Piala Dunia dan Keteladanan PSSI

In Ruang Publik
FOTO: Drs. Supartono, M.Pd, Pengamat Sepakbola Nasional

Oleh: Drs. Supartono, M.Pd*) 

Buah dari rasa memiliki itu, peduli.

(Supartono JW.162018)

Kompetisi Liga 1, mulai Minggu, 10 Juni 2018 mulai jeda. Semetara Piala Dunia sudah di depan mata, tinggal hitungan waktu akan berlaga tim-tim hebat mancanegara.

Sementara bagi sepakbola nasional, inilah saatnya seluruh stakeholder  persepakbolaan nasional untuk dapat instrospeksi dan merefleksi diri, terlebih  Bulan ramadhan yang penuh berkah, seharusnya menjadi wahana semua stakeholder sepakbola nasional untuk mendapatkan keberkahan dan kebaikan.

Saat negara kontestan Piala Dunia edisi ke-21 sibuk dengan persiapan menuju gengsi dan prestasi, sepakbola nasional masih berkutat dengan polemik dan polemik yang tak pernah habis. Padahal, Organisasi yang menaunginya usianya kini sudah 88 tahun, lebih tua dari usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seusia Piala Dunia yang lahir pada 18 Juli 1930. PSSI dan Piala Dunia hanya berbeda umur tiga bulan.

Catatan-catatan sepakbola nasional yang terus berpolemik, bila dicatat sejak PSSI lahir hingga kini, mungkin bila saya satukan, sudah ada berapa edisi buku yang dapat dicetak, dengan judul utama “Dinamisnya Polemik Sepakbola Nasional”.

Namun, tidak usah terlalu jauh mundur ke belakang, coba kita tengok catatan sejak PSSI dikomando oleh Edy Rahmayadi saja dulu. Sudah ada berapa model polemik yang terus menguras pikiran dan emosi publik sepakbola nasional, yang sangat bermimpi sepakbola nasional berprestasi hingga mentas di Piala Dunia.

Di Piala Dunia Edisi ke-3 tahun 1938, tim Indonesia yang saat itu bernama Hinda Belanda memang menjadi satu-satunya wakil Asia. Sayang, dengan sistem gugur, Tim Hindia Belanda yang lolos kualifiaksi Asia tanpa melakukan pertandingan karena lawannya Jepang mundur sebab sedang berperang dengan Cina, langsung gugur di bantai Hongaria 6-0.

Kini puluhan tahun setalh 1938, sejak tahun 2017 banyak pengamat sepakbola nasional menyebut bahwa sepakbola nasional sudah dianggap sebagai industri. Namun, melalui ajang kompetisi kasta tertinggi Liga 1, persoalan Liga tak pernah surut menuai masalah. Masalah di operator Liga, masalah di     Komdis PSSI, masalah pada klub, masalah pada pelatih dan ofisial, masalah pada pemain, masalah pada suporter dan etikanya hingga masalah pada sponsor, masalah izin kepolisian, dan masalah pada stakeholder terkait lainnya. Semua yang terkait dalam kompetisi Liga 1 seolah menjadi irama yang menyatu  dalam mengiringi semua probelmatika.

Dalam keorganiasasian, PSSI sebagai satu-satunya wadah resmi sepakbola nasional, benar-benar berjalan sesuai arahnya sendiri dengan berpegang pada statuta. Publik tak pernah tahu, road map PSSI, publik tidak dapat membaca sebenarnya apa grand design PSSI untuk arah dan tujuan sepakbola nasional. PSSI kini, lebih terkesan arogan dan tak peduli dengan suara publik sebagai pendukung utama dan objek dari industri sepakbola nasional. Terlebih saat Ketua Umum sedang cuti demi Pilkada.

PSSI bekerjasama dengan Jepang menyoal wasit, PSSI bekerja sama dengan Jerman, masalah pembinaan karakter, namun rancangan program yang membela kedudukan Asprov, Askab, dan Askot agar tak mati suri, jauh dari panggang. Hasilnya, pembinaan sepakbola nasional di kelompok akar rumput terus meradang bahkan jadi lahan rebutan kelompok swasta, karena dibiarkan oleh PSSI.

