Serigala Margonda Bangkit

In Utama
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
DIPERKENALKAN: Tim pelatih klub Persikad 1999 yang baru diperkenalkan saat berada di Lapangan Merpati, Jalan Gelatik Raya, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoranmas, kemarin.

DEPOK – Kota Depok puasa hiburan selama beberapa tahun ini. Tim kebangaan yang pernah ada : Persikad harus bergeser ke Bogor. Ya, dengan nama Bogor FC, saham Persikad jadi milik kota hujan. Namun, dalam perjalanannya Persikad fans tidak murung dan legawa. Para fans Serigala Margonda ini malah mencetuskan membuat tim baru.  Berawal dari delapan fans dimana didalamnya ada Yogi, eko, indra comot dan beberapa kawan lainnya, berkeinginan mendirikan klub yang orientasinya bagaimana menjadi suporter yang cerdas.

Februari 2018 lalu delapan fans mulai mengumpulkan dana dari 150 suporter. Persikad 1999 diharuskan oleh PSSI untuk membentuk PT, dan akhirnya dibuatlah nama PT Persikad Sembilan Sembilan. Untuk saham PT Persikad Sembilan Sembilan dibagi menjadi empat bagian yaitu 70% dipegang Koperasi, 10%  oleh Ketua Persikad 1999, Yogi dan 10% Marpaung dan 10% Rudi Siahaan.

Dari 150 suporter berhasil terkumpul dana Rp30 juta dimana perorang Rp200 ribu. Lalu dari situ membentuk Koperasi yang diberi nama KOPERASIKU dan terdiri dari 150 anggota khusus dan 250 anggota biasa. Koperasi ini dibuat agar Persikad 1999 menjadi milik masyarakat, dan bisa terhindar dari orang-orang berkepentingan. Koperasi terbentuk murni dari masyarakat yang peduli dengan sepakbola tanpa kepentingan politik sedikitpun.

“Kami tetap menggunakan nama Persikad, karena bagaimanapun juga, itu semangat sepak bola Depok, ditambah 1999 merupakan tahun kelahiran Kota Depok,” ujar Ketua Persikad 1999, Yogi Kurniawan kepada Harian Radar Depok.

Koperasiku ini atau Koperasi PFCS terbuka untuk umum. Masyakarat yang mendaftar cukup membayar Rp35 ribu. Dengan rincian Rp25 ribu untuk pembuatan KTA, dan Rp10 ribu untuk iuran bulan pertama.

Dari dana tersebut, akan jadi penggerak Persikad Corner penyediaan beras Persikad dari Cianjur, Tapos atau Sukabumi. Bisa dijadikan pemasukan dana operasional tim dan juga rencananya untuk membuat museum Persikad di Stadion Merpati. Nantinya Stadion Merpati dijadikan homebase selayaknya.

“Jadi dana awal dibentuklah PT baru kemudian koperasi dan museum rencana kedepan,” ungkapnya.

Menurutnya, perjalanan pembentukan Persikad 1999 ini merupakan perjuangan dari suporter, yang dulunya bernama Ultras Depok yang sekarang menjadi Persikad Fans Curva SUD. Men jadi suporter itu adalah pilihan hidup, menjadi suporter itu bukan untuk gaya semata namun pilihan serius dijalanin. Oleh karena itu berdasarkan prinsip tadi, maka terbentuklah sejak Februari 2018 dan kemudian Maret 2018 dibuat PT barulah April 2018 koperasi juga terbentuk.

“Prosesnya kita jalani serius, alhamdulilah sebulan berjalan bisa terbentuk semua satu persatu,” tuturnya.

Yogi yang sudah mendukung Persikad sejak 2002 terus dan akan berjuang untuk Persikad 1999 ini. Dengan dibentuknya Persikad 1999, dia bersama tim lainnya ingin merubah citra bola di Depok yang indentik dengan anarkis menjadi nyaman dan aman. Lalu ada peluang finansial besar di industri sepak bola, jika dikelola dengan benar bisa mandiri tanpa bergantung ke APBD Kota Depok.

Saat ini kerangka tim untuk Persikad 1999 sudah ada. Semuanya diambil dari pemain-pemain hasil bidikan di laga-laga yang ada di 11 Kecamatan di Depok. Dalam mencari pemain Persikad 1999 ini persyaratannya yaitu, orang Depok yang memang memiliki rasa atas Persikad dan ingin memajukan persepakbolaan di Depok. Untuk seleksinya akan dilakukan Juli 2018 dan Agustus/September 2018 akan mengadakan tropheo. Sedangkan untuk pengenalan Head Coach dan tim manajerial baru saja dilaksanakan, Minggu (27/5).

“Pelatih dan pemain sementara saat ini sepakat tanpa digaji namun ada uang saku sekadarnya. dan di kontrak 3 musim. Bahkan tim Manajerial tidak gaji sama sekali,” bebernya.

