membantu anak yatim dan piatu untuk masa depan mereka. “Kami menginginkan anak yatim memiliki kehidupan lebih baik untuk masa depan mereka,” harap Siti.

Setelah dari rumah yatim Kemang, kami menuju Indonesia Malaria Care Fondation (IMCF) di Jalan Sadar Raya I No55, Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Untuk memastikan kembali Website milik IMCF. Setibanya di lokasi, Radar Depok melihat bangunan rumah yang dilapisi dua pagar tampak tidak berpenghuni. Tidak hanya itu, pagar juga dalam keadaan digembok. Tidak berpuas diri, Radar Depok berusaha menanyakan keberadaan IMCF kepada warga sekitar maupun pengurus lingkungan.

Salah seorang warga yang tinggal tidak jauh dari IMCF, Aam mengatakan, tidak mengetahui secara pasti keberadaan IMCF. Namun dirinya hanya mengetahui bahwa rumah No55 bergerak di bidang penyemprotan nyamuk dan kini sudah tidak ditempati. “Sudah lama kosong ada sekitar enam bulan,” ujar Aam kepada Radar Depok.

Aam mengungkapkan, penguhuni rumah tersebut jarang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Aam tidak dapat memastikan tempat tersebut dijadikan tempat IMCF bernaung, namun dia sempat melihat kendaraan bergambar nyamuk.

Sementara itu, Ketua RT02/RW02 Kelurahan Ciganjur, Zaeni (60) mengatakan, tidak mengetahui secara pasti rumah berpagar hitam dijadikan tempat IMCF. Dia hanya mengetahui rumah tersebut dijadikan tempat tinggal. “Waktu 2014 ada tiga orang yang datang untuk izin tinggal,” terang Zaeni.

Pria yang membuka usaha tidak jauh dari rumahnya tersebut membeberkan, sempat melihat lokasi rumah tersebut yang ditinggali sejumlah orang. Bahkan dulu mereka pernah meminta izin atau rekomendasi lingkungan guna pengurusan usaha yang akan dibangun. Dikarenkan rumah tinggal dijadikan tempat usaha, dia menolak karena menyalahi peraturan.

Tidak hanya itu saja, lanjut Zaeni untuk mengetahui lebih dalam, dia pernah meminta bantuan fogging kepada IMCF dan permintaan tersebut dikabulkan dengan melakukan fogging, tapi syaratnya bahan bakar ditanggung pihak lingkungan. Namun, setelah itu tidak ada komunikasi kembali antara dia dengan IMCF. “Tidak ada yang datang dan setelah itu kami tidak melihat pegawai IMCF. Mereka (IMCF) pergi pun tidak ada laporan dan hanya saat izin tinggal saja mereka melapor,” tutup Zaeni. (rub/dic)

You may also read!

Mediasi Aruba Gagal

DEPOK – Kisruh di perumahan Aruba Residence di Jalan Pemuda Pancoranmas, antara warga dan pengembang hingga saat ini masih

Read More...

Ribuan Santri Depok Long March Lima Kilometer

DEPOK – Ribuan santri Kota Depok mengikuti kirab santri dan melakukan long march sejauh lima kilometer, di Jalan Raya

Read More...

Walikota Depok Ajak Warga Sayangi Jantung

DEPOK – Salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia ialah jantung, yang menjadi pusatnya kehidupan. Untuk itu, Wali Kota

Read More...

Mobile Sliding Menu