Semetara menyoal prestasi timnas, berdasarakan rilis terbaru FIFA, Per Kamis (7/6/2018), ranking Indonesia tidak beranjak, masih ajek berada di peringkat ke-164 dengan total poin 111. Di Asia Tenggara tetap di urutan kelima setelah Vietnam (102), Filipina (115), Thailand (122), dan Myanmar (138).

Pasalnya, PSSI lebih fokus pada persiapan timnas U-16, U-19, U-23, dan timnas wanita yang di tahun 2018 harus terjun ajang Piala AFF, Piala Asia, dan Asian Games. Padahal untuk mendulang poin menaikkan rangking, timnas seniorlah yang harus memainkan laga resmi FIFA baik partai uji coba maupun turnamen lainnya.

Sayang, untuk perisapan timnas pun, terutama U-23, hingga kini Sang pelatih masih gemar bongkar pasang pemain dan belum menemukan kerangka tim terbaik sesuai ekspetasi publik sepakbola nasional, padahal pendaftaran pemain untuk Asean Games akan ditutup pada tanggal 30 Juni 2018.

Dengan kondisi seperti ini, sebagai organsiasi tertinggi, apa yang seharusnya dilakukan oleh PSSI dalam menyikapi semua persoalan? Haruskah negara ikut campur tangan lagi ke dalam sepakbola nasional?

Antar-suporter tak henti rusuh, antar pemain tak henti berselisih, keputusan wasit gemar menuai kontroversi, klub saling banding ke Komdis PSSI, Komdis sendiri terus melakukan sidang yang hasilnya dianggap tidak adil, blunder. PSSI diam terhadap soal wasit.

Rasa memiliki yang kelebihan

Sebenarnya, bila ditelisik, akar masalah mengapa sepakbola nasional terus bermasalah dan secara dinamis persoalan-persoalan terus menggelinding bak bola salju, yang siap menggulung siapa saja yang ada dihadapannya, cukup sederhana, yaitu pada persoalan “rasa memiliki.”

Rasa memiliki (sense of belonging) memang diperlukan. Namun rasa memiliki yang berlebihan terhadap sesuatu dapat mengaburkan arti rasa memiliki secara keseluruhan. Membiarkan seseoarang tidak terkendali dalam satu posisi, akan membuka peluang korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang merupakan musuh utama dari suatu sistem pengendalian. Artinya, sebaik dan sekuat apapun sistemnya, akan menjadi tidak berarti bila  pelaku yang mengendalikan sistem tersebut tetap terlibat KKN.

Penggawa-penggawa yang kini menakodai PSSI, sangat terlihat jelas aji mumpung. Mumpung sekarang mereka yang menjabat sebagai pengurus, maka segala yang mereka lakukan untuk sepakbola nasional, merekalah sendiri yang menentukan dan menjalankan tanpa memedulikan kepentingan publik. Buntutnya, segala persoalan yang mengemuka di sepakbola nasional khususnya terkait Liga 1, PSSI lewat Komdis justru hanya sangat gemar menghukum dan mendenda.

Tidak peduli apakah yang dianggap melanggar itu klub, ofisial dan pelatih, pemain, hingga suporter, semua tidak pandang bulu terkena jerat hukum dan dijatuhi denda. Lalu, dalam faktanya, ternyata ada klub, ofisial dan pelatih, pemain, hingga suporter.

Sementara yang menjadi pertanyaan publik, selama ini, PSSI justru tak pernah melakukan pembinaan terhadap klub, ofisial dan pelatih, pemain, hingga suporter secara terprogram. PSSI lewat Komdisnya hanya selalu menerima laporan dan laporan pelanggaran, lalu menyidangkan dengan bukti yang bisa jadi kurang objektif, lalu menjatuhkan hukuman dan denda.