Sementara, Pelatih Persikad 1999, Bachtiar Ibrahim berharap persikad baru dapat membawa kebanggan terhadap masyarakat Kota Depok. Setelah menandatangani kontrak dengan managemen Persikad 1999, pihaknya mengaku sedang mempersiapkan tim pelatih untuk kemudian menseleksi pemain yang akan membela Persikad 1999.  “Kita tinggal melakukan penentuan tim pelatih, untuk kemudian melakukan seleksi kepada pemain Persikad 1999,” kata Bachtiar.
Dia mengatakan, memiliki waktu satu tahun untuk mematangkan materi pemain yang ada di Persikad 1999. “Saya dipercaya untuk mengayomi Persikad 1999, dan kita kedepan akan mencari pemain yang berkualitas berpotensi dan teknik individu yang baik,” kata Bactiar.
Menurutnya, dia ingin merakit kembali Persikad agar dicintai masyarakat Depok, dalam proses seleksi dia juga mengatakan akan memilih pemain yang terbaik untuk kebutuhan tim. “Tiga minggu seletah lebaran kita akan mulai seleksi, dan dalam seleksi tersebut tidak ada KKN, dan seleksi berjalan transparan,” terang Bachtiar.

Adanya gerakan tersebut, kata Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna, memang membutuhkan klub sepakbola profesional yang dapat membawa harum nama Kota Depok di daerah lain. Bahkan, hingga ke level nasional.

Tidak hanya menjadi ajang untuk memotivasi bibit-bibit muda berbakat yang nantinya dapat bersaing, dan masuk skuad klub sepakbola profesional yang dimiliki warga Depok.

“Jadi untuk memotivasi mereka dalam berlatih. Kan sayang, orang Depok, latihannya di Depok, tapi begitu jadi atlet profesional membela klub sepakbola dari negara lain,” kata Pradi.

Selain itu, adanya klub sepakbola profesional juga menjadi suatu oasis yang dapat menyejukan dahaga warga Depok yang hobi dan menjadi pencinta sepakbola. Sebab, tidak dapat dipungkiri, sepakbola menjadi olahraga yang paling digandrungi di dunia.

“Di Depok pun banyak open turnamen yang digelar. Bahkan, sampai mendatangkan pesepakbola top tanah air. Sepakbola sejatinya menjadi hiburan rakyat yang sangat diminati. Kalau ada klub lokal, tentu akan sangat baik,” terangnya.

Depok sendiri memiliki klub sepakbola profesional. Pasca adanya aturan tidak memperbolehkan intervensi APBD untuk membiayai klub sepakbola profesional, klub tersebut terseok-seok dan hanya mengandalkan dari donatur. Tetapi, sebelumnya pun keberadaannya seperti hidup segan dan mati tak mau.

“Hanya orang-orang yang peduli akan Persikad yang mendorong agar klub itu bertahan. Kalau APBD tidak boleh lagi digunakan untuk membiayai klub sepakbola profesional. Pasal 1 angka 15 UU Sistem Keolahragaan Nasional mendefinisikan cabang olahraga profesional sebagai olahraga yang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain yang didasarkan atas kemahiran berolahraga. Sampai tahun 2012 lalu klub-klub masih menggunakan dana APBD untuk membiayai kehidupannya,” terangnya.

Saat ini pun, lanjut Pradi, telah dibentuk Persikad 1999. segala legalitasnya tengah dirampungkan. Ia berharap agar dicarikan formula yang pas dan tidak berbenturan dengan aturan per Undang-undangan untuk menggerakan klub tersebut. “Saya pribadi tidak tinggal diam untuk ini. Memang Depok perlu klub profesional yang nantinya dapat mengangkat nama Kota Depok,” ujar Pradi.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Yeti Wulandari mengatakan, banyak bibit-bibit di Kota Depok. Bahkan, banyak atlet nasional yang berasal dari Kota Sejuta Belimbing.

Menurutnya, akan disayangkan, ketika bibit-bibit tersebut berkembang tetapi tidak ada tujuan yang ingin digapai untuk level kota sendiri.

“Jika orang berlatih, tentu ada goal yang ingin dicapai. Jika mereka berlatih sepakbola sejak dini di SSB, muaranya kan klub sepakbola profesional. Jika mereka orang Depok, yang seharusnya ada klub sepakbola profesional di Depok untuk mewadahi mereka,” kata Yeti.

Padahal, olahraga yang diterima seluruh lapisan masyarakat, dapat dimainkan dalam kondisi panas, hujan dan apapun, adalah sepakbola. “Merupakan olahraga yang populer di dunia,” paparnya.

Ia berharap, potensi-potensi tersebut dapat ditingkatkan kembali. Terlebih, sambung Yeti, Stadion Merpati sudah dilakukan renovasi. “Menang sangat disayangkan ketika fasilitasnya tengah diperbaiki, tetapi wadahnya tidak ada,” harap Yeti.

Memang, permasalahan sepakbola tanah air tidak terlepas dari politisasi, ini lah yang membuat olahraga sepakbola di Indonesia tidak bisa maju. “Itu mungkin sama lah permasalahannya seperti di Depok dan kota-kota lain,” ucap Yeti.(mg2/ina/rub/cky)

You may also read!

Berpikir Cerdas Sebelum Berujar

Pengamat Pendidikan nasional dan Sosial Oleh Drs. Supartono, M.Pd. Kendati Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) telah memakan

Read More...

BPJS Kesehatan Gencar Sosialisasi

  Terjun Langsung ke Masyarakat DEPOK – Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat

Read More...

Sukma Food Launching Lima Gerai

  DEPOK – Sukma Food yang berada di wilayah Kecamatan Sukmajaya kemarin (14/2) secara serentak meresmikan lima gerai. Adapun

Read More...

Mobile Sliding Menu