Dikirimi Santet Saat Dakwah, Dilindungi Doa Ibu

In Metropolis
INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
SANTRIAWAN : Potret Kyai Robi Dongkal saat menjadi Santriawan di Banten

Setelah terjerumus ke lembah hitam, Kyai Robi Dongkal memutuskan untuk kembali merajut asanya dengan masuk ke sebuah Pesantren yang ada di Banten. Di sana dia memulai lembaran baru dalam hidupnya, dengan memperdalam ilmu agamanya. Selain itu dia juga kembali melanjutkan pendidikan formalnya di sebuah universitas di Banten.

LAPORAN : INDRA ABERTNEGO SIREGAR

Setelah lepas dari jerat Narkoba yang sempat merong–rong kehidupannya kala itu. Dia mendapat panggilan dari dalam dirinya untuk kembali menggapai cita–cita, yang sejak dulu impikan. “Setelah keluar dari jeruji besi, niat saya untuk masuk pesantren tumbuh lagi, dan orang tua saya mengijinkan saya,” ungkapnya.

Niatnya untuk menimba ilmu agama di pesantren bukan tanpa alasan. Keinginanya itu didasari minimnya keberadaan pemuka agama di kampungya yaitu Sukatani, Tapos. “Dulu di Sukatani belum ada ulama, adanya jawara. Makanya dulu dikenal sebagai kampung jawara,” ujarnya.

Debut pertamanya sebagai pendakwah dimulai ketika dia pulang ke Sukatani pada 2003, karena ayahandanya meninggal dunia. Sebelum meninggal, ayahhanda sudah mewakafkan sebuah tanah untuk dibangun menjadi musala. “Setelah musala jadi, saya mengisi kegiatan pengajian untuk anak–anak, remaja hingga kaum bapak di Sukatani,” katanya.

Pada 2004, dia juga mewujudkan gagasanya untuk membentuk Majelis Dzikir Forum Tausiyah Dzikir (Fortazi), yang kini jumlah jemaahnya  sudah tersebar di 58 masjid dan musala di Kecamatan Tapos. “Tahun 2004 saya juga membuat pesantren salaf khusus kitab kuning untuk anak–anak yang baru belajar agama bernama  Ponpes Assalafiyah AD-Donggala,” sambungnya.

Dia menambahkan, pengalamanya mendakwah tak semulus pemikiran masyarakat pada umumnya. Walau hanya menyebarkan kebaikan yang tertuang dalam Al-Quran, dia juga pernah mendapat gangguan gaib dari orang yang tidak suka dengan dakwahnya.

Pada tahun  2006 selesai wirid dia tidur diatas sajadah. Lalu tiba–tiba ada sebentuk bola api masuk ke dalam kamar, lantas masuk ke tubuhnya. Kejadian tersebut membuat dia terpental sampai tiga meter. “Ibu saya sampai teriak pada saat itu. Beruntung, setelah lulus pesantren guru saya member ilmu pengkal serangan gaib tersebut, sehingga saya bisa mengobatinya sendiri,” terangnnya.

Tidak cukup sampai di situ, pada tahun 2014, pada saat dia sedang memberikan ceramah kepada jemaahnya. Lagi–lagi dia mendapatkan gangguan gaib yang diduga kuat olehnya sebagai santet.

“Saya merasa beruntung memiliki ibu yang selalu melindungi saya dengan doa–doanya. Saya ingat pada saat saya pesantren di banten, ibu saya selalu berpuasa hingga saya pulang ke Sukatani,” tuturnya.

Beruntung, saat ini sudah tidak pernah lagi dia merasa mendapat serangan – serangan gaib dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga dia dapat terus melakukan dakwahnya dan berbagi kebaikan terhadap umat muslim di sekitarnya.

“ Alhamdulilah saya selalu mendapat perlindungan dari Allah,” katanya. (bersambung)

You may also read!

Jalan Santai Isi HUT RI di Depok

DEPOK – Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Republik Indonesia, warga RT08/10, Kelurahan Mekarjaya, Sukmajaya, menggelar kegiatan

Read More...

Brigif 17 Upacara Bareng Warga depok

DEPOK – Brigif Para Raider 17/1 Kostrad menggelar upacara kemerdekaan bersama ratusan masyarakat dan Muspika Kecamatan Cimanggis dan Polri.

Read More...

Junjung Nilai Perjuangan dengan Lomba

DEPOK – Menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan para pahlawan dapat dilakukan dengan bermacam cara. Warga RT05/01, Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya, melakukannya

Read More...

Mobile Sliding Menu