Apa yang dilakukan PSSI sekarang, sungguh tidak sejalan dengan amanah pendirian PSSI sejak 19 April 1930. PSSI yang awalnya singkatan dari Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia, dijadikan wadah bagi pemuda-pemuda seantero Tanah Air untuk melakukan perlawanan menghadapi penjajah Belanda lewat medium sepak bola. Tokoh muda, Ir Soeratin Sosrosoegondo, berperan besar di awal masa berdirinya PSSI. Sebagai pemuda yang gemar bermain sepak bola, Soeratin melihat bahwa organisasi sepak bola menjadi medium yang pas untuk mendorong pergerakan Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928. Bal-balan menjadi olahraga yang amat populer saat itu.

Sangat jelas, lahirnya PSSI adalah semangat rasa memiliki tanah air, sehingga lahir untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Kini rasa memiliki itu telah bergeser kepada rasa memiliki organisasi PSSI, sehingga mumpung sedang menjadi pengurus, maka apapun yang dilakukan tetap atas nama pedoman statuta, namun ada taktik, intrik, dan politik di dalamnya.

Rasa memiliki berlebih oleh pengurus PSSI kepada organiasasi PSSI inipun ditiru mentah-mentah oleh klub, ofisial dan pelatih, pemain, suporter, sehingga bila ada kejadian yang merugikan mereka, merekapun tidak mau semena-mena di hukum dan didenda, meski ada kejadian yang benar harus dihukum dan didenda, pun ada yang seharusnya tidak dihukum dan didenda.

Jadi, sekarang sangat jelas, kunci dan akar masalah dari problematika-probelmatika di sepakbola nasional termasuk persoalan timnas, sumbernya adalah di PSSI sendiri yang hingga kini belum dapat menjadi contoh bagi  klub, ofisial dan pelatih, pemain, suporter, hingga seluruh publik sepakbola nasional.

Bila PSSI telah dapat meneladani semua aspek di persepakbolaan nasional, maka yakin, satu-persatu probelmatika sepakbola nasional akan terurai. Tidak mungkin suporter terus bentrok, pemian terus bermasalah, klub dan ofisial.pelatih terus meradang. Tidak mungkin pula publik sepakbola nasional terus kecewa atas kinerja pelatih di timnas. Dan ujungnya yakin, akan ada pembinaan dan kompetisi sepakbola nasional secara berjejang dan berkesinambungan.

Hasilnya timnas berpretasi. Satu hal positif Luis Milla yang terus terpublikasi, Milla tidak akan memasang pemain di dalam timnas yang kurang memiliki jam terbang bertanding di dalam kompetisi. Ilmu inilah yang  perlu diteladani oleh seluruh pelatih di Indonesia. Ayo Milla berikan keteladanan lainnya. PSSI, mulailah memberikan teladan yang baik, karena buah dari rasa memiliki itu adalah peduli. Peduli untuk membela kepentingan publik dan stakeholder sepakbola nasional, bukan peduli pada diri sendiri, tindakan sendiri!

 

Piala Dunia edisi ke-21 Rusia 2018 sudah tinggal hitungan jam bergulir, bila PSSI tidak bisa diteladani, siapa lagi yang dapat mengantar Timnas bergabung di Piala Dunia  edisi-edisi mendatang? Haruskah ada reformasi PSSI? (*)

*)Pengamat Sepakbola Nasional, Pengamat Pendidikan Nasional

You may also read!

Mediasi Aruba Gagal

DEPOK – Kisruh di perumahan Aruba Residence di Jalan Pemuda Pancoranmas, antara warga dan pengembang hingga saat ini masih

Read More...

Ribuan Santri Depok Long March Lima Kilometer

DEPOK – Ribuan santri Kota Depok mengikuti kirab santri dan melakukan long march sejauh lima kilometer, di Jalan Raya

Read More...

Walikota Depok Ajak Warga Sayangi Jantung

DEPOK – Salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia ialah jantung, yang menjadi pusatnya kehidupan. Untuk itu, Wali Kota

Read More...

Mobile Sliding Menu